IHSG Jeblok 3,31% dalam Sehari, Kapitalisasi Pasar Terkikis Drastis
JAKARTA, BursaNusantara.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan terbesar sepanjang tahun 2025! Pada perdagangan Jumat (28/2), IHSG terjun bebas 3,31% atau turun 214,85 poin ke level 6.270,59, sekaligus menandai titik terendah pasca pandemi Covid-19 mereda.
Akibatnya, kapitalisasi pasar IHSG merosot menjadi Rp 10.880 triliun (US$ 656 miliar). Investor asing pun tak ketinggalan melakukan aksi jual besar-besaran, mencatatkan net sell sebesar Rp 2,91 triliun (US$ 175,57 juta) dalam sehari.
Menurut data historis, IHSG sudah terkoreksi 4,10% dalam tiga tahun terakhir, menandakan pasar saham Indonesia terus menghadapi tekanan berat.
Sentimen Global: Trump 2.0 dan The Fed Perparah Kondisi Pasar
1. Efek Donald Trump 2.0: Perang Dagang Kembali Memanas
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menggemparkan dunia dengan kebijakan tarifnya yang agresif. Trump memberlakukan tarif impor baru terhadap China dan negara-negara mitra dagang utama AS, memicu kepanikan pasar global. Investor asing memilih menarik dana mereka dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena risiko yang meningkat.
2. The Fed Pertahankan Suku Bunga Tinggi
Kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (“higher for longer”) juga memberikan tekanan besar. Investor kini lebih memilih aset berisiko rendah seperti obligasi AS, yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibanding saham di negara berkembang.
Faktor Domestik: Rupiah Anjlok ke Level Terburuk Sejak 1998
Selain tekanan eksternal, fundamental ekonomi domestik juga membebani IHSG. Salah satu faktor utama adalah anjloknya nilai tukar rupiah.
Pada Jumat (28/2), rupiah spot ditutup di level Rp 16.596 per dolar AS, turun 0,86% dalam sehari. Ini merupakan level terendah sejak Juni 1998, ketika Indonesia mengalami krisis moneter.
Pelemahan rupiah yang begitu dalam menyebabkan investor semakin khawatir terhadap prospek ekonomi Indonesia, sehingga mereka memilih keluar dari pasar saham.
Morgan Stanley Turunkan Peringkat MSCI Indonesia, Investor Makin Panik
Faktor lain yang memperparah penurunan IHSG adalah keputusan Morgan Stanley menurunkan peringkat indeks MSCI Indonesia dari equal-weight menjadi underweight. Ini menandakan bahwa Indonesia dipandang kurang menarik bagi investor institusi global, sehingga banyak dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia.
Kinerja Emiten Mengecewakan, Pasar Semakin Tertekan
Selain faktor eksternal, laporan keuangan emiten yang di bawah ekspektasi juga menjadi pemicu kejatuhan IHSG. Menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, banyak emiten yang telah merilis laporan keuangan tahun buku 2024, tetapi kinerjanya jauh di bawah konsensus.
“Walaupun indeks turun, tetapi transaksinya naik karena investor asing masih net sell sepanjang tahun berjalan ini,” kata Iman dalam paparan Jumat (28/2).
Secara year to date (ytd), rata-rata nilai transaksi IHSG mencapai Rp 11,6 triliun, dengan volume transaksi harian mencapai 18,56 juta lot.
Buyback Saham Jadi Opsi, Akankah Selamatkan IHSG?
Menghadapi tekanan yang semakin besar, BEI kini tengah mempertimbangkan kebijakan buyback saham sebagai solusi untuk menstabilkan pasar.
Menurut Iman, buyback bisa menjadi sinyal kepercayaan diri bagi investor bahwa harga saham saat ini masih undervalue. Beberapa perusahaan sudah mengajukan rencana buyback yang akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dalam waktu dekat.
Investor Asing Tinggalkan Pasar, Siapa yang Bisa Menahan Gempuran?
Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, menyoroti tidak adanya market maker yang mampu menahan aksi jual asing di saham-saham big caps.
“Institusi domestik juga tidak menambah porsi investasinya di saham. Daya beli saham anjlok karena hanya investor ritel yang bertransaksi, sehingga tidak kuat menahan gempuran jual asing,” jelas Budi.
Sementara itu, Direktur Infovesta Utama, Parto Kawito, mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia dipandang kurang menarik dibanding negara lain. Ini terlihat dari penurunan Return on Equity (ROE), laba bersih, dan pendapatan emiten.
“Industri manufaktur yang seharusnya bisa mengangkat ekonomi malah melemah. UMKM tidak mampu memberikan gaji besar, daya beli masyarakat turun, dan prospek ekonomi dalam negeri memburuk,” ujar Parto.
Strategi Pemerintah: Perlu Perubahan Regulasi untuk Tarik Investor Asing
Untuk memperbaiki situasi, Parto menyarankan pemerintah harus lebih fleksibel dalam menetapkan aturan agar bisa menarik kembali investor asing.
“Kalau pemerintah tetap kaku dan kurang menarik, maka investor asing akan terus keluar. Pemerintah perlu berbenah agar kompetitif,” kata Parto.
Co-Founder PasaRDana, Hans Kwee, menambahkan bahwa pemerintah harus lebih proaktif dalam membuat kebijakan yang mendukung pasar.
“Jangan sampai kebijakan seperti gas 3 kg yang membebani ekonomi kelas bawah terulang kembali. Pemerintah juga perlu memperbaiki citra agar kepercayaan investor asing kembali,” ujar Hans.
IHSG di Persimpangan Jalan, Apa Langkah Selanjutnya?
IHSG menghadapi tantangan berat dari kombinasi sentimen global dan domestik. Dari faktor eksternal, perang dagang Trump 2.0 dan kebijakan The Fed yang hawkish semakin memperparah situasi. Dari dalam negeri, pelemahan rupiah, turunnya peringkat MSCI Indonesia, serta kinerja buruk emiten menambah tekanan.
Jika pemerintah dan BEI tidak segera mengambil langkah tegas, bukan tidak mungkin IHSG bisa kembali turun lebih dalam. Sementara itu, bagi investor, strategi investasi yang lebih hati-hati menjadi kunci menghadapi ketidakpastian pasar saat ini.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












