IHSG Berpotensi Terkoreksi, AUTO dan 4 Saham Jadi Andalan
JAKARTA, BursaNusantara.com – Tekanan eksternal yang semakin meningkat membuat laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada dalam bayang-bayang koreksi sepanjang pekan ini.
Phintraco Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG berada di rentang support 6.820, pivot 7.000, dan resistance 7.100.
Skenario teknikal tersebut memperlihatkan potensi penurunan lanjutan IHSG untuk menguji level-level krusial dalam jangka pendek.
Rekomendasi saham dari Phintraco Sekuritas mengarah pada lima emiten yang dinilai memiliki peluang kenaikan signifikan meski pasar dalam tekanan.
AUTO masuk dalam radar utama bersama IDX:GJTL, IDX:MAPA, IDX:ERAA, dan IDX:BTPS yang disebut masih menunjukkan kekuatan relatif terhadap indeks.
Ketegangan Geopolitik Semakin Memanas
Kinerja indeks utama Wall Street yang cenderung datar menunjukkan kegelisahan pasar terhadap faktor eksternal yang belum mereda.
Fokus utama investor global saat ini tertuju pada meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang dipicu keputusan Amerika Serikat.
Pada Sabtu (21/6/2025), AS resmi menggempur tiga fasilitas nuklir Iran sebagai bagian dari keterlibatannya dalam konflik Israel-Iran.
Langkah ofensif tersebut menyusul pernyataan Presiden Trump akhir pekan lalu yang sempat memberi sinyal akan menunggu dua pekan sebelum aksi militer.
Situasi ini memberi tekanan besar pada ekspektasi ekonomi global karena berpotensi meningkatkan harga energi secara tajam.
Jika harga minyak naik signifikan, efek domino terhadap inflasi dunia akan sulit dihindari dan menyulitkan arah kebijakan moneter.
Dampak Langsung ke Pasar Saham Global
Sektor semikonduktor mengalami tekanan besar pada perdagangan Jumat (20/6) seiring wacana pencabutan keringanan perdagangan oleh AS.
Ketidakpastian atas nasib beberapa perusahaan chip besar memicu koreksi tajam dan menambah tekanan pada indeks Nasdaq.
Kombinasi antara geopolitik dan potensi proteksionisme AS memperburuk sentimen pasar yang sebelumnya sudah rentan.
Investor global kini makin berhati-hati dalam menilai risiko ekonomi lanjutan dari konflik dan kebijakan perdagangan tersebut.
Dampak ini turut terasa ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang kian sensitif terhadap pergerakan eksternal.
Suku Bunga dan Inflasi Jadi Dilema Bank Sentral
Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa kenaikan harga energi dapat memicu inflasi yang menghambat pelonggaran moneter.
Bank sentral besar seperti The Fed, ECB, dan BOJ bisa menunda atau membatalkan rencana penurunan suku bunga karena tekanan inflasi.
Padahal, kebutuhan stimulus ekonomi saat ini makin mendesak di tengah lemahnya daya beli dan ekspansi industri global.
Ketegangan geopolitik menjebak bank sentral dalam dilema antara menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pasar akan mencermati pidato Chairman The Fed dan rilis data ekonomi seperti PCE prices serta indeks PMI dari AS, Euro Area, dan Jepang.
Sentimen Domestik Ikut Berkontribusi
Tidak hanya eksternal, kondisi dalam negeri juga menambah tekanan terhadap IHSG yang sudah tertekan sejak pekan lalu.
Phintraco Sekuritas menilai risiko dari potensi kenaikan harga energi di dalam negeri serta lonjakan tarif impor AS turut menambah beban pasar.
Kondisi teknikal IHSG sendiri menunjukkan kecenderungan pelemahan yang belum menemukan titik pantul yang kuat.
Dengan berbagai ketidakpastian tersebut, IHSG diproyeksikan kembali menguji support di kisaran 6.820–6.850.
Investor disarankan tetap waspada dan selektif dalam memilih saham yang memiliki katalis positif dan kekuatan fundamental.
Lima Saham Potensial Jadi Peluang
Di tengah tekanan yang ada, Phintraco Sekuritas tetap melihat peluang pada lima saham pilihan yang dianggap mampu bertahan.
AUTO dipandang memiliki prospek kuat berkat kinerja fundamental dan ekspektasi pertumbuhan sektor otomotif yang positif.
GJTL mencatatkan peningkatan permintaan ekspor ban yang menopang kinerjanya di tengah fluktuasi pasar domestik.
MAPA diuntungkan dari tren belanja masyarakat kelas menengah yang masih bertahan stabil di segmen fashion dan lifestyle.
ERAA memanfaatkan momentum digitalisasi dan peningkatan penjualan online untuk mempertahankan profitabilitasnya.
BTPS tetap menjadi pilihan di sektor keuangan karena fokus pada pembiayaan mikro yang lebih tahan terhadap fluktuasi makro.
Kelima saham tersebut direkomendasikan bagi investor dengan orientasi jangka menengah di tengah tren pasar yang tidak pasti.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










