Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

IHSG Terkoreksi 7,91%, Boy Thohir: Saatnya Investor Ritel Borong Saham Murah

259
×

IHSG Terkoreksi 7,91%, Boy Thohir: Saatnya Investor Ritel Borong Saham Murah

Sebarkan artikel ini
IHSG Terkoreksi 7,91%, Boy Thohir Saatnya Investor Ritel Borong Saham Murah
IHSG terkoreksi 7,91% sejak awal tahun. Boy Thohir menilai ini sebagai peluang bagi investor ritel untuk membeli saham bagus dengan harga diskon.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan signifikan sejak awal tahun 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mengalami koreksi sebesar 7,91% sepanjang tahun berjalan.

Namun, Garibaldi ‘Boy’ Thohir, pimpinan Grup Adaro, justru melihat kondisi ini sebagai kesempatan emas bagi investor ritel untuk memborong saham berkualitas dengan harga murah.

Sponsor
Iklan

Koreksi IHSG dan Peluang Investasi

Pada akhir perdagangan Senin (3/3), IHSG tercatat berada di level 6.519,65, mengalami penguatan 3,97% dibandingkan penutupan sebelumnya. Kendati demikian, tren koreksi masih terlihat jelas dalam pergerakan pasar sejak awal tahun.

Menurut Boy Thohir, penurunan harga saham tidak mencerminkan melemahnya fundamental perusahaan. Justru, banyak emiten yang memiliki fundamental kuat tetapi sahamnya terdiskon akibat tekanan eksternal.

“Saya melihat kondisi sekarang fundamental banyak perusahaan dalam negeri masih bagus, jadi value-nya murah. It’s time to buy,” ujar Boy dalam konferensi pers, Senin (3/3).

Faktor Eksternal yang Menekan Pasar Saham

1. Kebijakan Dagang Donald Trump

Boy menyoroti bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan koreksi pasar adalah kebijakan dagang agresif yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Ketidakpastian terkait tarif impor serta kebijakan ekonomi AS telah memberikan tekanan pada pasar modal global, termasuk Indonesia.

2. Tarif Impor AS yang Baru

Trump baru-baru ini mengumumkan bahwa tarif impor 25% terhadap produk dari Meksiko dan Kanada akan mulai diberlakukan pada 4 Maret. Langkah ini diambil setelah penundaan selama satu bulan. Presiden AS beralasan bahwa kedua negara tersebut gagal mengurangi aliran narkotika yang masuk ke AS melalui perbatasan.

Tidak hanya itu, China juga akan dikenakan tambahan tarif 10% di samping tarif sebelumnya yang sudah mencapai 10%. Keputusan ini semakin meningkatkan ketidakpastian di pasar global.

“Trump merupakan deal maker. Pada akhirnya akan ada kesepakatan dagang yang tercapai. Jika itu terjadi, prospek ekonomi akan kembali cerah dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk buyback saham,” jelas Boy.

Kapan IHSG Akan Pulih?

Meskipun tekanan eksternal masih berlanjut, Boy optimistis bahwa IHSG dan harga saham perusahaan Indonesia akan kembali menguat setelah situasi perdagangan global lebih stabil.

Sejumlah analis juga sepakat bahwa kondisi pasar saat ini dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi saham-saham berfundamental baik dengan valuasi menarik.

Dengan berbagai faktor yang sedang berlangsung, investor diharapkan lebih cermat dalam memilih saham yang memiliki prospek jangka panjang. Kinerja perusahaan, kebijakan ekonomi, serta kondisi pasar global akan menjadi faktor penentu dalam pergerakan IHSG ke depan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.