PasarSaham

IHSG Terpuruk, Saham ARA Melonjak Tajam

99
IHSG Terpuruk, Saham ARA Melonjak Tajam
IHSG jatuh 120,7 poin ke 6.485,4, dipicu tarif Trump; enam saham ARA melonjak hingga 34% dalam perdagangan Selasa.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada Kamis (27/2/2025) dengan jatuh 120,7 poin atau 1,83% ke level 6.485,4.

Penurunan ini membalikkan tren penguatan yang sempat terjadi pada perdagangan sebelumnya. Data yang dihimpun oleh Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa meskipun terdapat 196 saham yang naik, sebanyak 413 saham turun, dan 184 saham stagnan.

Tekanan pasar masih terasa kuat dengan total nilai transaksi mencapai Rp 12,5 triliun dan volume perdagangan mencapai 18,5 miliar saham dengan frekuensi transaksi mencapai 1.143.812 kali.

Tekanan Pasar dan Pengaruh Tarif Baru

Menurut riset dari Pilarmas Investindo Sekuritas, pelemahan IHSG saat ini didorong oleh ketidakpastian kebijakan tarif baru yang direncanakan oleh Presiden AS Donald Trump.

Meski ada jeda tarif baru pada impor dari Kanada dan Meksiko yang ditunda hingga 2 April mendatang, pasar masih tetap waspada terhadap rencana pengumuman tarif 25% untuk impor dari Uni Eropa.

Kebijakan tersebut diyakini dapat menekan kepercayaan investor dan mendorong aliran dana asing keluar, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah dan indeks saham domestik.

Penguatan Saham Auto Rejection (ARA)

Di tengah pelemahan IHSG, terdapat enam saham yang mengalami lonjakan harga hingga mencapai batas auto rejection atas (ARA), yang mencerminkan aksi jual berbalik menjadi aksi beli di pasar.

Saham-saham yang mencatatkan kenaikan ekstrem ini meliputi:

  • PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN): melonjak 34,7% menjadi Rp 256 per saham
  • PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA): meningkat 34% menjadi Rp 130 per saham
  • PT Lion Metal Works Tbk (LION): naik 25% menjadi Rp 675 per saham
  • PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN): menguat 25% menjadi Rp 750 per saham
  • PT Green Power Group Tbk (LABA): melonjak 24,5% menjadi Rp 294 per saham
  • PT Homeco Victoria Makmur Tbk (LIVE): meningkat 24,5% menjadi Rp 264 per saham

Lonjakan harga saham-saham ini menandakan bahwa para investor asing justru memanfaatkan momentum pasar untuk mengakumulasi saham yang mereka nilai undervalued, meskipun keseluruhan pasar mengalami tekanan.

Aksi beli pada saham-saham ARA ini memberikan sinyal bahwa terdapat minat beli yang kuat terhadap saham dengan potensi rebound tinggi, sekaligus merupakan bentuk perlindungan portofolio di tengah ketidakpastian global.

Analisis Teknis dan Prospek Pasar

Dari sisi teknikal, IHSG ditutup pada level 6.485,4, berada dalam zona penurunan yang cukup dalam. Pengamatan menunjukkan bahwa hampir seluruh sektor saham mengalami pelemahan.

Sektor kesehatan mencatat penurunan paling dalam sebesar 1,9%, diikuti oleh sektor keuangan (1,6%), barang baku (1,4%), infrastruktur (1,3%), dan barang konsumsi primer (1,2%). Hanya sektor barang konsumsi non primer yang sedikit menguat, naik 0,2%.

Selain itu, pergerakan indeks saham regional di Asia menunjukkan variasi; indeks Shanghai dan Straits Times mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,2%.

sedangkan Nikkei naik 0,3% dan Hang Seng turun 0,2%. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pasar domestik sedang tertekan, dinamika regional masih bervariasi, tergantung pada faktor eksternal dan kebijakan global.

Para analis menyimpulkan bahwa tekanan pada IHSG kemungkinan akan berlanjut, terutama karena adanya kebijakan tarif baru dari AS yang menjadi kekhawatiran utama investor.

Dengan potensi pengumuman tarif 25% dari Presiden Trump, tekanan terhadap indeks saham dan nilai tukar rupiah mungkin semakin meningkat, sehingga diperlukan strategi pelindung portofolio dan diversifikasi investasi agar dapat mengantisipasi gejolak pasar.

Pelemahan IHSG sebesar 1,83% ke level 6.485,4 pada Kamis (27/2/2025) mencerminkan kekhawatiran pasar terkait kebijakan tarif impor baru yang didorong oleh Trump, yang berdampak pada aliran modal dan kepercayaan investor.

Di sisi lain, enam saham yang mencapai batas auto rejection atas menunjukkan bahwa di tengah tekanan, ada peluang bagi investor asing untuk mengakumulasi saham-saham yang dinilai undervalued.

Meskipun sentimen pasar global masih tidak menentu, penguatan beberapa indeks regional dan aksi beli pada saham ARA memberi harapan akan adanya potensi rebound di pasar modal Indonesia.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version