Strategi Bertahan Investor Saat Gejolak Global Menguat
JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah bukan hanya mengguncang pasar global, tapi juga menjadi ujian strategi bagi investor di dalam negeri.
Di tengah tekanan tersebut, Phintraco Sekuritas melihat peluang dari saham-saham tertentu yang tetap menjanjikan keuntungan.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak terbatas dalam kisaran resistance 7.200, pivot 7.150, dan support 7.100, dengan kecenderungan koreksi masih membayangi.
Gejolak Timur Tengah: Risiko atau Peluang?
Meletusnya konflik Israel-Iran memicu gelombang kekhawatiran pasar global, terbukti dari pelemahan indeks Wall Street yang signifikan pada akhir pekan lalu.
Phintraco Sekuritas menilai perang ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah hingga 7% karena ancaman terganggunya pasokan global.
Namun bagi investor jeli, situasi ini bisa dimaknai sebagai titik untuk reposisi portofolio ke sektor yang lebih tahan terhadap inflasi dan ketidakpastian.
Emas dan Obligasi Rebound, Pasar Bergerak ke Safe Haven
Harga emas naik 1,3% ke US$ 3.428 per troy ons, menandakan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai.
Yield U.S. 10-year Treasury turut naik menjadi 4,411%, mencerminkan pergeseran portofolio global ke instrumen yang lebih aman.
Kenaikan harga energi, menurut Phintraco, bisa mempercepat laju inflasi jika tidak segera dikendalikan, dan ini memberi sentimen negatif terhadap saham-saham sensitif terhadap biaya produksi.
Sorotan Pasar: Agenda Padat dan Risiko Terbuka
Pekan ini akan penuh dengan agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar, mulai dari konflik Timur Tengah hingga negosiasi dagang AS.
Investor juga menunggu hasil KTT G7 di Kanada serta keputusan moneter dari bank sentral besar seperti The Fed, PBoC, BoJ, BoE, dan BI.
Phintraco memproyeksikan sebagian besar bank sentral masih akan mempertahankan tingkat suku bunga, sebagai respons hati-hati terhadap gejolak global.
Negara-negara seperti Swiss, Swedia, Norwegia, Turki, Brasil, Filipina, dan Taiwan juga akan menetapkan arah moneternya pekan ini.
IHSG Sempat Menguat, Tapi Koreksi Kembali Bayangi
Minggu lalu, IHSG ditutup menguat 0,74%, namun koreksi terjadi pada Jumat (13/6/2025) hingga ditutup di level 7.166,06, turun 0,53%.
Phintraco menyebut kekhawatiran atas dampak konflik serta tekanan domestik berupa risiko tarif dan lemahnya daya beli jadi pemicu koreksi tersebut.
Analisis teknikal menunjukkan potensi IHSG untuk menguji ulang MA200 di kisaran 7.132 hingga support di 7.100.
Lima Saham Pilihan Saat Pasar Bergejolak
Meski IHSG tertekan, Phintraco Sekuritas menyoroti lima saham yang dinilai mampu tetap bertumbuh di tengah tekanan.
Lima saham tersebut adalah:
- AADI
- CTRA
- NCKL
- HRUM
- ESSA
Kelima saham ini mewakili sektor-sektor yang bisa memanfaatkan peluang dari lonjakan harga komoditas, rotasi sektor, dan permintaan pasar domestik.
Menurut Phintraco, strategi bertahan yang paling bijak saat ini adalah fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan yang tetap terjaga meski di tengah gejolak global.
“Pasar memang penuh tantangan, tapi bukan berarti peluang menghilang. Justru di masa seperti ini, saham-saham unggulan akan lebih bersinar,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Senin (16/6/2025).
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












