Ekonomi Makro

Impor China ke RI Naik Tajam, Tak Ada dari E-Commerce

51
Impor China ke RI Naik Tajam, Tak Ada dari E-Commerce
Kemendag tegaskan seluruh impor China ke RI bukan dari e-commerce. Nilai impor melonjak, didominasi mesin, listrik, dan kendaraan.

Impor China Melejit, Kemendag Pastikan Bukan dari Marketplace

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah menegaskan bahwa tidak ada satu pun produk asal Tiongkok yang masuk ke Indonesia melalui platform e-commerce atau marketplace.

Hal ini ditegaskan oleh Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Veri Anggrijono, berdasarkan pencatatan Badan Pusat Statistik dan laporan resmi Kemendag.

Veri menegaskan bahwa seluruh produk China masuk ke Indonesia melalui mekanisme impor resmi, tanpa keterlibatan saluran marketplace.

Dia mengatakan bahwa data perdagangan menunjukkan tidak ada impor dari China dengan harga di bawah US$ 100 yang berasal dari platform digital.

Mesin, Listrik, dan Kendaraan Dominasi Produk Impor

Berdasarkan klasifikasi produk, tiga kelompok komoditas terbesar yang diimpor dari China adalah mesin dan peralatan mekanis (HS 84), mesin listrik (HS 85), serta kendaraan dan komponennya (HS 87).

Veri menyampaikan bahwa dalam periode Januari hingga April 2025, impor dari Tiongkok mencapai nilai US$ 25,95 miliar.

Angka tersebut naik 21,60% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 menurut catatan Kemendag.

Produk HS 84 menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 22,37% terhadap total impor.

Kemudian disusul oleh kelompok HS 85 dengan porsi 20,70% dan HS 87 sebesar 5,42%.

Pertumbuhan Impor Fantastis di Komoditas Tertentu

Kemendag juga menyoroti lonjakan signifikan pada sejumlah produk tertentu dari China yang mencatat pertumbuhan nilai impor secara tahunan (YoY) sangat tinggi.

Paling mencolok adalah kelompok HS 71, yang meliputi mutiara, logam mulia, batu mulia, dan perhiasan imitasi.

Nilainya melonjak dari hanya US$ 9,72 juta menjadi US$ 497,53 juta pada Januari–April 2025.

Veri mencatat pertumbuhan fantastis sebesar 5.020,33% (YoY) untuk kelompok komoditas ini.

Selanjutnya adalah produk karpet dan tekstil penutup lantai (HS 57) yang melonjak dari US$ 81,88 ribu menjadi US$ 1,30 juta.

Peningkatan tersebut setara dengan pertumbuhan 1.481,55% dibandingkan tahun sebelumnya.

Impor Kendaraan Tak Lengkap Naik Tajam

Di peringkat ketiga dalam pertumbuhan impor tertinggi adalah kendaraan bermotor dan komponennya yang belum dalam bentuk utuh (HS 98).

Nilainya meningkat dari US$ 6,03 juta pada awal 2024 menjadi US$ 52,99 juta pada periode yang sama 2025.

Pertumbuhan yang tercatat mencapai 778,93% memperkuat dominasi sektor transportasi dalam struktur impor Indonesia dari Tiongkok.

Peningkatan tersebut mencerminkan adanya permintaan yang kuat dari sektor manufaktur kendaraan dalam negeri.

Impor Mei 2025 Tembus US$ 6,8 Miliar

Terpisah dari data Kemendag, laporan Citigroup Inc yang dirilis Bloomberg juga mengkonfirmasi tren kenaikan impor regional.

Berdasarkan data dari Lembaga Bea Cukai China (GACC), ekspor China ke negara ASEAN pada Mei 2025 mencapai US$ 51,3 miliar.

Angka tersebut mengalami kenaikan 13% dibandingkan periode Mei 2024, memperlihatkan peran strategis kawasan ini bagi ekspor China.

Dari total ekspor tersebut, Indonesia menyumbang lonjakan tertinggi dengan nilai impor mencapai US$ 6,8 miliar.

Pertumbuhan Indonesia mencapai 21,43% secara tahunan, menunjukkan kenaikan permintaan terhadap produk asal Negeri Tirai Bambu.

Peningkatan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra dagang utama China di ASEAN, terutama pada sektor manufaktur dan industri berat.

Pemerintah Tegas Soal Jalur Masuk Barang

Kemendag menggarisbawahi bahwa kendati volume dan nilai impor meningkat, jalur masuk tetap dikendalikan melalui skema resmi.

Veri memastikan bahwa jalur digital seperti marketplace tidak menjadi pintu masuk barang dari China, terutama dalam kisaran harga rendah.

Dengan demikian, kekhawatiran soal banjir produk murah dari e-commerce luar negeri, khususnya China, dianggap tidak beralasan.

Pemerintah terus memantau dan mengawasi data lalu lintas barang lintas negara, guna menjaga keseimbangan pasar domestik.

Perkembangan perdagangan ini sekaligus menjadi sinyal bagi pelaku industri dalam negeri untuk terus meningkatkan daya saing.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version