INCO Kejar Penjualan 2,2 Juta Ton Saprolit, Ini Taruhannya
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menggebrak semester II-2025 dengan menargetkan penjualan hingga 2,2 juta ton bijih nikel saprolit, menyusul disetujuinya revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) terbaru oleh pemerintah.
Langkah ini menandai babak baru strategi monetisasi sumber daya mineral secara progresif, meski dua proyek besar perusahaan Bahodopi dan Pomalaa belum rampung secara konstruksi penuh.
Dalam catatan riset Panin Sekuritas bertanggal 18 Juli 2025, analis Andhika Audrey menilai langkah INCO menunjukkan respons strategis yang presisi di tengah stagnasi harga nikel matte serta ketidakpastian kontribusi dari proyek HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang sempat digadang sebagai pendorong utama pertumbuhan jangka panjang.
Proyek Belum Siap, Bijih Sudah Dijual: Strategi atau Risiko?
Strategi menjual bijih dari area non-integrasi seperti Bahodopi dan Pomalaa membuka sinyal kuat bahwa INCO memilih pendekatan bertahap dalam monetisasi cadangan tidak menunggu semua fasilitas siap.
Menurut Andhika, strategi ini bukan hanya tentang kecepatan monetisasi, tetapi juga soal memperkuat arus kas operasional yang belakangan menjadi sorotan utama investor.
Dengan asumsi harga jual rata-rata saprolit US$ 30 per wmt, potensi pendapatan dari target RKAB semester ini mencapai sekitar US$ 66 juta atau setara 7% dari pendapatan 2024.
Meskipun secara proporsi terbilang kecil, timing pembayaran yang lebih cepat dibandingkan ekspor matte menjadi nilai tambah yang signifikan dari sisi cashflow.
Pemain Kunci Pasar Lihat Ini Sebagai Sinyal Positif
Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer menambahkan bahwa penjualan perdana yang dimulai akhir Juli 2025 menjadi titik awal untuk mengukur seberapa efektif strategi ini membentuk recurring revenue baru.
Ia menilai monetisasi cadangan saprolit bukan hanya menambal kelemahan dari proyek yang tertunda, namun juga membuka ruang akselerasi pendapatan tanpa menambah beban belanja modal (capex) besar.
Hal ini sejalan dengan pendekatan pasar yang lebih mengedepankan pengembalian modal cepat dibandingkan menunggu siklus jangka panjang proyek HPAL yang kerap delay.
Target Ambisius 2026–2027, Tapi Harga Nikel Jadi Penentu
Dari sisi proyeksi jangka menengah, analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan dan Jeffrosenberg Chenlim mencatat bahwa manajemen INCO membidik penjualan saprolit hingga 10 juta ton pada 2026–2027.
Target konservatif mereka memproyeksikan 7 juta ton pada 2026 dan naik jadi 8 juta ton di 2027, seiring progres konstruksi infrastruktur pemrosesan.
Namun, analis menekankan pentingnya mencermati fluktuasi harga nikel global dan kepastian izin RKAB lanjutan untuk menjamin target itu dapat direalisasikan tanpa hambatan.
Miftahul dari Kiwoom merekomendasikan skenario buy on weakness dengan target harga Rp 3.600 per saham.
Hasan dan Jeffrosenberg dari Maybank menargetkan harga Rp 4.050, sementara Andhika dari Panin memberikan pandangan netral optimis di level Rp 4.000.
Arus Kas Jadi Fokus, Investor Diminta Jangan Lengah
Dari sudut pandang kami di BursaNusantara.com, strategi Vale Indonesia saat ini menunjukkan evolusi pendekatan monetisasi sumber daya tambang yang lebih dinamis dan adaptif.
Namun, potensi ketergantungan pada pasar spot dan volatilitas harga global menjadikan strategi ini sarat risiko jangka pendek, terutama jika RKAB 2026 tidak disetujui atau harga saprolit jatuh ke bawah US$ 25 per wmt.
Dalam konteks ini, investor disarankan untuk tidak hanya terpaku pada angka penjualan, melainkan juga mencermati efektivitas strategi arus kas dan efisiensi operasional yang dihasilkan dari strategi jual bijih mentah ini.
Dengan kondisi seperti saat ini, penjualan bijih bukan hanya soal volume, tapi soal waktu, margin, dan kecepatan konversi kas yang makin vital di tengah tekanan eksternal.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












