Geser Kebawah
Nasional

Indef Soroti Hilirisasi Pertanian Demi Lonjakan Ekonomi

74
×

Indef Soroti Hilirisasi Pertanian Demi Lonjakan Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Indef Soroti Hilirisasi Pertanian Demi Lonjakan Ekonomi
Indef dorong hilirisasi pertanian agar kontribusi sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi nasional meningkat signifikan dan berkelanjutan.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Sektor pertanian kembali menjadi sorotan utama dalam dinamika ekonomi nasional. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, saat ini Indonesia perlu segera mengarahkan fokus pada hilirisasi sektor pertanian demi menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan.

Berdasarkan data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025, sektor pertanian mencatat pertumbuhan sebesar 1,11% secara tahunan (year on year/yoy), menjadikannya penyumbang tertinggi dari sisi lapangan usaha. Padahal, pada kuartal I-2024 sektor ini justru mengalami kontraksi sebesar 0,41%.

Sponsor
Iklan

Pertanian Bangkit, Tapi Nilai Tambah Masih Terbatas

Ahmad Heri Firdaus, Peneliti Pusat Industri Perdagangan dan Investasi Indef, menilai peningkatan kontribusi sektor pertanian menjadi peluang strategis.

Namun ia menggarisbawahi, potensi nilai tambah dari aktivitas pertanian masih jauh di bawah sektor industri pengolahan.

Baca Juga: Harga Minyak Global Anjlok, Pemerintah Diminta Siaga Hadapi Dampak ke APBN

Menurut Heri, nilai tambah terbesar justru muncul saat bahan baku pertanian diolah lebih lanjut menjadi produk jadi melalui proses industri.

Hal ini menunjukkan bahwa hilirisasi adalah jalan penting untuk meningkatkan kontribusi ekonomi dari sektor agrikultur.

“Potensi nilai tambah di pertanian murni lebih kecil dibandingkan bila diolah menjadi barang bernilai ekonomi lebih tinggi melalui proses industrialisasi,” ujar Heri dalam diskusi publik Indef pada Selasa (6/5).

Hilirisasi Wajib Komprehensif

Heri menyatakan bahwa hilirisasi pertanian tidak cukup hanya memindahkan hasil panen ke pabrik. Prosesnya harus menyentuh seluruh rantai nilai dari hulu ke hilir, termasuk infrastruktur, distribusi, dan strategi pemasaran.

Baca Juga: Harga Emas Melesat, Ekonom Ingatkan Risiko Investasi

“Hilirisasi adalah bagian dari industrialisasi, yang tujuannya mengubah produk mentah menjadi barang yang nilainya lebih tinggi dan siap masuk ke pasar domestik maupun ekspor,” jelasnya.

Potensi Pertanian Lebih Besar dari Tambang

Rizal Taufiqurrahman, Kepala Pusat Makroekonomi Indef, juga menekankan pentingnya mendorong sektor pertanian ke arah industri manufaktur.

Ia bahkan menyebut bahwa nilai tambah dari pertanian bisa jauh melebihi sektor pertambangan bila dioptimalkan dengan serius.

Sayangnya, upaya hilirisasi di subsektor seperti perikanan, perkebunan, dan kelautan masih jauh dari optimal. Padahal menurut Rizal, sektor-sektor tersebut menyimpan potensi besar sebagai penggerak ekspor dan sumber devisa negara.

Baca Juga: Tarif Tambahan AS Ancam Ekspor RI, INDEF: Ini Serius!

“Jika dikelola maksimal, nilai tambah dari hasil laut, hasil kebun, dan produk pertanian lainnya bisa berkali-kali lipat dibandingkan tambang. Ini belum banyak dimanfaatkan,” katanya.

CPO Unggul, Tapi Perlu Diversifikasi

Selama ini, komoditas andalan pertanian Indonesia yang dominan berkontribusi terhadap devisa negara adalah crude palm oil (CPO).

Sementara komoditas pertanian lainnya seperti hortikultura, pangan lokal, hingga hasil tangkap laut masih kurang mendapatkan perhatian kebijakan dan investasi infrastruktur yang layak.

Rizal mengingatkan bahwa Indonesia pernah memiliki model pengembangan sektor agrikultur melalui agroindustri di masa Orde Baru. Pelajaran dari era tersebut bisa dihidupkan kembali untuk memperluas pasar dan diversifikasi ekspor.

Baca Juga: Peta Jalan Asuransi Pertanian 2025-2030 Resmi Diluncurkan

“Tidak ada negara yang mencapai level ekonomi maju tanpa industrialisasi berbasis pertanian. Momentum ini jangan disia-siakan,” tegas Rizal dengan nada optimistis.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru