Geser Kebawah
Internasional

India Tolak F-35 AS: Trump Naikkan Tarif, New Delhi Tak Bergeming

84
×

India Tolak F-35 AS: Trump Naikkan Tarif, New Delhi Tak Bergeming

Sebarkan artikel ini
India Tolak F-35 AS Trump Naikkan Tarif, New Delhi Tak Bergeming
Meski Trump menaikkan tarif 25%, India tolak wacana pembelian jet F-35 dari AS. New Delhi lebih memilih perkuat kemandirian industri pertahanan.

India Prioritaskan Autonomi Pertahanan, Bukan Alutsista Amerika

JAKARTA, BursaNusantara.com – Penolakan India terhadap spekulasi pembelian jet tempur F-35 dari Amerika Serikat mencerminkan pergeseran haluan kebijakan pertahanan New Delhi menuju kemandirian strategis di tengah tekanan dagang Washington.

Di tengah tensi baru akibat tarif 25% dari pemerintahan Trump, India menegaskan tak ada negosiasi resmi yang berlangsung terkait pengadaan F-35, meski pertemuan bilateral antara PM Modi dan Presiden Trump telah membahas platform pertahanan canggih.

Sponsor
Iklan

Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri India itu bukan sekadar klarifikasi, tetapi sinyal geopolitik bahwa India tak akan tunduk pada diplomasi tekanan termasuk tawaran militer bersyarat dari Washington.

Alih-alih membeli pesawat siluman produksi AS, New Delhi justru menaruh perhatian pada penguatan industri pertahanan domestik sebagai bagian dari agenda “Atmanirbhar Bharat” atau India Mandiri.

Kebijakan Trump menaikkan tarif impor India dinilai sebagai bentuk frustrasi terhadap sikap independen India yang enggan berpihak penuh dalam rivalitas global, termasuk soal kedekatan India dengan Rusia dalam sektor energi dan militer.

New Delhi Lebih Butuh Gas daripada F-35

Pejabat India yang dikutip Bloomberg mengungkap arah kebijakan ekonomi India lebih condong pada peningkatan impor gas alam, logam mulia, dan peralatan komunikasi dari AS, bukan pesawat tempur.

Kalkulasi ekonomi dan teknologis menjadi dasar keputusan India untuk tidak tergesa membeli F-35. Biaya per unit pesawat, beban pemeliharaan, serta ketergantungan teknologi membuat India lebih rasional mendorong transfer teknologi dan produksi dalam negeri.

Dalam doktrin pertahanan barunya, India mulai memprioritaskan kolaborasi desain dan pengembangan senjata yang memperkuat kapasitas produksi nasional. Tawaran alutsista jadi hanya diterima jika selaras dengan kepentingan strategis jangka panjang.

Pemerintah Modi juga ingin menegaskan bahwa India bukan pasar konsumtif senjata buatan negara adidaya, melainkan kekuatan regional yang mampu membangun kemandirian militer tanpa harus berkompromi pada tekanan tarif.

Kementerian Perdagangan dan Industri India menyebut bahwa pembicaraan dagang dengan AS masih terus berlangsung, dengan target perjanjian yang saling menguntungkan bukan hanya untuk memperkaya satu pihak.

Tarif Trump Tak Goyahkan Arah Geopolitik India

Kebijakan tarif AS yang diumumkan 1 Agustus 2025 bukan sekadar kebijakan ekonomi, tetapi tekanan politik untuk mendikte arah kebijakan luar negeri India, termasuk dalam hubungan energi dan pertahanan dengan Rusia.

Namun, respons India terhadap tekanan itu tegas: menolak wacana pembelian F-35, memperkuat agenda pertahanan nasional, dan membuka opsi perdagangan alternatif dengan negara-negara lain di Asia dan Eropa.

Perdagangan bilateral antara India dan AS memang besar mencapai US$129 miliar di 2024 namun defisit AS terhadap India sebesar US$45,7 miliar membuat Washington semakin agresif dalam mendesak konsesi.

Trump ingin India membuka lebih banyak sektor ekonomi, namun India justru memperketat regulasi sektor strategis demi melindungi kapasitas nasional.

India menunjukkan bahwa kedaulatan ekonomi dan militer tidak bisa dikompromikan hanya demi menghindari tarif. Di bawah kepemimpinan Modi, India kini bergerak sebagai kekuatan yang setara dalam diplomasi global, bukan sekadar mitra pasif dalam orbit geopolitik AS.