Volume Turun, INTP Tetap Lebih Unggul dari Industri
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatatkan penurunan volume penjualan menjadi 3,9 juta ton hingga Maret 2025, turun 5,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini terjadi di tengah permintaan yang memang sedang lemah. Menurut Sekretaris Perusahaan INTP, Dani Handajani, faktor cuaca, Ramadan, dan libur panjang Idulfitri memengaruhi aktivitas konstruksi pada awal tahun.
Namun, secara performa, INTP masih lebih tangguh dibanding rerata industri semen nasional yang anjlok 7,8% dalam periode yang sama.
Pangsa Pasar Konsisten, Tapi Oversupply Masih Membayangi
Meskipun terjadi penurunan volume, INTP tetap mampu menjaga pangsa pasarnya di angka 30,1% hingga akhir kuartal pertama 2025.
Namun, tantangan belum selesai. Dani menyebut ancaman oversupply di pasar semen domestik masih terus menghantui sepanjang tahun ini.
Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur saja tak cukup. Perlu intervensi regulatif dari pemerintah, seperti pelarangan impor klinker dan semen, serta moratorium pabrik baru untuk menstabilkan pasar.
Proyek IKN Dianggap Bisa Dongkrak Permintaan
Optimisme muncul dari proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang kembali aktif usai sebelumnya sempat mandek. Presiden Prabowo telah menyetujui penambahan anggaran senilai Rp 8,1 triliun untuk mempercepat pelaksanaan.
INTP memproyeksikan adanya kenaikan permintaan semen di Kalimantan, meski kontribusinya diperkirakan tidak sebesar dua tahun terakhir.
Tantangan Nilai Tukar dan Strategi Buyback
Tak hanya dari sisi pasar, tekanan eksternal juga datang dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus menguat.
Bagi industri semen yang masih sangat bergantung pada batu bara sebagai sumber energi, fluktuasi nilai tukar ini otomatis mendorong naiknya beban biaya operasional.
Meski demikian, kinerja laba INTP tergolong solid. Tercatat hanya INTP yang mampu membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 2,93% sepanjang 2024, saat banyak kompetitornya mengalami koreksi.
Untuk menjaga stabilitas harga saham, manajemen mengalokasikan dana buyback sebesar Rp 2,25 triliun. Namun, analis pasar Reza Priyambada memperkirakan efeknya hanya bersifat jangka pendek terhadap pergerakan harga saham.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





