AgrobisnisBisnis

Indonesia Menuju Swasembada Beras 2025: Capaian dan Tantangan Keberlanjutan

95
indonesia menuju swasembada beras 2025 capaian dan tantangan keberlanjutan t
Indonesia menargetkan swasembada beras pada 2025 tanpa impor. Tantangan keberlanjutan muncul akibat stok besar tahun depan yang berasal dari tingginya impor 2024.

Proklamasi Swasembada Beras 2025: Target Tanpa Impor

JAKARTA, Bursa Nusantara Official – Pemerintah Indonesia mengumumkan rencana besar untuk mencapai swasembada beras pada 2025 tanpa ketergantungan pada impor. Langkah ini menandai tonggak penting dalam upaya mewujudkan kemandirian pangan nasional. Namun, para ahli memperingatkan bahwa keberlanjutan capaian ini menghadapi tantangan besar, terutama karena stok beras melimpah di 2025 berasal dari impor signifikan pada 2024.

Pengamat pertanian pangan dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, memproyeksikan stok akhir beras pada 2024 mencapai 7,07 juta ton, yang menjadi modal awal untuk memenuhi kebutuhan konsumsi 2025. Dengan produksi domestik sebesar 32,29 juta ton dan konsumsi diperkirakan 31,04 juta ton, terdapat surplus sekitar 1,25 juta ton di tahun depan.

“Surplus ini menunjukkan cukupnya cadangan untuk mendukung keputusan pemerintah untuk tidak melakukan impor pada 2025. Namun, keberlanjutannya memerlukan upaya besar untuk meningkatkan produksi secara signifikan di tahun-tahun berikutnya,” ujar Khudori dalam diskusi daring bertema Outlook Pembangunan Pertanian 2025 yang digelar Senin (23/12/2024).

Definisi Swasembada: Dari Mutlak hingga On Trend

Indonesia memiliki beberapa definisi swasembada beras yang dapat menjadi acuan:

  1. Swasembada Mutlak: Seluruh kebutuhan beras dipenuhi dari produksi domestik tanpa impor.
  2. Swasembada Mayoritas: Sebanyak 90% kebutuhan beras dipenuhi dari produksi dalam negeri, sementara 10% sisanya berasal dari impor.
  3. Swasembada On Trend: Kebutuhan beras pada sebagian besar waktu dalam periode tertentu dipenuhi dari produksi domestik, namun tetap ada impor pada kondisi tertentu seperti gagal panen.

Keputusan pemerintah untuk tidak melakukan impor beras oleh Bulog pada 2025 dapat memenuhi salah satu dari definisi tersebut. Namun, tantangan besar terletak pada bagaimana memastikan produksi beras domestik mampu menutupi kebutuhan secara konsisten di masa depan.

Stok dan Produksi 2025: Menjaga Momentum

Berdasarkan data yang dihimpun, stok beras pada akhir 2024 diperkirakan sebesar 7,07 juta ton, ditambah produksi domestik sebesar 32,29 juta ton, menghasilkan surplus total sekitar 8,3 juta ton pada akhir 2025. Jumlah ini dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan tanpa impor.

Namun, Khudori mengingatkan bahwa swasembada ini belum tentu berkelanjutan karena ketergantungan pada impor besar tahun sebelumnya. Selain itu, ada sejumlah tantangan struktural dalam produksi padi nasional, seperti:

  • Konsentrasi produksi di Jawa sebesar 55,8%,
  • Ketergantungan pada kondisi alam,
  • Produktivitas stagnan dengan pertumbuhan hanya 0,13%,
  • Penurunan luas sawah yang ditanami, dan
  • Disparitas produksi antardaerah.

Presiden Prabowo Subianto telah memajukan target swasembada pangan dari 2029 menjadi 2027, termasuk swasembada beras tanpa impor di 2025. Namun, tanpa lompatan besar dalam produktivitas dan perbaikan struktural, target ini akan sulit dipertahankan.

Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP)

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menegaskan pentingnya penguatan cadangan pangan pemerintah (CPP) untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan. Saat ini, stok CPP di BUMN pangan relatif kecil, tetapi cukup untuk mengantisipasi kebutuhan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

“Neraca pangan Desember 2024 menunjukkan surplus di hampir semua komoditas, termasuk beras sebesar 8,39 juta ton. Stok ini mencukupi untuk kebutuhan Nataru dan awal 2025,” kata Ketut.

Grand design tata kelola CPP berorientasi pada stabilisasi harga pangan antarwaktu dan antarwilayah, pengendalian inflasi, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan usaha pelaku agribisnis. Meski demikian, Bapanas memastikan bahwa ketersediaan CPP tetap diprioritaskan untuk menjaga stabilitas pangan nasional.

Program Swasembada Beras 2025: Tantangan dan Strategi

Pemerintah menargetkan cadangan beras pemerintah mencapai 2,5 juta ton untuk memastikan daya serap petani yang kuat dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap ketahanan pangan nasional. Menko Pangan Zulkifli Hasan menyatakan bahwa CPP merupakan kunci utama dalam mewujudkan swasembada pangan.

“Dengan pasokan beras sebesar 2,5 juta ton, daya serap petani akan meningkat, sehingga stok beras tetap terjaga dengan baik,” ujar Zulkifli Hasan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (23/12/2024).

Namun, untuk mencapai target ini, pemerintah perlu mengatasi beberapa tantangan utama, seperti:

  1. Ekosistem Perbenihan Padi: Industri perbenihan belum sepenuhnya mendukung keberlanjutan produksi karena rendahnya adopsi benih bersertifikat oleh petani.
  2. Infrastruktur Irigasi: Keterbatasan sistem irigasi modern menghambat produktivitas di luar Jawa.
  3. Digitalisasi dan Teknologi Pertanian: Perluasan penerapan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan hasil panen.

Optimisme dengan Kehati-hatian

Swasembada beras 2025 adalah langkah strategis yang menunjukkan optimisme Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan. Namun, keberlanjutannya memerlukan reformasi struktural, peningkatan produktivitas, dan kebijakan yang konsisten untuk mendukung keberlanjutan produksi. Dengan kerja sama antara pemerintah, petani, dan sektor swasta, Indonesia dapat mewujudkan swasembada beras yang tidak hanya sesaat, tetapi berkelanjutan untuk masa depan.

Indonesia Menuju Swasembada Beras 2025: Capaian dan Tantangan Keberlanjutan

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version