Manufaktur Jadi Penopang: Pertumbuhan Sektor Industri Lampaui Ekonomi Nasional
JAKARTA – Sektor industri manufaktur Indonesia terus membuktikan perannya sebagai motor penggerak utama perekonomian nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mencatat bahwa kinerja industri pengolahan non-migas tumbuh impresif sebesar 5,17% sepanjang Januari hingga September 2025.
Angka pertumbuhan ini secara signifikan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,01% pada periode yang sama.
Peningkatan nilai tambah sektor ini mencapai Rp92,16 triliun, sehingga total kontribusinya menyentuh angka Rp875 triliun.
Capaian gemilang tersebut mencerminkan daya tahan industri dalam negeri di tengah dinamika pasar global. Kepercayaan pelaku usaha yang tetap terjaga menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan ekspansi aktivitas produksi di masa depan.
Dominasi Investasi dan Kontribusi Strategis PDB
Sektor manufaktur tidak hanya tumbuh secara angka, tetapi juga mendominasi postur investasi dan ekspor Indonesia.
- Pangsa PDB: Industri manufaktur menyumbang 17,27% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau setara dengan Rp3,51 triliun.
- Realisasi Investasi: Sektor ini menarik investasi sebesar Rp52 triliun, yang menyumbang 38% dari total investasi nasional sepanjang triwulan satu hingga tiga tahun 2025.
- Kinerja Ekspor: Produk manufaktur mendominasi pasar internasional dengan nilai ekspor mencapai 227,10 miliar dolar AS, mencakup 80,27% dari total nilai ekspor nasional.
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dan Ekspansi PMI
Optimisme pelaku usaha manufaktur terlihat jelas dari indikator-indikator makro ekonomi terbaru yang dirilis oleh Kementerian Perindustrian.
- Level IKI: Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada bulan Januari 2026 tetap berada di zona ekspansi pada level 54,12.
- Kenaikan PMI: Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia juga meningkat ke level 52,6 pada Januari 2026.
- Makna Indikator: Angka di atas 50 menandakan bahwa aktivitas manufaktur nasional terus berada dalam fase ekspansi dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Sinergi Kebijakan dan Tantangan Sektor Lainnya
Menteri Agus Gumiwang menekankan bahwa tren positif ini harus sejalan dengan perbaikan di sektor pendukung lainnya. Sementara manufaktur melaju kencang, pemerintah juga memberikan perhatian khusus pada sektor pariwisata dan ketahanan pangan.
Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyoroti pentingnya kebersihan destinasi wisata seperti Bali untuk menjaga citra pariwisata nasional.
Di sisi lain, kolaborasi riset internasional, seperti kerja sama gandum tropis dengan Slovakia, diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional di masa depan.











