Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

Investor Asing Berbalik Net Buy Rp 593,9 Miliar, IHSG Anjlok 2,14%

227
×

Investor Asing Berbalik Net Buy Rp 593,9 Miliar, IHSG Anjlok 2,14%

Sebarkan artikel ini
Investor Asing Berbalik Net Buy Rp 593,9 Miliar, IHSG Anjlok 2,14%
Investor asing mencatat net buy Rp 593,9 miliar di BEI pada 4 Maret 2025, tetapi IHSG justru anjlok 2,14% ke level 6.380,4. Simak analisanya di sini.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Investor asing akhirnya berbalik melakukan aksi beli bersih (net buy) di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah sebelumnya terus mencatatkan jual bersih (net sell). Pada perdagangan Selasa (4/3/2025), net buy asing di seluruh pasar mencapai Rp 593,9 miliar.

Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terperosok tajam, turun 139,2 poin atau 2,14% ke level 6.380,4. Tekanan jual yang masif membuat mayoritas saham melemah, dengan 473 saham terkoreksi, 110 saham naik, dan 210 saham stagnan.

Sponsor
Iklan

Investor Asing Kembali Borong Saham, Net Sell Berkurang

Setelah mencatatkan net sell dalam beberapa bulan terakhir, aksi beli asing kali ini berhasil memangkas total net sell sepanjang tahun menjadi Rp 21,4 triliun. Saham perbankan menjadi target utama pembelian asing di pasar reguler.

Saham yang Paling Banyak Diborong Asing

  1. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) – Net buy sebesar Rp 175,9 miliar
  2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – Net buy senilai Rp 161,3 miliar

Sebaliknya, saham yang paling banyak dilepas investor asing adalah PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan total net sell Rp 53,2 miliar.

IHSG Tersungkur, Semua Sektor Tertekan

Aksi beli asing tidak mampu menahan pelemahan IHSG yang mengalami tekanan jual besar-besaran. Total transaksi di BEI hari ini mencapai Rp 13,22 triliun dengan volume perdagangan 20,6 miliar saham dalam 1,1 juta transaksi.

Sektor Saham yang Paling Tertekan

  1. Sektor Barang Baku – Turun 5,1%
  2. Sektor Energi – Melemah 5%
  3. Sektor Barang Konsumsi Non-Primer – Anjlok 3,7%
  4. Sektor Properti – Terkoreksi 2,6%
  5. Sektor Teknologi – Melemah 2,3%

Faktor Eksternal: Yield SBN dan US Treasury Turun, Rupiah Melemah

Tekanan terhadap IHSG juga tidak lepas dari faktor eksternal, termasuk pergerakan yield obligasi dan nilai tukar rupiah. Pada Kamis (27/2/2025), yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 6,88%, sementara yield US Treasury Note 10 tahun turun ke 4,260%. Perbedaan arah ini mengindikasikan adanya arus modal keluar dari Indonesia ke aset yang dianggap lebih aman.

Selain itu, berdasarkan data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 16.575 per dolar AS pada Jumat (28/2/2025). Pelemahan rupiah ini dapat meningkatkan beban impor dan tekanan inflasi, yang pada akhirnya mempengaruhi sentimen pasar saham.

Menurut pernyataan Ramdan, perwakilan dari Bank Indonesia, “BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.” Langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan rupiah dan pasar keuangan dalam jangka menengah.

Saham-Saham yang Justru Cuan Melimpah

Meski IHSG jatuh, sejumlah saham justru berhasil mencatatkan kenaikan signifikan dan masuk dalam daftar top gainers.

Saham yang Melesat Tajam

  1. PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) – Naik 24,8% ke Rp 780 (Auto Reject Atas/ARA)
  2. PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) – Melonjak 24,6% ke Rp 1.515 (ARA)
  3. PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI) – Naik 21,8% ke Rp 145
  4. PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) – Menguat 11,8% ke Rp 472
  5. PT Estee Gold Feet Tbk (EURO) – Naik 9,4% ke Rp 174

IHSG Jatuh, Pasar Asia Ikut Terkoreksi

Tidak hanya IHSG, indeks saham utama di kawasan Asia juga mengalami tekanan. Berikut kinerja indeks utama:

  • Straits Times (Singapura) – Turun 0,4%
  • Nikkei (Jepang) – Melemah 1,2%
  • Hang Seng (Hong Kong) – Terkoreksi 0,2%
  • Shanghai (China) – Menguat 0,2% (menjadi satu-satunya indeks Asia yang naik)

Investor Asing Kembali Masuk, Tapi IHSG Masih Tertekan

Aksi beli asing yang cukup besar pada saham-saham unggulan seperti BBRI dan BBCA belum cukup untuk membendung tekanan jual yang terjadi di pasar. IHSG masih menghadapi tantangan dari ketidakpastian ekonomi global, kebijakan The Fed, serta sentimen domestik yang kurang mendukung.

Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan yield SBN juga menjadi faktor tambahan yang membebani pasar modal Indonesia. Pelaku pasar perlu mencermati langkah kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah dan Bank Indonesia guna menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah gejolak global.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan