JAKARTA, BursaNusantara.com – Arus dana asing kembali mengalir deras ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) sejak awal 2025.
Hingga 28 April lalu, investor asing tercatat melakukan pembelian bersih sebesar Rp 24,4 triliun, dengan dominasi pada instrumen tenor pendek.
Langkah ini menunjukkan strategi investor dalam menyiasati gejolak ekonomi global yang masih sarat ketidakpastian.
Investor Asing Agresif di Tenor Pendek
Tenor 0–1 tahun menjadi incaran utama investor asing dengan nilai beli neto yang mencapai Rp 26,13 triliun sepanjang April 2025.
Data tersebut menegaskan bahwa pelaku pasar asing lebih condong memanfaatkan instrumen jangka pendek yang dinilai lebih aman dalam kondisi pasar yang fluktuatif.
Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst dari Pefindo, menjelaskan bahwa pendekatan ini mencerminkan strategi asing yang mencari peluang keuntungan cepat dari potensi volatilitas jangka pendek.
Menurutnya, ketika ekspektasi arah kebijakan ekonomi berubah secara tiba-tiba, tenor pendek lebih fleksibel untuk dirotasi ulang.
“Tenor pendek cenderung stabil di tengah volatilitas dan memberikan keleluasaan timing. Saat tekanan pasar memuncak dan harga koreksi, investor asing bisa langsung masuk dengan dana besar dari hasil jatuh tempo instrumen sebelumnya,” terang Ahmad, Senin (5/5).
Penjualan Neto di Tenor Menengah
Sementara itu, minat investor asing terhadap tenor menengah justru melemah. DJPPR mencatat adanya jual neto sebesar Rp 10 triliun untuk tenor 1–2 tahun, serta Rp 12,1 triliun untuk tenor 2–5 tahun.
Di sisi lain, tenor panjang mulai menunjukkan sedikit penguatan. Tercatat beli neto Rp 1,88 triliun pada tenor 5–10 tahun dan Rp 1,9 triliun untuk tenor di atas 10 tahun.
Namun, nilainya masih jauh di bawah tenor pendek yang mendominasi arus masuk modal asing.
Efek Kebijakan Global dan Trump
Sentimen global tetap menjadi faktor utama penggerak pasar obligasi. Kebijakan Donald Trump, khususnya potensi kenaikan tarif impor, disebut Ahmad sebagai pemicu utama tekanan inflasi di Amerika Serikat.
“Kebijakan tarif yang agresif akan memengaruhi harga pasar dan mendorong ekspektasi inflasi,” paparnya.
Investor pun cenderung berhati-hati sambil menunggu arah kebijakan yang lebih jelas usai periode penundaan kebijakan resiprokal berakhir Juni nanti.
Di tengah ketegangan tersebut, muncul sinyal positif dari proses negosiasi antara Amerika Serikat dengan beberapa negara mitra utama, seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Hal ini mengurangi kekhawatiran terhadap eskalasi perang dagang yang selama ini menekan pasar keuangan global.
Penurunan Yield Jadi Sinyal Penguatan
Penurunan yield menjadi indikasi positif bagi pasar obligasi. Yield US Treasury 10 tahun sempat melandai dari 4,235% menjadi 4,162% antara 25 hingga 30 April 2025.
Imbasnya terasa hingga Indonesia, di mana yield SBN 10 tahun turut turun dari 6,923% ke 6,875% dalam periode yang sama.
Kondisi ini menambah daya tarik SBN, terutama untuk tenor pendek yang dianggap mampu memberikan keseimbangan antara fleksibilitas dan potensi keuntungan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










