8 Emiten Baru Serbu BEI, Satu Saham Cetak Laba Naik 155 Kali
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar modal Indonesia kembali diramaikan aksi korporasi skala besar ketika delapan perusahaan bersiap mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang Juli 2025.
Fenomena ini tidak hanya menandai antusiasme pemilik bisnis terhadap pasar terbuka, tetapi juga menggambarkan perubahan strategi korporasi untuk mengakses dana segar secara cepat.
Namun, di tengah maraknya Initial Public Offering (IPO), hanya segelintir yang menonjol dari sisi fundamental keuangan.
CDIA Menjadi Primadona Berkat Lompatan Laba
Berdasarkan riset Stockbit Sekuritas, lonjakan pertumbuhan laba bersih paling mencolok ditorehkan oleh PT Chandra Daya Investasi (CDIA).
Anak usaha Chandra Asri Pacific (TPIA) ini mencatat lonjakan laba bersih hingga 155 kali lipat dibanding tahun sebelumnya, didorong pertumbuhan pendapatan sebesar 24%.
CDIA menawarkan 12,48 miliar saham atau 10% dari total modal dengan harga IPO Rp190 per saham, dan menargetkan perolehan dana hingga Rp2,4 triliun.
Dana jumbo tersebut disiapkan untuk memperkuat posisi perusahaan dalam bisnis energi, air, pelabuhan, penyimpanan, dan logistik melalui kolaborasi strategis dengan EGCO Group.
Listing dijadwalkan pada 9 Juli 2025, menjadikan CDIA sebagai debutan paling dinanti di bulan ini.
Persaingan Ketat, Tapi Tidak Semua Bersinar
Di bawah CDIA, terdapat Diastika Biotekindo (CHEK) yang bergerak di bidang alat laboratorium dan farmasi dengan kenaikan laba bersih 12%.
CHEK membidik dana Rp104,3 miliar dengan harga IPO Rp128 per saham dan akan listing pada 10 Juli.
Sementara itu, perusahaan logistik Trimitra Trans Persada (BLOG) mencatatkan kenaikan laba 9,2% dan berharap mendapat suntikan modal sebesar Rp140,8 miliar.
Perusahaan telekomunikasi Prima Multi Usaha Indonesia (PMUI) turut hadir dengan catatan kenaikan laba bersih 8,8% meskipun pendapatannya anjlok 7,6%.
PMUI berafiliasi dengan XL melalui penguasaan distribusi regional dan menawarkan saham senilai Rp208,8 miliar.
Saham Edukasi & Kripto Mencuri Perhatian
Di sektor edukasi, Merry Riana Edukasi (MERI) hadir sebagai wajah baru dengan latar belakang kuat dari tokoh publik Merry Riana dan Tancorp Group.
MERI mengumpulkan dana Rp30,1 miliar dan mencetak pertumbuhan laba 6,8%, menjanjikan potensi ekspansi di industri kursus dan pelatihan.
Sementara itu, Indokripto Koin Semesta (COIN) menjadi pemain pertama dari sektor kripto yang masuk BEI tahun ini.
COIN menawarkan 2,2 miliar saham dan berhasil membalik kerugian menjadi untung, mencerminkan pemulihan bisnis exchange dan kustodian kripto mereka.
Listing COIN bersamaan dengan CDIA pada 9 Juli, menjadi sorotan investor teknologi dan aset digital.
Dua Emiten Terakhir Dibayangi Penurunan Kinerja
Tidak semua IPO Juli 2025 datang dengan fundamental cerah. Pancaran Samudera Transport (PSAT) dan Asia Pramulia (ASPR) justru mencatat kinerja negatif.
PSAT mengalami penurunan pendapatan 4,3% dan laba bersih -7,2%, sedangkan ASPR bahkan lebih terpukul dengan penurunan laba hingga -32%.
Keduanya tetap optimistis menghimpun dana IPO lebih dari Rp100 miliar untuk menopang operasional dan ekspansi, meski respons investor diperkirakan akan selektif.
Likuiditas Pasar Tertekan, IPO Bertumpuk Jadi Tantangan
Di balik semaraknya pencatatan perdana ini, Stockbit Sekuritas menyoroti tekanan terhadap likuiditas perdagangan harian BEI.
Rata-rata nilai transaksi harian selama sepekan terakhir tercatat hanya Rp8,8 triliun, jauh di bawah rerata bulanan Rp14 triliun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa arus modal investor tengah terpecah menghadapi delapan penawaran saham baru secara bersamaan.
Hal ini menjadi risiko jangka pendek terhadap performa harga saham-saham IPO tersebut dalam perdagangan awal pasca listing.
Investor Dituntut Lebih Selektif dan Adaptif
Di tengah banjirnya emiten baru, pasar kini menuntut pendekatan analisis fundamental yang lebih tajam, khususnya menilai keberlanjutan pertumbuhan laba.
CDIA dengan lonjakan labanya jelas menjadi highlight, namun bukan jaminan keberhasilan jangka panjang tanpa strategi bisnis berkelanjutan.
CHEK, BLOG, dan PMUI menjadi kandidat potensial berkat pertumbuhan solid, sementara MERI dan COIN menarik minat karena sektor unik yang mereka garap.
Sebaliknya, emiten seperti PSAT dan ASPR mungkin harus menghadapi tantangan koreksi harga awal akibat persepsi pasar terhadap fundamental yang lemah.
Arah Baru Tren IPO di Indonesia
Fenomena IPO masif dalam waktu berdekatan mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan lokal semakin agresif dalam mengejar pendanaan publik.
Namun, keberhasilan IPO tak lagi hanya ditentukan oleh pencatatan perdana, melainkan oleh daya tahan saham di pasar sekunder.
Investor pun tidak bisa sekadar berburu momentum, tetapi perlu melihat tata kelola, prospek industri, dan kualitas manajemen secara menyeluruh.
Lonjakan laba seperti milik CDIA memang mencuri perhatian, tapi dalam iklim pasar yang likuiditasnya menyusut, hanya saham dengan pondasi bisnis kuat yang mampu bertahan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










