JAKARTA, BursaNusantara.com – Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang membawa pesan mendalam bagi umat manusia. Dalam peringatan Isra Mikraj 1446 H, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya menjadikan salat sebagai pijakan utama kehidupan spiritual. Hal ini disampaikan dalam acara peringatan di Jakarta, Minggu (26/1/2025).
“Oleh-oleh Isra Mikraj adalah salat. Karenanya, pesan terpenting dari peringatan Isra Mikraj adalah menegakkan salat. Mari menegakkan salat,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
Isra Mikraj adalah perjalanan spiritual Rasulullah SAW yang menjadi titik balik kebangkitan dakwah. Tiga perjalanan penting yang dilakukan Rasulullah — Isra Mikraj, Hijrah, dan Haji Wada — masing-masing menyimpan pesan yang luar biasa. Jika Hijrah menjadi momentum perubahan dan Haji Wada menandai kemenangan, maka Isra Mikraj menjadi puncak perjalanan seorang hamba menuju Sang Pencipta.
Salat sebagai Pilar Utama
Salat, yang disebut Rasulullah SAW sebagai mi’raj-nya orang mukmin, adalah tiang agama yang menjadi fondasi spiritualitas dan pilar utama dalam membangun hubungan dengan Allah SWT. Menag menekankan bahwa salat tidak hanya ritual, tetapi juga sebuah cara untuk melatih kedisiplinan, ketundukan, dan membangun hubungan yang erat dengan Sang Pencipta.
“Salat mengajarkan kita keseimbangan antara hubungan dengan Allah SWT (habluminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (habluminannas). Salat ditutup dengan salam, yang mengandung pesan penting untuk menebar kedamaian dan keselamatan,” jelas Menag.
Menag juga menambahkan bahwa salat dapat menjadi landasan untuk membangun masyarakat yang adil dan bermartabat. Kesalehan individu yang diperoleh dari salat harus berdampak pada kesalehan sosial. Hal ini menjadi elemen penting dalam membangun masyarakat yang harmonis, toleran, dan penuh kedamaian.
Salat sebagai Fondasi Membangun Bangsa
Menurut Menag, salat tidak hanya memiliki dampak spiritual, tetapi juga berkontribusi dalam membangun nilai-nilai keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan dalam masyarakat. Dengan fondasi spiritual yang kuat, umat Islam diharapkan mampu menghadirkan peradaban yang penuh rahmat dan keberkahan.
“Salat menguatkan fondasi spiritual dalam membangun umat dan bangsa. Ketika fondasi ini kuat, nilai-nilai keadilan dan kedamaian akan tumbuh dan membawa manfaat bagi semua,” ujar Menag.
Menag berharap peringatan Isra Mikraj tahun ini dapat menjadi momen bagi umat Islam untuk terus memperkuat iman, memperbaiki amal, dan membangun masa depan yang lebih baik. “Dengan menjadikan spiritualitas sebagai landasan dan salat sebagai pilar, mari kita wujudkan peradaban yang bermartabat dan membawa keberkahan,” pungkasnya.
Makna Isra Mikraj Bagi Umat Islam
Isra Mikraj bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga sebuah refleksi spiritual yang relevan sepanjang masa. Perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian ke Sidratul Muntaha, mengajarkan umat Islam untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebagai umat Islam, peringatan Isra Mikraj mengingatkan kita akan pentingnya menjadikan salat sebagai prioritas utama. Selain menjadi tiang agama, salat juga menjadi sarana untuk memperkuat spiritualitas, membangun kedamaian batin, dan menebarkan rahmat kepada sesama.
Dalam konteks masyarakat modern, salat juga relevan sebagai alat untuk melatih kedisiplinan dan fokus. Nilai-nilai ini sangat penting untuk menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun kolektif.
Peringatan Isra Mikraj bukan hanya sekadar ritual tahunan, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali nilai-nilai yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dengan menegakkan salat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, umat Islam dapat memperkuat iman dan membawa keberkahan bagi masyarakat.
Mari jadikan salat sebagai tiang kehidupan, fondasi spiritual, dan pilar yang menguatkan nilai-nilai keadilan, toleransi, dan harmoni sosial. Dengan demikian, kita dapat bersama-sama mewujudkan peradaban yang penuh rahmat dan keberkahan.







