JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bank Mega Tbk (MEGA) telah menetapkan pembagian dividen tunai untuk tahun buku 2024. Perseroan akan mengalokasikan dana sebesar Rp1,05 triliun sebagai dividen kepada pemegang saham, yang setara dengan 40% dari total laba bersih tahun lalu.
Kendati laba bersih Bank Mega mengalami penurunan dari Rp3,51 triliun pada 2023 menjadi Rp2,63 triliun pada 2024, kebijakan dividen tetap dilakukan sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap pemegang saham.
Rincian Jadwal Dividen Bank Mega
Berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), dividen akan dibagikan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Para investor disarankan untuk mencermati cum date dan ex date agar dapat menerima dividen sesuai ketentuan.
Selain untuk dividen, Bank Mega juga mengalokasikan Rp1,58 triliun dari laba bersih ke dalam saldo laba. Sisa keuntungan lainnya akan digunakan sebagai dana cadangan untuk memenuhi regulasi yang berlaku sesuai dengan Undang-Undang Perseroan Terbatas.
Pergantian Direksi dan Komisaris Bank Mega
Selain membahas kebijakan dividen, RUPST juga menyetujui perubahan dalam jajaran manajemen. Beberapa eksekutif yang sebelumnya menjabat di perusahaan mengundurkan diri, termasuk Lay Diza Larentie sebagai Wakil Direktur Utama dan C. Guntur Triyudianto sebagai Direktur.
Sebagai pengganti, Bank Mega menunjuk Heriawan Gazali sebagai Direktur baru. Namun, pengangkatannya masih menunggu persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Fit and Proper Test.
Berikut susunan Direksi dan Komisaris terbaru Bank Mega:
- Direktur Utama: Kostaman Thayib
- Wakil Direktur Utama: Indivara Erni
- Direktur: Yuni Lastianto
- Direktur: Madi Darmadi Lazuardi
- Direktur: Martin Mulwanto
- Direktur: YB Hariantono
- Direktur: Heriawan Gazali (menunggu persetujuan OJK)
Performa Keuangan Bank Mega 2024
Bank Mega terus menjaga stabilitas keuangannya meskipun mengalami tekanan ekonomi. Total aset perusahaan tercatat tumbuh sebesar 2,17% menjadi Rp134,92 triliun pada akhir 2024. Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun mencapai Rp91,67 triliun, dengan rasio CASA meningkat menjadi 30,08% dari sebelumnya 28,83%.
Penyaluran kredit oleh Bank Mega tetap terfokus pada segmen korporasi dan joint financing, dengan total kredit mencapai Rp64,65 triliun. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL Gross) tetap terkendali di level 1,69%, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan sebesar 2,08%.
Di sisi profitabilitas, Bank Mega mencatat Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,77% dan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 70,34%. Beberapa indikator keuangan lainnya juga menunjukkan kondisi yang sehat, seperti Return on Assets (ROA) sebesar 2,56%, Return on Equity (ROE) sebesar 13,62%, Net Interest Margin (NIM) sebesar 4,64%, dan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar 73,61%.
Strategi Bisnis Bank Mega 2025
Untuk tahun 2025, Bank Mega telah menyusun strategi guna mencapai pertumbuhan berkelanjutan. Perseroan menargetkan laba bersih sebesar Rp2,8 triliun, total kredit Rp75 triliun, DPK Rp99 triliun, serta total aset mencapai Rp142 triliun.
Beberapa langkah yang akan diimplementasikan Bank Mega untuk mencapai target tersebut antara lain:
- Transformasi layanan perbankan dengan memperkuat ekosistem pelanggan melalui digitalisasi dan optimalisasi kantor cabang.
- Menurunkan biaya dana (cost of fund) dengan meningkatkan proporsi Dana Pihak Ketiga (DPK) yang lebih murah.
- Meningkatkan volume kredit sambil memperketat mitigasi risiko untuk menjaga kualitas aset.
- Mengembangkan layanan transaction banking guna meningkatkan transaksi perbankan digital dan memperluas basis nasabah.
- Efisiensi operasional, termasuk optimalisasi biaya untuk menjaga profitabilitas.
Dengan strategi ini, Bank Mega optimistis dapat mempertahankan kinerja yang solid dan memberikan nilai lebih kepada pemegang saham.












