Geser Kebawah
BisnisEnergiHeadline

Kekayaan Prajogo Pangestu Melejit Rp 590 Triliun, Efek MSCI Guncang Pasar

199
×

Kekayaan Prajogo Pangestu Melejit Rp 590 Triliun, Efek MSCI Guncang Pasar

Sebarkan artikel ini
Kekayaan Prajogo Pangestu Melejit Rp 590 Triliun, Efek MSCI Guncang Pasar
Taipan Prajogo Pangestu cetak lonjakan kekayaan Rp 590 triliun berkat efek MSCI dan reli saham Barito Renewables. Kini jadi orang terkaya di Indonesia.

Ketika Bursa Digerakkan Satu Nama: Prajogo Pangestu dan Kekuatan Kapital Raksasa

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar modal Indonesia kembali diguncang oleh fenomena langka ketika satu nama menggerakkan seluruh dinamika kapital: Prajogo Pangestu.

Miliarder yang pernah dijuluki “Raja Kayu” kini menjelma sebagai simbol dominasi kekuatan kapital, setelah kekayaannya melejit Rp 326 triliun hanya dalam empat bulan terakhir.

Sponsor
Iklan

Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index, per 7 Agustus 2025, kekayaan bersih Prajogo melonjak dari US$ 16,2 miliar menjadi US$ 36,2 miliar.

Kenaikan ini mengukuhkan posisinya sebagai orang terkaya di Indonesia, sekaligus menjadi simbol kekuatan modal lokal yang mendominasi lanskap energi dan petrokimia.

Lonjakan Tak Terduga: Efek MSCI dan Reli Saham Barito

Katalis utama lonjakan kekayaan tersebut adalah keputusan mendadak MSCI pada Juli 2025 yang membatalkan penghapusan tiga emiten terkait Prajogo dari daftar indeksnya.

Di antara ketiganya, PT Barito Renewables Energy Tbk menjadi motor utama pergerakan. Saham emiten ini langsung melesat 20% dalam satu hari perdagangan.

Kenaikan itu setara penambahan kapitalisasi sebesar US$ 3,5 miliar dalam portofolio kekayaan Prajogo Pangestu.

Pangestu menguasai sekitar 88% saham Barito Renewables, baik secara langsung maupun melalui PT Barito Pacific Tbk dan entitas Green Era Energy yang dipimpin putrinya, Nancy Pangestu.

Investor asing seperti BlackRock hanya menggenggam 0,07%, menjadikan Barito sepenuhnya perusahaan keluarga dengan dominasi lokal absolut.

Gejolak Valuasi dan Efek Psikologis Pangestu

Lonjakan harga saham yang sangat cepat memicu kekhawatiran di kalangan analis, yang menyebut gejala ini sebagai “Efek Prajogo”.

Leonardo Lijuwardi dari NH Korindo bahkan menyebut lonjakan tersebut “benar-benar gila” dan menilai kenaikan valuasinya tidak proporsional.

Pandangan serupa disampaikan Arnanto Januri dari JPMorgan yang menilai kenaikan ini sulit dibenarkan dengan analisis fundamental biasa.

Reli tajam ini, meskipun menggairahkan pasar, menciptakan potensi koreksi mendalam yang mengintai di balik euforia.

Sentimen pasar begitu dipengaruhi oleh narasi seputar kekuatan tunggal seorang taipan, membuat stabilitas harga saham menjadi sangat rentan terhadap psikologi pelaku pasar.

Dari Hutan Kalimantan ke Bursa Dunia: Jejak Bisnis Prajogo

Perjalanan bisnis Prajogo Pangestu dimulai dari industri kayu di Kalimantan Barat pada era 1970-an, ketika ia bekerja untuk Djajanti Group milik Burhan Uray.

Tujuh tahun kemudian, ia mendirikan perusahaan sendiri, yang pada 1993 sukses mencatatkan PT Barito Pacific Timber Tbk sebagai emiten terbesar di Bursa Efek Jakarta.

Namun, sejak awal 2000-an, Pangestu mulai mengalihkan fokus ke sektor petrokimia, energi panas bumi, dan pertambangan.

Langkah ini terbukti visioner, terutama saat ia mengakuisisi PT Chandra Asri dan mendirikan Star Energy Geothermal, yang kini menjadi tulang punggung Barito Renewables.

Barito Renewables kini tercatat memiliki kapasitas pembangkit panas bumi lebih dari 800 megawatt—menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

Aksi Agresif Lewat Green Era dan Ekspansi Global

Puncak transformasi bisnis keluarga Pangestu terjadi ketika Green Era, entitas berbasis di Singapura, mengakuisisi 33,33% saham Star Energy dari BCPG Thailand senilai US$ 440 juta.

Transaksi pada 2022 tersebut menjadikan keluarga Pangestu sebagai pemilik penuh aset energi bersih strategis tersebut.

Setahun kemudian, Barito Renewables dan Petrindo Jaya Kreasi resmi melantai di bursa, menandai tonggak baru ekspansi sektor energi dan batubara dalam portofolio Pangestu.

Bersama Green Era, Nancy Pangestu kini memainkan peran penting sebagai suksesor yang mengawal ekspansi energi terbarukan untuk menopang transisi bisnis ke masa depan.

Transformasi ini menempatkan Barito Group sebagai salah satu pemain kunci dalam roadmap energi bersih Indonesia menuju emisi nol bersih pada 2060.

Lompatan dan Kejatuhan: Volatilitas Kekayaan Prajogo

Kendati kini duduk nyaman di puncak daftar orang terkaya Indonesia, Prajogo juga pernah merasakan volatilitas ekstrem dalam kekayaannya.

Pada Februari 2024, kekayaan bersihnya anjlok US$ 5,4 miliar, lalu kembali terpangkas US$ 5,9 miliar pada September 2024.

Penyebabnya serupa: penghapusan saham Barito Renewables dari indeks oleh FTSE Russell, yang menurunkan kepercayaan investor institusi terhadap keberlanjutan valuasi.

Dalam satu periode singkat, kekayaan Prajogo susut hampir US$ 12 miliar—sebuah ironi yang menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap ekspektasi eksternal.

Kini, ketika MSCI membatalkan penghapusan, efeknya berbalik: reli tajam, kapitalisasi kembali naik, dan kekayaan melambung dalam sekejap.

Dampak Struktural bagi Pasar dan Regulasi

Fenomena dominasi saham oleh satu keluarga besar membuka ruang diskusi baru tentang kebutuhan regulasi yang lebih tangguh dalam mengontrol gejolak pasar.

Pasar yang sangat dipengaruhi oleh narasi perseorangan berisiko menciptakan bubble valuasi, yang bisa mengganggu stabilitas jangka panjang.

Namun dari sisi lain, kesuksesan Pangestu membuktikan bahwa model bisnis keluarga nasional mampu bersaing di panggung global tanpa sokongan modal asing dominan.

Barito Renewables menjadi contoh unik: emiten energi bersih yang mengandalkan kekuatan domestik, dan tetap menarik perhatian MSCI serta investor global.

Di tengah transisi energi dan tekanan ESG, langkah Pangestu bisa menjadi acuan bagi perusahaan-perusahaan Indonesia dalam membangun ekosistem industri berkelanjutan.

Narasi Bisnis Lokal dengan Daya Guncang Global

Prajogo Pangestu bukan sekadar miliarder, ia adalah fenomena struktural dalam lanskap ekonomi Indonesia.

Kemampuannya mengubah portofolio dari kayu, petrokimia, hingga energi terbarukan memperlihatkan daya tahan dan adaptasi yang jarang dimiliki pebisnis lokal lain.

Lebih dari itu, ia membuktikan bahwa perusahaan lokal dapat memegang kendali narasi pasar, mempengaruhi indeks global, dan memutar arah kekayaan nasional.

Kisahnya bukan hanya tentang akumulasi kekayaan, tetapi tentang kontrol atas momentum, persepsi, dan arah ekonomi Indonesia ke depan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.