Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Ketegangan AS-Iran Dorong Minyak Tembus US$67

67
×

Ketegangan AS-Iran Dorong Minyak Tembus US$67

Sebarkan artikel ini
Ketegangan AS-Iran Dorong Minyak Tembus US$67
Harga minyak melonjak hingga 2% didorong sanksi baru AS terhadap Iran dan rebound pasar saham global.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak dunia kembali menguat hampir 2% pada perdagangan Selasa (22/4/2025), setelah sempat terpukul akibat tekanan geopolitik dan kekhawatiran atas pelemahan ekonomi global.

Sentimen pasar kembali membaik seiring dengan sanksi terbaru Amerika Serikat terhadap Iran dan pemulihan pasar ekuitas setelah aksi jual tajam di sesi sebelumnya.

Sponsor
Iklan

Sanksi Baru AS Bikin Pasar Waspada

Kenaikan harga minyak dipicu oleh langkah AS yang memberlakukan sanksi baru terhadap individu dan jaringan perusahaan yang berafiliasi dengan ekspor minyak dan gas Iran.

Sanksi tersebut menargetkan taipan pengangkut minyak Iran, sehingga mempersempit ruang gerak ekspor energi dari negara Timur Tengah tersebut.

Minyak Brent untuk kontrak pengiriman naik US$ 1,18 atau 1,8% ke level US$ 67,44 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei menguat US$ 1,23 atau 2% menjadi US$ 64,32 per barel. Kontrak WTI untuk Juni, yang lebih aktif diperdagangkan, juga naik 2% ke level US$ 63,47.

John Kilduff dari Again Capital menyebutkan bahwa meski negosiasi antara Teheran dan Washington menunjukkan progres, ketidakpastian hasil akhir membuat pasar cemas. “Jika skenario aliran minyak Iran nol benar-benar terwujud, itu akan memperketat pasokan global secara signifikan,” ungkap Kilduff.

Pasar Saham Pulih, Minat Risiko Naik

Analis komoditas dari Mizuho, Robert Yawger, menjelaskan bahwa pemulihan pasar saham turut mendorong harga minyak. Kembalinya minat risiko dari investor global pasca laporan keuangan korporasi AS turut menjadi penopang sentimen positif di pasar komoditas energi.

Hari sebelumnya, harga minyak sempat anjlok lebih dari 2% akibat sinyal positif dari dialog AS-Iran dan aksi ambil untung yang melanda bursa saham. Namun, kekhawatiran berbalik arah ketika Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, memicu ketidakpastian baru di pasar keuangan.

Tarif Perdagangan AS Jadi Ancaman Permintaan

Meski rebound harga terjadi, tekanan terhadap permintaan minyak masih membayangi. Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini, mengutip eskalasi tarif AS dan memburuknya tensi dagang dengan China sebagai alasan utama.

Kepala riset komoditas Conning, Marcus McGregor, menyebut kebijakan tarif AS dapat menghambat aktivitas ekonomi global dan secara tidak langsung menekan konsumsi energi. “Biaya produksi meningkat, rantai pasok terganggu, dan sektor industri besar bisa menekan permintaan energi,” jelasnya.

Prospek Jangka Menengah Masih Rentan

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mencoba meredakan kekhawatiran dengan menyatakan bahwa hubungan dagang AS-China kemungkinan akan membaik. Namun, ia juga mengakui bahwa proses negosiasi dengan Beijing tidak akan mudah dan memerlukan waktu yang cukup panjang.

Sementara itu, Kementerian Ekonomi Rusia turut memperbarui proyeksi harga rata-rata minyak Brent untuk 2025 dengan pemangkasan hampir 17% dari estimasi sebelumnya, menandakan ekspektasi pelemahan permintaan global dalam jangka menengah.

Di sisi lain, jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS diperkirakan menurun pekan lalu, sebuah sinyal bahwa permintaan domestik masih cukup solid untuk menjaga keseimbangan pasar dalam jangka pendek.

Meski tren saat ini menunjukkan perbaikan, pelaku pasar masih harus mencermati dinamika geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global yang akan menentukan nasib harga minyak dalam beberapa bulan ke depan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.