Tekanan Harga Komoditas dan Dampak Dekonsolidasi Operasi
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan pelemahan pada performa keuangan sepanjang tahun buku dua ribu dua puluh lima.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pelemahan ini dipicu oleh tekanan pada harga jual batu bara serta dampak pemisahan unit bisnis (spin-off) PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Alamtri membukukan pendapatan sebesar USD1,87 miliar atau mengalami penurunan sebesar 10 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya senilai USD2,08 miliar.
Baca Juga
Laba bersih perseroan merosot tajam hingga 68 persen menjadi USD448 juta atau setara dengan Rp7,4 triliun dari posisi semula USD1,39 miliar pada tahun dua ribu dua puluh empat.
Penurunan signifikan pada angka laba bersih tersebut mencerminkan hilangnya kontribusi dari operasi yang dihentikan pasca dekonsolidasi unit bisnis batu bara termal.
Jika mengesampingkan faktor pemisahan unit tersebut, laba bersih Kinerja ADRO 2025 tercatat turun sebesar 27 persen dari posisi awal senilai USD570 juta.
Profitabilitas perusahaan tertekan seiring dengan anjloknya margin laba bruto menjadi 34 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 42 persen.
Laba usaha turut melemah 27 persen menjadi USD518 juta meskipun perseroan telah melakukan efisiensi dengan menekan beban usaha sebesar 24 persen.
Ekspansi Investasi Smelter dan Infrastruktur Logistik
Di tengah pelemahan laba, perseroan tetap secara agresif meningkatkan realisasi belanja modal sebesar 43 persen menjadi USD797 juta.
Lonjakan belanja modal tersebut dialokasikan untuk memperkuat investasi di sektor aluminium melalui PT Kalimantan Aluminium Industry yang telah memulai tahap pengujian.
Menurut data operasional, perusahaan juga melakukan peningkatan infrastruktur jalan angkut (hauling) tahap pertama dan pembuatan konveyor pemuatan tongkang.
Investasi strategis ini mencakup pembangunan mess karyawan pada PT Maruwai Coal guna mendukung kelancaran aktivitas produksi di lapangan.
Pertumbuhan Volume Produksi dan Rasio Utang Berbunga
Secara operasional, Kinerja ADRO 2025 menunjukkan pertumbuhan volume produksi batu bara sebesar 12 persen menjadi 7,41 juta ton.
Total penjualan juga meningkat selaras dengan kenaikan produksi pada PT Maruwai Coal dan PT Lahai Coal hingga mencapai 6,28 juta ton.
Aktivitas pengupasan lapisan penutup atau overburden removal meningkat 12 persen menjadi 26,33 juta bcm dengan nisbah kupas 3,55 kali.
Posisi kas dan setara kas perseroan terpantau turun 26 persen menjadi USD1,4 miliar pada akhir Desember dua ribu dua puluh lima.
Sebaliknya, posisi utang berbunga melesat 43 persen menjadi USD775 juta seiring dengan kebutuhan pendanaan untuk proyek-proyek strategis.
Manajemen tetap memfokuskan upaya pada efisiensi operasional dan penyelesaian infrastruktur kunci guna menjaga ketahanan bisnis di masa depan.
Penyesuaian strategi pasca spin-off ini menjadi faktor krusial yang terus dievaluasi guna memastikan kesinambungan nilai bagi para pemegang saham.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









