JAKARTA, BursaNusantara.com – Bank-bank besar Indonesia mencatat perbaikan kinerja dalam dua bulan pertama tahun ini. Bank yang tergolong dalam Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) 4 mengalami pertumbuhan laba yang lebih baik dibandingkan awal 2024, yang mayoritas hanya tumbuh di bawah 5%.
BCA Cetak Laba Tertinggi di Awal 2025
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat pertumbuhan laba tertinggi dibandingkan bank KBMI 4 lainnya. Bank swasta terbesar di Indonesia ini berhasil meningkatkan laba sebesar 8,46% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 8,97 triliun.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menjelaskan bahwa kenaikan profitabilitas BCA didorong oleh pertumbuhan kredit yang berkualitas, efisiensi biaya operasional, serta peningkatan volume transaksi dan pendanaan.
“Pertumbuhan kredit BCA yang solid diiringi dengan biaya dana yang stabil di tengah tingkat suku bunga yang kompetitif di perbankan nasional,” kata Hera.
Kinerja BNI dan Bank Mandiri
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga mencatat pertumbuhan laba sebesar 6,25% YoY menjadi Rp 3,23 triliun. Namun, pertumbuhan ini melambat dibandingkan Januari 2025, yang sempat naik 9,4% YoY.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk mengalami pertumbuhan laba sebesar 6,01% YoY, dengan total laba mencapai Rp 7,58 triliun dalam dua bulan pertama tahun ini.
Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menegaskan bahwa pihaknya optimistis dengan strategi digital yang tengah dijalankan. Platform Super App Livin’ by Mandiri dan Wholesale Digital Super Platform Kopra by Mandiri terus berkembang pesat untuk memperkuat ekosistem wholesale dan inklusi keuangan.
“Ke depan, kami akan terus memacu pengembangan bisnis dan layanan agar dapat memenuhi ekspektasi seluruh stakeholder,” ujar Darmawan dalam RUPS, Selasa (25/3).
BRI Alami Penurunan Laba
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menjadi satu-satunya bank KBMI 4 yang tidak mencatatkan kenaikan laba. Laba BRI turun 18,11% YoY, meskipun penurunannya tidak sedalam yang terjadi pada Januari 2025.
Peran Digitalisasi dalam Pertumbuhan Perbankan
Seiring dengan meningkatnya tren digitalisasi, bank-bank besar terus berupaya mengembangkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan layanan bagi nasabah. BCA, BNI, dan Bank Mandiri masing-masing telah memperkenalkan inovasi berbasis digital guna meningkatkan pengalaman perbankan dan mendorong inklusi keuangan.
BCA, misalnya, telah memperluas layanan digital mereka melalui aplikasi mobile banking yang memungkinkan nasabah mengakses berbagai layanan tanpa perlu datang ke kantor cabang. Hera F. Haryn menegaskan bahwa BCA akan terus mengembangkan ekosistem digitalnya untuk menjaga pertumbuhan profitabilitas yang berkelanjutan.
Sementara itu, Bank Mandiri melalui Kopra by Mandiri dan Livin’ by Mandiri mencatat peningkatan jumlah pengguna yang signifikan. Darmawan Junaidi menyebut bahwa transformasi digital yang dilakukan Bank Mandiri tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga membantu mendorong pertumbuhan kredit di berbagai segmen bisnis.
BNI juga telah mengadopsi berbagai teknologi finansial guna meningkatkan penetrasi layanan perbankan di Indonesia. Melalui aplikasi Wondr dan BNI Direct, bank pelat merah ini terus berinovasi dalam menghadirkan layanan digital yang lebih mudah diakses oleh masyarakat.
Tantangan dan Prospek Perbankan ke Depan
Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menilai kinerja perbankan mengalami perbaikan akibat penurunan suku bunga acuan beberapa bulan lalu. Namun, pertumbuhan pinjaman masih belum sepenuhnya pulih.
“Investor akan merespons positif ekspektasi perbankan ini,” ujar Indy.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengingatkan bahwa meskipun kinerja membaik, investor tidak hanya melihat dari sisi fundamental bank. Stabilitas politik juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi kepercayaan pasar terhadap perbankan.
“Selama pemerintah belum melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang membuat pelaku pasar dan investor kembali percaya, tekanan jual masih akan cukup besar,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, mengingatkan bahwa industri perbankan harus tetap waspada terhadap potensi risiko yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, faktor eksternal seperti ketidakpastian global dan perubahan regulasi dapat berdampak pada strategi ekspansi perbankan di Indonesia.
“Bank harus terus mengantisipasi dinamika ekonomi yang cepat berubah. Fleksibilitas dalam strategi bisnis menjadi kunci untuk menjaga kinerja tetap positif,” ujar Tauhid.
Dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada, perbankan nasional diprediksi akan terus berkembang, terutama dengan pemanfaatan teknologi digital yang semakin luas. Namun, para pelaku pasar juga tetap perlu mencermati perkembangan ekonomi makro dan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi kinerja sektor perbankan dalam jangka panjang.












