Penjualan Semen Turun, Emiten Hadapi Tekanan Harga Batubara dan Pasokan Berlebih
JAKARTA, BursaNusantara.com – Kinerja emiten semen di Indonesia diperkirakan masih belum pulih pada kuartal II 2025 akibat tekanan permintaan domestik yang melemah.
Data menunjukkan penjualan semen nasional pada kuartal I 2025 turun 7,8% secara tahunan menjadi 13,16 juta ton.
Penurunan tersebut tercatat di hampir seluruh wilayah, dengan penjualan semen curah di Jawa turun 4,1% dan non-Jawa terkontraksi tajam hingga 30,4%.
Situasi ini memberi tantangan serius bagi pelaku industri semen yang harus berhadapan dengan kelebihan pasokan.
Faktor Harga Batubara dan Efek Terhadap Margin Laba
Chief Executive Officer Edvisor Provina Visindo, Praska Putrantyo, menjelaskan volatilitas harga batubara sebagai bahan baku utama produksi semen menjadi tekanan besar bagi emiten.
Kenaikan harga batubara berpotensi menekan margin laba di tengah kondisi pasar yang kurang bergairah.
Ia menambahkan, efisiensi penggunaan bahan bangunan di proyek infrastruktur seperti Ibu Kota Negara (IKN) turut membatasi kebutuhan semen, meski proyek infrastruktur pemerintah lainnya masih menjadi potensi penggerak permintaan.
Stimulus BI dan Proyeksi Permintaan Properti
Bank Indonesia yang baru saja menurunkan suku bunga acuannya diharapkan dapat merangsang penjualan properti residensial, yang berimbas positif pada kebutuhan semen.
Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, memperkirakan permintaan semen akan mulai pulih saat cuaca kembali panas dan aktivitas konstruksi meningkat.
Aditya memperkirakan volume penjualan semen nasional tumbuh tipis 0,5% hingga 1% sepanjang 2025. Namun, pemangkasan anggaran pemerintah menjadi risiko yang membatasi laju pertumbuhan tersebut.
Pergerakan Pangsa Pasar dan Rekomendasi Saham
Aditya mencatat PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) berhasil memperkuat pangsa pasarnya menjadi 30,7% per Maret 2025 dari 29,5% di awal tahun.
Sementara itu, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mengalami penurunan pangsa pasar dari 48% menjadi 46% dalam periode yang sama.
Sejalan dengan data tersebut, Analis merekomendasikan pembelian saham INTP dengan target harga jangka menengah hingga panjang di kisaran Rp 6.500 hingga Rp 7.400 per saham.











