Optimalisasi Kawasan Konservasi dalam Lahan Tambang Semen Tonasa
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) secara konsisten melakukan penguatan standar lingkungan melalui pendekatan keanekaragaman hayati untuk mengoptimalkan Kinerja ESG SMGR.
Melalui anak usahanya, PT Semen Tonasa, perseroan menetapkan lahan seluas 31,64 hektare sebagai kawasan konservasi yang dikenal dengan nama Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong.
Lahan konservasi tersebut mencakup 11,3 persen dari total luas tambang tanah liat milik Semen Tonasa di Pangkep, Sulawesi Selatan, yang mencapai 280 hektare.
Pengakuan Dunia terhadap Cagar Budaya dan UNESCO Global Geopark
Berdasarkan keterangan resmi Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, pada Rabu (4/3/2026), kawasan ini telah resmi menjadi bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark sejak tahun 2023.
Penetapan tersebut merujuk pada hasil Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris yang memasukkan geosite Bulu Sipong 4 ke dalam daftar bergengsi dunia.
Situs Leang Bulu Sipong 4 menyimpan warisan seni cadas tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun yang menggambarkan adegan perburuan manusia prasejarah.
Langkah perlindungan ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen perseroan terhadap pembangunan berkelanjutan dan pelestarian warisan budaya internasional di tengah area operasional tambang.
Perseroan telah menjalin kerja sama strategis dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk memastikan perlindungan gua prasejarah tersebut tetap terjaga sesuai standar cagar budaya.
Peningkatan Signifikan Indeks Kehati Flora dan Fauna
Upaya konservasi yang dilakukan berdampak positif pada peningkatan Kinerja ESG SMGR yang tercermin dari kenaikan Indeks Kehati di kawasan Bulu Sipong.
Hingga tahun 2025, Indeks Kehati Flora di area tersebut tercatat naik menjadi 1,54 dibandingkan dengan angka 1,38 pada periode tahun 2020.
Perseroan mencatat terdapat 25 jenis flora dengan total 2.898 pohon, termasuk tanaman endemik lokal seperti eboni, kayu kuku, dan bitti.
Sejalan dengan kekayaan flora, Indeks Kehati Fauna juga mengalami pertumbuhan menjadi 2,85 dari posisi sebelumnya sebesar 2,51 pada lima tahun lalu.
Kawasan ini menjadi habitat bagi 41 jenis satwa liar yang meliputi 37 jenis burung, serta primata endemik yang dilindungi seperti monyet dare dan tarsius.
Hasil pemantauan hingga 2025 menunjukkan jumlah satwa di kawasan tersebut telah mencapai 869 ekor yang menandakan ekosistem sekitar tambang semakin asri.
Pengelolaan Warisan Budaya secara Berkelanjutan dan Terukur
Perseroan menggandeng LPPM Universitas Hasanuddin dalam menyusun Cultural Heritage Management Plan sebagai panduan teknis pengelolaan situs cagar budaya secara profesional.
Sinergi juga dilakukan bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX untuk memantau kualitas udara ambien dan getaran di sekitar situs secara berkala.
Guna meminimalisir dampak debu, perusahaan melakukan pengerasan jalan tambang sepanjang 1.800 meter serta penyiraman rutin di jalur operasional tersebut.
Pihak manajemen juga membangun pembatasan akses fisik melalui pemasangan pagar sepanjang 1.900 meter untuk melindungi area sensitif dari gangguan eksternal.
Edukasi rutin diberikan kepada karyawan dan masyarakat sekitar mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan pelestarian sejarah peradaban.
Langkah sistematis ini diharapkan mampu mempromosikan sejarah budaya kepada masyarakat luas sekaligus mempertahankan nilai-nilai lingkungan secara berkelanjutan.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












