Geser Kebawah
Ekonomi Makro

Kopdes Merah Putih Targetkan 2 Juta Lapangan Kerja

57
×

Kopdes Merah Putih Targetkan 2 Juta Lapangan Kerja

Sebarkan artikel ini
Kopdes Merah Putih Targetkan 2 Juta Lapangan Kerja
Koperasi Merah Putih bakal menjadi motor ekonomi desa dengan target serap 2 juta tenaga kerja dan integrasi layanan pangan, energi, dan kesehatan.

Koperasi Merah Putih Diposisikan Jadi Tulang Punggung Ekonomi Desa

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah pusat sedang menggenjot pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai pusat kegiatan ekonomi terpadu untuk menopang kemandirian desa di seluruh Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa koperasi tersebut disiapkan bukan sekadar tempat belanja sembako.

Sponsor
Iklan

Zulhas menilai koperasi desa harus menjadi pusat layanan multifungsi mulai dari pangan, energi, hingga kesehatan.

Koperasi Merah Putih juga diproyeksikan akan menyerap sedikitnya dua juta tenaga kerja desa.

Dalam jangka pendek, pemerintah akan fokus memperkuat kelembagaan dan pendampingan koperasi tersebut.

“Enggak bisa dilepas, harus dibimbing dulu sampai kuat,” kata Zulhas usai peluncuran pelatihan Kopdes di Jakarta.

Koperasi sebagai Ekosistem Ekonomi Desa Terpadu

Zulkifli Hasan menggarisbawahi peran koperasi sebagai simpul utama pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas lokal.

Koperasi Merah Putih dirancang sebagai platform distribusi yang efisien dan langsung terkoneksi dengan masyarakat.

Unit usaha koperasi akan meliputi warung sembako, agen pupuk, pangkalan LPG, hingga pos layanan kesehatan.

Dengan struktur tersebut, aktivitas ekonomi desa diharapkan kembali bergairah dan berkelanjutan dari bawah.

Pemerintah ingin memastikan setiap balai desa bertransformasi jadi pusat layanan ekonomi modern.

Model ini juga memperkuat rantai pasok pangan, mulai dari produsen lokal hingga ke rumah tangga konsumen.

Skema koperasi ini akan mengeliminasi rantai distribusi yang panjang dan mahal.

Integrasi Koperasi dengan Program BUMN dan Bantuan Pangan

Koperasi Merah Putih tidak berdiri sendiri, tetapi akan bersinergi erat dengan sejumlah BUMN.

Bulog, ID Food, dan Pertamina Patra Niaga akan menjadi mitra utama koperasi dalam pengadaan dan distribusi kebutuhan pokok.

Saat terjadi lonjakan harga pangan, koperasi akan jadi ujung tombak penyaluran operasi pasar.

Menurut Zulhas, ini akan mempercepat efektivitas distribusi bantuan langsung ke warga desa.

Kopdes akan menjadi kanal resmi pendistribusian minyak goreng bersubsidi dan beras SPHP.

Sistem ini dirancang agar tidak hanya efisien, tetapi juga akuntabel karena berbasis badan hukum koperasi.

80.000 Koperasi Sudah Terbentuk, Target Hukum Sah Akhir Juni

Zulhas mengungkapkan bahwa hingga akhir Mei 2025, telah terbentuk 80.000 unit koperasi Merah Putih.

Dari jumlah tersebut, 65.000 koperasi sudah berbadan hukum resmi.

Pemerintah menargetkan seluruh koperasi akan sah secara hukum paling lambat 30 Juni 2025.

Pembentukan koperasi ini berlangsung cepat, bahkan hanya dalam waktu satu setengah bulan sejak mandat diberikan.

“Saya baru diberi tugas 14 April, dan hingga 30 Mei hampir semua sudah terbentuk,” ujar Zulhas.

Kecepatan ini menjadi indikator kuatnya komitmen pemerintah untuk mereformasi ekonomi desa melalui koperasi.

Tiga Tahun Pembinaan Intensif Menuju Kemandirian Desa

Pemerintah menyadari bahwa koperasi baru tidak bisa langsung mandiri begitu dibentuk.

Untuk itu, akan dibentuk tim pendamping di tiga level: pusat, provinsi, dan kabupaten.

Selama tiga tahun pertama, koperasi akan mendapatkan pembinaan kelembagaan dan manajemen.

Tujuannya, agar dalam jangka menengah koperasi bisa menjalankan fungsi ekonomi tanpa bergantung pada pusat.

Pendampingan juga mencakup pelatihan digitalisasi, laporan keuangan, dan tata kelola koperasi profesional.

Kemandirian koperasi akan menjadi indikator keberhasilan reformasi ekonomi berbasis desa ini.

Narasi Baru Kemandirian Desa Lewat Ekonomi Kolektif

Langkah Zulhas membawa semangat baru dalam membangun kemandirian desa berbasis ekonomi kolektif.

Bukan sekadar program temporer, Koperasi Merah Putih menawarkan fondasi jangka panjang untuk pertumbuhan inklusif.

Alih-alih top-down, strategi ini menempatkan warga desa sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi.

Zulhas tak hanya membentuk koperasi, tapi merancang ulang peran desa dalam rantai distribusi nasional.

“Kalau balai desa hidup, desa hidup. Kalau desa hidup, Indonesia kuat,” ujar Zulhas tegas.

Dengan basis 80.000 koperasi, ekosistem ini bisa menjadi salah satu transformasi ekonomi lokal terbesar pascareformasi.