UMKM Kopi Lokal Rembang Tembus Pasar Nasional
JAKARTA, BursaNusantara.com – Di balik hangatnya secangkir kopi, tersimpan kisah sukses usaha kecil asal Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Kopi Lelet Pandawa, produk UMKM yang lahir dari Desa Sendangagung, kini menjelma sebagai simbol pemberdayaan ekonomi lokal yang berhasil menembus pasar nasional.
Usaha ini merupakan bagian dari binaan Rumah BUMN PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (IDXSMGR) melalui anak usahanya, PT Semen Gresik.
Upaya pembinaan tersebut membuahkan hasil berupa pertumbuhan bisnis signifikan dari sisi produksi, pemasaran, hingga penyerapan tenaga kerja.
Peran Strategis Rumah BUMN Rembang
Menurut keterangan Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, Minggu (16/6/2025), Rumah BUMN (RB) Rembang telah menjadi motor penggerak pertumbuhan UMKM di wilayah pesisir utara Jawa. Sejak 2020, lebih dari 495 UMKM berhasil naik kelas.
Dari sisi lapangan kerja, RB Rembang mencatat penyerapan tenaga kerja mencapai 1.869 orang. Angka tersebut menjadi bukti nyata kontribusi SIG dalam mendorong pemerataan ekonomi.
SIG mengintegrasikan pendampingan UMKM dalam kerangka program tanggung jawab sosialnya. Proses ini dilakukan lewat pelatihan, penguatan branding, hingga ekspansi digital yang mendongkrak daya saing UMKM seperti Kopi Lelet Pandawa.
Kisah Perjuangan Totok Wahyudi
Mohammad Totok Wahyudi (42), pemilik Kopi Lelet Pandawa, memulai usahanya pada Oktober 2019. Berbekal modal Rp25 juta dan alat sangrai sederhana, ia mulai meracik kopi khas pesisir Rembang yang dikenal sebagai kopi lelet.
Produk racikan Totok mulanya hanya dipasarkan ke lingkungan kerabat dan toko kelontong sekitar. Namun, keterlibatannya dalam RB Rembang sejak 2020 menjadi titik balik dalam skala usahanya.
“RB Rembang memberikan saya pelatihan manajemen dan membuka jaringan digital marketing yang memperluas jangkauan pasar,” ungkap Totok. Kini, usahanya tidak hanya dikenal di Rembang, tapi juga merambah wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Kalimantan dan Bali.
Pemberdayaan Masyarakat Lewat Kopi
Saat ini, usaha Kopi Lelet Pandawa memperkerjakan 14 karyawan, seluruhnya berasal dari desa Sendangagung. Karyawan terlibat penuh dari proses sangrai, pengemasan, hingga distribusi.
Dengan kualitas premium dan racikan otentik tanpa campuran, kopi ini dijual seharga Rp19 ribu per bungkus. Dari segi volume, Kopi Lelet Pandawa mampu menjual hingga 2.100 bungkus per hari.
Omzet hariannya menembus rata-rata Rp30 juta. Angka tersebut bukan hanya cerminan sukses usaha, tetapi juga dampak positif dari pendampingan korporasi terhadap UMKM.
Mendukung Visi Ekonomi Pemerintah
SIG menegaskan bahwa capaian ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong kewirausahaan dan membuka lapangan kerja. Model seperti RB Rembang dapat direplikasi untuk mendorong UMKM lain naik kelas.
“Di balik aroma khas kopi yang mengepul di tiap cangkirnya, Kopi Lelet Pandawa hadir sebagai cerita keberhasilan pemberdayaan ekonomi lokal dari Kabupaten Rembang,” ujar Vita Mahreyni.
Melalui skema pembinaan berkelanjutan, SIG memperkuat posisi UMKM sebagai pilar ekonomi kerakyatan. Kopi Lelet Pandawa menjadi contoh riil bahwa usaha kecil pun bisa go nasional, asalkan didukung dengan strategi dan kolaborasi tepat.
Totok Wahyudi kini tak sekadar pelestari tradisi, melainkan agen perubahan ekonomi yang berhasil membuktikan bahwa mimpi besar bisa dimulai dari secangkir kopi di desa kecil.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











