Strategi Krakatau Steel Tak Terpengaruh Gejolak Ekonomi AS
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menunjukkan ketenangan dalam menghadapi potensi dampak kebijakan tarif Amerika Serikat.
Perusahaan menegaskan sudah terbiasa menghadapi fluktuasi global dan kini fokus memperkuat fondasi bisnis jangka panjang.
Direktur Utama KRAS, Muhammad Akbar, menyampaikan bahwa pihaknya tidak khawatir dengan kebijakan proteksionis Amerika Serikat, termasuk tarif impor baja yang diidentikkan dengan kebijakan Donald Trump.
Menurut Akbar, kontribusi ekspor baja ke AS terhadap PDB nasional hanya sekitar 18%, sehingga potensi dampaknya dinilai tidak signifikan terhadap keseluruhan kinerja perusahaan.
“Jangan melihat terlalu jauh kebijakan Trump bakal meluluhlantakkan industri baja nasional,” tegasnya dalam sesi Media Gathering, Jumat (11/4).
Terlatih Hadapi Volatilitas Global
KRAS menganggap gejolak kurs dolar AS sebagai hal yang lumrah dan sudah menjadi bagian dari dinamika industri baja. Pergerakan nilai tukar bukanlah tantangan baru bagi perusahaan.
“Dari dulu kami hadapi dolar Rp10.000, naik Rp12.000, lalu Rp14.000 dan Rp17.000. Ini hal yang sudah biasa,” jelas Akbar.
Pandangan ini menunjukkan bahwa KRAS tidak bereaksi secara emosional terhadap ketidakpastian eksternal, tetapi justru menggunakan pengalaman panjangnya untuk tetap tangguh.
Perluas Perdagangan Internasional Non-AS
Sebagai langkah konkret, Krakatau Steel memperkuat relasi perdagangan internasional dengan negara-negara di luar Amerika Serikat. Perusahaan kini aktif menjalin kerja sama bilateral dan multilateral untuk membuka jalur ekspor ke berbagai wilayah.
“Sekarang kita punya mitra dagang ke Italia, Spanyol, Afrika, Pakistan dan negara lainnya,” ungkap Akbar.
Langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pasar AS, tapi juga memperluas jangkauan distribusi produk baja nasional ke pasar nontradisional.
Diversifikasi Bisnis Jadi Pilar Pertahanan
Lebih dari sekadar ekspansi pasar, Krakatau Steel juga menjalankan strategi diversifikasi usaha untuk memperkuat posisi bisnis di tengah ketidakpastian global.
Akbar menjelaskan bahwa KRAS tidak hanya berfokus pada industri baja, tapi juga mengembangkan kawasan industri dengan konektivitas logistik yang kuat.
“Ini bukan berarti kami meninggalkan baja, tapi sektor ini tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya.
KRAS saat ini telah memiliki berbagai lini usaha dari sektor restoran, air bersih, pelabuhan, hotel, rumah sakit, hingga pembangkit listrik. Semua unit ini saling terintegrasi dalam ekosistem kawasan industri Krakatau Steel.
Dengan strategi yang terukur dan pijakan bisnis yang kokoh, KRAS berupaya menghadapi 2025 dengan keyakinan bahwa ketahanan korporasi bukan sekadar bertahan, tapi tumbuh dari kekuatan yang dibangun secara beragam dan berkelanjutan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










