JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) tetap menunjukkan ketangguhan di tengah tekanan bisnis global sepanjang 2024, meski harus menghadapi penurunan pendapatan yang signifikan.
Emiten baja milik negara ini berhasil menjaga arus kas dari aktivitas operasional tetap positif, serta mencatat pertumbuhan aset tahunan.
Pendapatan Anjlok, Arus Kas Tetap Terjaga
Laporan keuangan tahunan yang telah diaudit menunjukkan Krakatau Steel membukukan pendapatan sebesar US$ 954,60 juta atau setara Rp 15,42 triliun pada 2024.
Baca Juga: Krakatau Steel Andalkan Diversifikasi Hadapi Dinamika Global
Jumlah tersebut menurun tajam 34,35% dibandingkan pendapatan 2023 yang mencapai US$ 1,45 miliar.
Meski demikian, Direktur Utama Krakatau Steel Muhamad Akbar Djohan menekankan bahwa perusahaan tetap mampu menjaga stabilitas operasional.
Salah satu pencapaian penting adalah laba bruto sebesar US$ 106,94 juta (Rp 1,73 triliun) dan EBITDA positif senilai US$ 6,63 juta (Rp 107,17 miliar).
Baca Juga: Krakatau Steel Ekspor 11.600 Ton Baja ke Eropa, Pasar Makin Luas
Pabrik HSM 1 Jadi Tumpuan Pemulihan
Sepanjang tahun lalu, Krakatau Steel mengalami gangguan produksi akibat tidak beroperasinya pabrik Hot Strip Mill 1 (HSM 1). Meski begitu, perusahaan tetap fokus pada efisiensi dan strategi adaptif untuk mempertahankan kinerja.
Dengan rencana pengoperasian kembali HSM 1 yang memiliki kapasitas produksi hingga 2,4 juta ton Hot Rolled Coil (HRC) per tahun manajemen berharap bisa kembali meningkatkan volume produksi baja nasional secara signifikan.
Beban Keuangan Masih Jadi Tantangan Berat
Di sisi lain, Krakatau Steel masih dibayangi tekanan keuangan. Perusahaan mencatat rugi periode berjalan sebesar US$ 148,42 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun.
Baca Juga: DPR Dukung Krakatau Steel (KRAS) Perkuat Industri Baja Nasional
Angka tersebut dipicu oleh tingginya beban keuangan yang mencapai US$ 153,65 juta (Rp 2,48 triliun) serta bagian rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar US$ 49,68 juta (Rp 802,66 miliar).
Meski mencatat kerugian, Akbar Djohan menegaskan bahwa manajemen tetap berkomitmen untuk memperbaiki kondisi keuangan dan memperkuat struktur usaha melalui kerja sama strategis.
Diversifikasi Bisnis Jadi Fokus Masa Depan
Strategi jangka panjang Krakatau Steel tak hanya bergantung pada sektor industri baja. Melalui penguatan lini bisnis subholding, perusahaan kini aktif mengembangkan sektor lain seperti kawasan industri, jasa kepelabuhanan, logistik, energi, dan pengelolaan air industri.
Baca Juga: Industri Baja RI Tertekan Tarif Trump dan Banjir Impor
Menurut Akbar Djohan, diversifikasi ini menjadi pendorong utama yang mampu menjaga daya saing dan memperkuat posisi Krakatau Steel Group dalam ekosistem industri nasional.
Dengan serangkaian langkah transformasi serta dukungan dari berbagai pihak, Krakatau Steel optimistis dapat meningkatkan brand equity dan kembali merebut kepercayaan pasar di tahun-tahun mendatang.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







