Andalkan Paylater, Allo Bank Dongkrak Kredit Meski Risiko Naik
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) kembali mencetak pertumbuhan kredit pada kuartal I/2025 dengan total penyaluran mencapai Rp6,95 triliun, naik tipis 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp6,83 triliun.
Di tengah ketatnya persaingan industri keuangan digital, lonjakan ini dikontribusikan oleh produk berbasis konsumer yang sedang naik daun: Allo Paylater.
Menurut Direktur Utama Allo Bank, Indra Utoyo, pertumbuhan agresif produk BNPL (buy now pay later) menjadi faktor pendorong utama. Selama tahun 2024, kredit dari produk Allo Paylater disebut meningkat lebih dari 200%.
“Kami melihat pertumbuhan BNPL termasuk paylater masih sangat berpotensi ke depannya, mengikuti tren transaksi online dan adopsi di merchant offline yang terus meningkat,” ujar Indra dalam wawancara Kamis (22/5).
Kredit Naik, Tapi Risiko Ikut Terdorong
Namun di balik pertumbuhan tersebut, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) juga menunjukkan tren kenaikan. Per kuartal I/2025, NPL Gross BBHI naik menjadi 1,45%, dari sebelumnya hanya 0,39% pada periode yang sama tahun lalu.
Begitu pula dengan NPL Net yang ikut naik ke level 0,51%, dari sebelumnya 0,24%. Meski demikian, Indra mengklaim bahwa angka tersebut masih dalam batas aman dan berada di bawah rata-rata industri yang mencapai 2,2% per Februari 2025, mengacu pada data OJK.
Strategi Bunga Fleksibel Berdasarkan Risiko
Untuk mengelola portofolio kreditnya, Allo Bank menerapkan pendekatan risk-based pricing. Skema ini membuat debitur dengan profil risiko tinggi mendapatkan suku bunga lebih besar, sementara yang berisiko rendah akan mendapat bunga yang lebih ringan.
Meski begitu, Indra menekankan bahwa suku bunga bukan satu-satunya pertimbangan bagi calon debitur.
Elemen seperti kemudahan proses pengajuan, plafon kredit, pilihan tenor, hingga fleksibilitas syarat dan ketentuan menjadi faktor kunci dalam pengambilan keputusan konsumen.
“Banyak juga yang menjadi pertimbangan, seperti kemudahan proses, limit kredit, pilihan tenor, dan fleksibilitas terms & conditions,” jelas Indra.
Kembangkan Kemitraan Digital dan Open Banking
Tak berhenti di situ, Allo Bank juga mengembangkan jaringan kemitraan melalui model open banking, salah satunya dengan melibatkan operator seluler (mobile operator).
Strategi ini memungkinkan integrasi layanan perbankan digital ke dalam platform pihak ketiga demi memperluas jangkauan pengguna.
Untuk memperkuat akuisisi pengguna baru, berbagai insentif digital digencarkan. Mulai dari kampanye pemasaran online, penawaran cashback, hingga diskon khusus akan digunakan sebagai alat promosi agresif dalam memperbesar basis konsumen.
Target Allo Bank: Tumbuh Kompetitif dan Berkelanjutan
Di tengah sorotan pasar terhadap kualitas aset perbankan digital, Allo Bank tetap memasang target ambisius. Fokusnya bukan hanya tumbuh secara cepat, tetapi berkelanjutan dan lebih tinggi dari rata-rata industri.
“Kami di Allo Bank ingin mencapai pertumbuhan kredit secara kompetitif namun sustainable, dengan level pertumbuhan di atas rata-rata industri perbankan,” tutup Indra.
Langkah ini menempatkan Allo Bank dalam jalur kompetisi ketat di industri BNPL dan fintech perbankan, namun juga menuntut kehati-hatian lebih dalam menjaga kualitas kredit di tengah laju ekspansi yang cepat.












