JAKARTA, BursaNusantara.com – Lesunya laju ekonomi nasional turut menyeret performa penyaluran kredit konsumsi perbankan. Perlambatan ini mencerminkan tekanan nyata terhadap daya beli masyarakat sekaligus menjadi cerminan tantangan sektor finansial di kuartal pertama tahun 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 hanya mencapai 4,87% secara tahunan (YoY), lebih rendah dari capaian pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,02% YoY.
Perlambatan ini berdampak langsung pada pertumbuhan kredit konsumsi, sebagaimana terlihat dari data uang beredar Bank Indonesia per Maret 2025.
Kredit konsumsi hanya tumbuh 9,2% YoY menjadi Rp 2.235,7 triliun. Angka tersebut menurun dari pertumbuhan Februari 2025 yang mencapai 10,2% YoY, serta Januari yang masih tercatat 10,3% YoY.
Baca Juga: Strategi Hadapi Tantangan Kredit Korporasi di Tengah Ketidakpastian 2025
Mayoritas Segmen Kredit Alami Pelemahan
Rinciannya, sebagian besar lini utama kredit konsumsi mengalami perlambatan signifikan. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tumbuh 8,9% YoY dengan nilai Rp 806,2 triliun, melemah dari pertumbuhan Februari sebesar 10,7%.
Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) mencatat pertumbuhan 5,9% YoY menjadi Rp 144,8 triliun, juga melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 6,1%. Sementara itu, kredit multiguna tumbuh 9,7% YoY menjadi Rp 1.284,7 triliun, menurun dari 10,3% YoY di Februari.
Menurut Trioksa Siahaan, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), pelemahan ini tidak terlepas dari daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Selain itu, kondisi likuiditas di sektor perbankan juga belum sepenuhnya ideal.
Baca Juga: BCA Catat Laba Bersih Rp 8,97 Triliun di Februari 2025
Daya Beli Terkikis, Persaingan Kredit Memanas
Direktur Kepatuhan Bank OK, Efdinal Alamsyah, menilai ada tiga tantangan utama yang menekan prospek kredit konsumsi.
Pertama adalah tekanan terhadap daya beli akibat suku bunga tinggi dan lonjakan harga kebutuhan pokok, yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengambil pinjaman.
Kedua, ketatnya persaingan antarbank dan lembaga keuangan teknologi (fintech) dalam merebut pangsa pasar kredit konsumer.
Ketiga, risiko memburuknya kualitas aset seiring potensi kenaikan kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL).
Baca Juga: BTN Catat Laba Turun 15%, Pertumbuhan Kredit Stagnan
Bank OK sendiri mencatat penurunan outstanding kredit retail sebesar 9% YoY hingga Mei 2025. Untuk menjaga kualitas kredit, Bank OK memilih pendekatan konservatif, termasuk memperkuat digitalisasi, diversifikasi produk ke sektor rendah risiko, serta mempertahankan kualitas NPL tetap rendah.
Efdinal memastikan bahwa target pertumbuhan kredit Bank OK secara keseluruhan tetap dipertahankan sebesar 10% YoY tahun ini, dengan fokus pada segmen korporasi, ritel, dan UMKM. “Sejauh ini kami masih berada di jalur target,” tegasnya.
Bank-Bank Besar Masih Optimistis, Belum Ubah Proyeksi
Di tengah pelambatan ini, bank-bank besar tetap mempertahankan target ekspansi kredit mereka. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), misalnya, belum mengubah proyeksi pertumbuhan kredit sebesar 6%–8% untuk tahun 2025.
Baca Juga: Dividen BBCA 2025 dan Harga Saham BCA Jadi Sorotan Investor
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyebut BCA terus memantau dinamika ekonomi namun tetap fokus pada penguatan fundamental bisnis dan pengelolaan risiko yang pruden.
BCA mencatatkan kredit konsumer sebesar Rp 225,7 triliun di kuartal I 2025, meningkat 11,3% YoY dibandingkan Rp 202,7 triliun pada kuartal I 2024.
Rinciannya, KPR tumbuh 10,5% YoY menjadi Rp 135,3 triliun, KKB naik 12,3% YoY ke Rp 67,1 triliun, dan pinjaman lain termasuk kartu kredit naik 13,9% YoY menjadi Rp 23,3 triliun.
“BCA akan terus dorong penyaluran kredit ke seluruh segmen, mulai dari korporasi, UMKM, hingga individu,” ujar Hera.
Baca Juga: BCA Digital Catat Pendapatan Operasional Rp 1,1 Triliun di 2024
Bank Daerah Masih Tahan Target, Tapi Tetap Waspada
Bank pembangunan daerah juga mencermati gejolak ekonomi dengan seksama. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) belum merevisi target kredit 2025, baik dari sisi segmen maupun total penyaluran.
Direktur Keuangan Bank Jatim, Edi Masrianto, menyampaikan bahwa pada triwulan I 2025, kredit konsumer masih tumbuh 12,78% YoY menjadi Rp 35 triliun.
Namun ia mengakui bahwa kondisi ekonomi nasional dan regional akan menjadi bahan evaluasi lanjutan dalam menentukan target kredit ke depan.
Edi menyoroti berbagai tantangan di Jawa Timur seperti tingginya angka pengangguran, efisiensi belanja pemerintah, dan kompetisi digital antarbank.
Menurutnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga saat ini sebagian besar ditopang oleh faktor musiman seperti hari besar keagamaan, tahun ajaran baru, serta insentif fiskal dari pemerintah, seperti potongan pajak.
Meskipun demikian, Bank Jatim tetap menaruh perhatian penuh terhadap faktor eksternal yang bisa berdampak langsung pada permintaan kredit konsumsi di daerah.
Kinerja Kredit Konsumsi Jadi Barometer Daya Beli
Tren perlambatan kredit konsumsi menjadi refleksi dari meningkatnya kehati-hatian publik dalam mengambil utang di tengah tekanan ekonomi.
Perbankan harus menghadapi situasi ini dengan strategi yang lebih adaptif, efisien, dan berbasis risiko, tanpa mengorbankan stabilitas pertumbuhan jangka panjang.
Saat tantangan ekonomi semakin kompleks, respons perbankan akan menjadi indikator utama seberapa tangguh sistem keuangan nasional dalam menjaga ritme pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.












