Geliat Investasi: Kredit Produktif Tembus Rp6.096 Triliun, Sektor Energi Jadi Primadona
JAKARTA – Sektor perbankan Indonesia menutup tahun 2025 dengan catatan gemilang di lini pembiayaan. Total penyaluran kredit produktif nasional dilaporkan mencapai angka fantastis Rp6.096,2 triliun, tumbuh signifikan sebesar 10,48% secara tahunan (year on year/yoy).
Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026 mengonfirmasi bahwa pertumbuhan kredit secara keseluruhan berada di angka 9,69% yoy, selaras dengan target BI di rentang 8-11%.
Sektor Listrik & Gas Tumbuh “Gila-gilaan”
Berdasarkan data Uang Beredar (M2) Desember 2025, terjadi lonjakan luar biasa pada sektor listrik, gas, dan air bersih yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 39,31% yoy. Di sisi lain, sektor pengangkutan dan komunikasi menyusul dengan kenaikan 20,85% yoy.
Berikut adalah rincian lima besar penyaluran kredit berdasarkan sektor ekonomi per Desember 2025:
Sektor Ekonomi Nilai Penyaluran Pertumbuhan (yoy) Perdagangan, Hotel, & Restoran Rp 1.389,7 Triliun +3,94% Industri Pengolahan Rp 1.255,6 Triliun +6,20% Keuangan & Real Estate Rp 827,8 Triliun +4,20% Pertanian & Perikanan Rp 628,7 Triliun +13,99% Pengangkutan & Komunikasi Rp 525,6 Triliun +20,85%
Ironi UMKM: Melandai di Tengah Ekspansi Korporasi
Meskipun kredit investasi korporasi melesat tajam sebesar 21,06% yoy, terdapat tantangan nyata pada segmen akar rumput. Realisasi kredit ke sektor UMKM justru turun 0,3% yoy, sementara kredit konsumsi hanya mampu tumbuh moderat di angka 6,58% yoy.
Situasi ini memicu perlunya dorongan lebih kuat bagi pelaku usaha untuk memanfaatkan undisbursed loan atau fasilitas pinjaman yang belum ditarik guna mengakselerasi ekspansi usaha.
Proyeksi 2026: Tetap Solid dengan Manajemen Risiko Ketat
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, memproyeksikan intermediasi perbankan pada tahun 2026 akan tetap kokoh. Kredit produktif, baik modal kerja maupun investasi, diprediksi akan terus menjadi motor penggerak utama ekonomi nasional.
“Kinerja intermediasi perbankan diproyeksikan tetap solid dengan kualitas kredit yang terjaga melalui tata kelola dan manajemen risiko yang memadai,” ujar Dian dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).
Namun, OJK memberikan catatan bahwa dinamika global dan domestik tetap akan memengaruhi iklim investasi. Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat diperlukan untuk menciptakan efek multiplier yang mampu mendongkrak kembali konsumsi rumah tangga serta geliat UMKM di tahun ini.












