JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar kripto mengalami koreksi dalam 24 jam terakhir, dengan harga Bitcoin (BTC) melemah 0,42% ke level US$ 84.204 per koin atau setara Rp 1,38 miliar (kurs Rp 16.500). Koreksi ini turut menekan kapitalisasi pasar kripto global yang turun 0,2% menjadi US$ 2,76 triliun.
Bitcoin dan Kripto Utama Terkoreksi
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, beberapa aset kripto utama juga mengalami pelemahan. Binance Coin (BNB) turun 0,22% menjadi US$ 628 per koin, sedangkan Ethereum (ETH) justru menguat 0,33% menjadi US$ 1.986 per koin.
Menurut laporan Trading View, minat spekulatif di pasar kripto menurun akibat peralihan investor ke aset digital yang lebih aman. Ketidakpastian makroekonomi global dan maraknya kasus penipuan memecoin turut berkontribusi terhadap pelemahan ini.
Indikasi Bearish di Pasar Kripto
Data dari Glassnode menunjukkan bahwa metrik hot supply Bitcoin, yang mengukur jumlah BTC berusia satu minggu atau kurang, anjlok lebih dari 50% dari 5,9% pada akhir November menjadi hanya 2,3% pada 20 Maret. Penurunan ini menandakan pergeseran strategi investor ke posisi yang lebih konservatif.
Ryan Lee, Kepala Analis di Bitget Research, menjelaskan bahwa pelemahan harga Bitcoin dalam jangka pendek sering terjadi di pasar bullish, tetapi indikator struktural menunjukkan bahwa kondisi saat ini berpotensi menandai pergeseran tren yang lebih mendalam.
Indeks Bull Score Menunjukkan Sinyal Lemah
Salah satu indikator penting, Indeks Bull Score dari CryptoQuant, menunjukkan tanda pelemahan yang lebih serius. Indeks ini mengevaluasi sepuluh indikator utama seperti volume transaksi, profitabilitas investor, dan likuiditas pasar. Skor saat ini berada di level 20, yang merupakan posisi terendah sejak Januari 2023.
Sejak Desember 2024, delapan dari sepuluh indikator dalam indeks menunjukkan sinyal peringatan. Aktivitas jaringan dan volume transaksi melemah, sementara arus keluar bersih dari ETF spot Bitcoin di AS mencapai US$ 180 juta dalam 30 hari terakhir, menandakan menurunnya minat institusional terhadap BTC.
Tren Bearish atau Koreksi Sementara?
Bitcoin saat ini diperdagangkan di sekitar US$ 84.000, turun 23% dari puncaknya di Januari 2025 yang mencapai US$ 109.000. Kejatuhan ini memicu perdebatan apakah ini merupakan awal dari tren bearish baru atau hanya koreksi dalam tren bullish yang lebih besar.
Sejarah mencatat bahwa saat Indeks Bull Score berada di bawah 40 selama beberapa minggu atau bulan, pasar cenderung memasuki fase bearish yang lebih panjang. Contohnya, pada tahun 2022, Bitcoin kehilangan lebih dari 60% nilainya setelah indeks menunjukkan sinyal serupa.
Beberapa pekan ke depan akan menjadi periode krusial. Jika indeks Bull Score kembali naik di atas 40, ini bisa menjadi sinyal pemulihan bagi Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan. Namun, jika tetap berada di bawah 40, maka tekanan bearish bisa semakin kuat dan menguji level support Bitcoin di US$ 80.000, yang dianggap sebagai titik kritis oleh para analis.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









