Eskalasi Konflik Timur Tengah Lumpuhkan Jalur Distribusi Vital Dunia
JAKARTA, BursaNusantara.com – Dunia kini menghadapi ancaman kelumpuhan jalur logistik paling vital di planet ini setelah lalu lintas maritim di Selat Hormuz nyaris terhenti sepenuhnya.
Keamanan rantai pasok global berada di titik nadir seiring pecahnya peperangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menutup akses perdagangan utama.
Data terbaru menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi internasional kini bergantung sepenuhnya pada durasi dan intensitas ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung.
Berdasarkan laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dilansir Arabian Business, Kamis (12/3/2026), volume pelayaran di Selat Hormuz telah anjlok hingga 97 persen.
Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) memperingatkan bahwa dampak ekonomi dari krisis ini akan sangat bergantung pada cakupan geografis ketegangan tersebut.
Penurunan drastis ini menandakan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perdagangan maritim modern.
Energi Global Terbakar: Harga Gas Melambung 74 Persen
Mengutip data dari firma riset Clarksons, UNCTAD mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai aktivitas harian kapal di jalur tersebut.
Transit kapal melalui Selat Hormuz jatuh dari rata-rata harian 129 kapal menjadi hampir tidak ada sama sekali sejak konflik bersenjata berkobar.
Kondisi ini memicu reaksi berantai pada pasar komoditas energi di seluruh dunia yang memaksa harga merangkak naik secara eksponensial.
Menurut riset UNCTAD, harga gas dunia telah meroket sebesar 74 persen, sementara harga minyak mentah ikut melonjak hingga 27 persen dalam waktu singkat.
Lonjakan harga energi ini diperkirakan akan menekan biaya produksi industri global secara signifikan.
Pasar energi internasional kini berada dalam kondisi sangat rentan terhadap fluktuasi pasokan yang terus tergerus.
Apa Jadinya Jika Pasokan 16 Juta Ton Pupuk Terputus?
Laporan tersebut juga menyoroti ancaman serius pada sektor ketahanan pangan global karena posisi strategis Selat Hormuz.
Setidaknya sepertiga dari total ekspor pupuk global melewati jalur sempit ini setiap tahunnya.
Berdasarkan data tahun lalu, volume pupuk yang melintasi Selat Hormuz mencapai sekitar 16 juta ton.
Pembatasan atau penghentian ekspor ini akan membatasi akses petani terhadap nutrisi tanaman, terutama bagi negara-negara berkembang.
Negara berkembang diprediksi akan menanggung beban sosial-ekonomi yang jauh lebih berat dibandingkan negara maju.
Kenaikan biaya pengiriman dan lonjakan harga barang pokok menjadi konsekuensi logis yang tidak dapat dihindari oleh masyarakat di wilayah tersebut.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara












