JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) mencatat kinerja yang melemah sepanjang tahun 2024. Pendapatan perseroan turun signifikan, dan laba bersih merosot drastis akibat tekanan selisih kurs.
Meski demikian, perusahaan properti ini tetap optimistis menyambut tahun 2025 dengan rencana peluncuran proyek-proyek baru.
Kinerja Keuangan Melemah Sepanjang 2024
ASRI membukukan total pendapatan sebesar Rp 3,43 triliun sepanjang tahun 2024, turun 13,21% secara tahunan dibandingkan Rp 3,95 triliun pada tahun sebelumnya. Tekanan terbesar datang dari sisi laba bersih, yang anjlok 91,19% menjadi Rp 55,21 miliar, dari sebelumnya Rp 632,32 miliar pada 2023.
Baca Juga: Chandra Asri-Glencore Kuasai Kilang Shell Singapura
Penurunan tajam ini sebagian besar disebabkan oleh kerugian selisih kurs yang mencapai Rp 141,14 miliar di tahun 2024.
Padahal pada tahun sebelumnya, perseroan masih membukukan laba selisih kurs sebesar Rp 37,47 miliar. Tekanan nilai tukar tersebut memukul kinerja ASRI secara keseluruhan di tengah tantangan pasar properti yang masih fluktuatif.
Fokus ke Proyek Baru dan Optimalisasi Stok
Meskipun menghadapi tahun yang menantang, ASRI tetap melangkah maju dengan strategi ekspansi pada 2025. Corporate Secretary ASRI, Tony Rudiyanto, mengungkapkan bahwa perusahaan akan meluncurkan tiga proyek baru, masing-masing berada di Alam Sutera 2, Suvarna Sutera, dan Sutera Nexen.
Baca Juga: Saham PTRO & TPIA Bangkit Tajam, Investor Kembali Optimis
Tak hanya proyek baru, ASRI juga mengandalkan penjualan stok properti yang diharapkan meningkat seiring diperpanjangnya kebijakan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP).
“Untuk belanja modal tanah, kami menargetkan sekitar Rp 250 miliar di tahun ini,” ujar Tony kepada Kontan, Rabu (26/3).
Sikap Positif Terhadap Stabilitas Suku Bunga
ASRI menyambut baik keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga acuan di level 5,75% pada bulan Maret. Menurut Tony, kestabilan suku bunga menjadi kunci bagi pelaku usaha properti dalam mengambil keputusan strategis jangka panjang.
Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Alokasikan Rp 8,8 T untuk Pabrik Kimia Baru
“Suku bunga yang stabil memberikan kepastian dan ruang tumbuh bagi industri properti,” tegasnya.
Namun, hingga saat ini ASRI belum berencana melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali (buyback) saham, meski Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan relaksasi tanpa melalui RUPS.
“Saat ini kami tidak ada rencana untuk melakukan buyback saham dalam waktu dekat,” pungkas Tony.
Baca Juga: Akuisisi Kilang di Singapura TPIA: Dampak Besar bagi Indonesia
Langkah ekspansi dan fokus pada stabilitas internal menunjukkan bahwa ASRI tetap menjaga momentum di tengah tekanan, menjadikan 2025 sebagai titik balik kebangkitan kinerja perusahaan.










