JAKARTA, BursaNusantara.com – Kinerja keuangan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengalami tekanan sepanjang tahun buku 2024. Emiten tambang batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong ini mencatatkan laba bersih sebesar US$ 922,64 juta atau setara Rp 15,2 triliun, turun 25,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 1,23 miliar.
Penurunan ini terjadi akibat melemahnya pendapatan dari bisnis batu bara dan non-batu bara. Total pendapatan BYAN mengalami kontraksi 3,77% dari US$ 3,58 miliar menjadi US$ 3,44 miliar atau sekitar Rp 56,79 triliun. Meskipun masih membukukan keuntungan, pelemahan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi industri batu bara sepanjang tahun lalu.
Pendapatan Tertekan, Beban Operasional Meningkat
Dari sektor utama bisnisnya, pendapatan batu bara BYAN turun menjadi US$ 3,42 miliar dari US$ 3,57 miliar di tahun sebelumnya. Sementara itu, sektor non-batu bara justru mengalami lonjakan dari US$ 9,28 juta menjadi US$ 21,15 juta.
1. Penjualan Ekspor Menurun
- Penjualan ekspor batu bara kepada pihak ketiga turun dari US$ 3 miliar menjadi US$ 2,91 miliar.
- Penjualan ke TNB Fuel Services Sdn. Bhd. justru naik dari US$ 266 juta menjadi US$ 368 juta.
- Penjualan kepada pihak berelasi juga meningkat menjadi US$ 73,26 juta.
2. Kinerja Pasar Domestik Campur Aduk
- Penjualan domestik meningkat dari US$ 487 juta menjadi US$ 506 juta.
- Kontribusi dari pihak berelasi naik menjadi US$ 140 juta.
- Namun, penjualan ke pihak ketiga domestik turun tipis menjadi US$ 366 juta.
Seiring dengan pendapatan yang melemah, beban pokok BYAN meningkat dari US$ 1,91 miliar menjadi US$ 2,11 miliar. Akibatnya, laba bruto tergerus dari US$ 1,66 miliar menjadi US$ 1,33 miliar.
Selain itu, kenaikan beban lain-lain seperti:
- Beban penjualan naik menjadi US$ 38 juta.
- Beban keuangan melonjak dari US$ 6,63 juta menjadi US$ 17 juta.
- Pendapatan lain-lain turun drastis hingga US$ 17 juta.
Dampaknya, laba sebelum pajak BYAN turun menjadi US$ 1,20 miliar, dan laba tahun berjalan merosot menjadi US$ 948 juta dari US$ 1,27 miliar.
Prospek BYAN dan Industri Batu Bara ke Depan
Penurunan laba BYAN sejalan dengan tren harga batu bara global yang mengalami tekanan sepanjang 2024. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan, Bisman Bakhtiar, menyatakan bahwa situasi ini wajar mengingat harga batu bara kurang menguntungkan di tahun lalu.
1. Batu Bara Masih Bertahan Sebagai Energi Utama
Bisman melihat bahwa meskipun harga batu bara sedang melemah, komoditas ini tetap menjadi energi primer yang dibutuhkan dunia. Permintaan global masih cukup kuat, terutama dari negara-negara Asia seperti India dan China.
2. Potensi Kenaikan Harga Batu Bara
“Masih ada peluang kenaikan harga, meski tidak akan melonjak drastis,” ungkap Bisman. Oleh karena itu, perusahaan batu bara masih memiliki prospek yang menarik dalam jangka menengah.
3. Diversifikasi dan Energi Terbarukan Jadi Kunci
Bisman menilai bahwa emiten batu bara seperti BYAN sudah harus mulai mengembangkan bisnis ke sektor energi terbarukan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada batu bara tetapi juga membuka peluang pertumbuhan baru.
“Bagi para investor yang ingin melirik saham emiten batu bara, saya lihat masih aman dan recommended karena prospeknya masih cukup baik,” tutur Bisman kepada Investor Daily, Senin (3/3/2025).
Meskipun laba bersih BYAN anjlok 25,5% di 2024, perusahaan ini tetap mencatatkan kinerja positif di tengah penurunan harga batu bara global. Pendapatan ekspor yang menurun menjadi tantangan utama, tetapi bisnis domestik dan sektor non-batu bara menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan.
Prospek industri batu bara masih cukup kuat, terutama dengan permintaan global yang tetap tinggi. Namun, diversifikasi ke sektor energi terbarukan menjadi langkah strategis bagi emiten batu bara untuk menjaga daya saing di masa depan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












