Ekspansi Kinerja Operasional dan Penguatan Struktur Permodalan
JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketangguhan emiten tambang nikel dalam menjaga volume produksi kini menjadi penentu utama stabilitas laba di tengah fluktuasi pasar komoditas global yang sulit diprediksi.
Kemampuan perusahaan dalam mengonversi permintaan pasar menjadi pertumbuhan laba dua digit memberikan sinyal kuat mengenai efisiensi rantai pasok yang mereka jalankan sepanjang tahun.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan pada Senin (16/3/2026), PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) berhasil meraup laba bersih sebesar Rp574,39 miliar sepanjang tahun 2025.
Capaian tersebut mencerminkan kenaikan signifikan sebesar 38,44 persen dibandingkan periode 2024 yang tercatat senilai Rp414,9 miliar.
Kinerja positif ini didorong oleh tingginya permintaan pasar serta stabilitas harga nikel global yang mendukung margin keuntungan perseroan tetap tebal.
Strategi Penjualan 3,03 Juta Ton: Bagaimana DKFT Mengelola Volume?
Perseroan melaporkan bahwa volume produksi nikel tetap terjaga pada angka yang stabil yakni sebesar 2,92 juta ton sepanjang tahun laporan.
Efektivitas strategi pemasaran terlihat dari volume penjualan yang naik 16,60 persen hingga mencapai angka 3,03 juta ton di pasar domestik maupun internasional.
Kenaikan volume ini secara otomatis mengerek pendapatan perseroan menjadi Rp1,58 triliun, tumbuh 7,87 persen dari realisasi tahun sebelumnya senilai Rp1,47 triliun.
Indikator profitabilitas lainnya, yaitu EBITDA, tercatat mencapai Rp769,61 miliar atau meningkat cukup tajam sebesar 37,07 persen secara tahunan (year-on-year).
Pertumbuhan pendapatan yang stabil dengan biaya yang terkelola membuat margin operasional perseroan berada pada posisi yang lebih kompetitif dibanding tahun lalu.
Rasio Aset Rp3,09 Triliun: Apakah Likuiditas Perusahaan Aman?
Peningkatan kinerja operasional ini berdampak langsung pada posisi neraca perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 21,58 persen.
Per 31 Desember 2025, total aset Central Omega meningkat menjadi Rp3,09 triliun, naik dari posisi akhir tahun sebelumnya yang berada di angka Rp2,54 triliun.
Total ekuitas perusahaan juga menunjukkan penguatan masif sebesar 44,60 persen hingga mencapai level Rp1,23 triliun pada akhir periode laporan.
Meskipun liabilitas mengalami kenaikan sebesar 9,85 persen menjadi Rp1,86 triliun, rasio pertumbuhan ekuitas yang lebih tinggi memberikan bantalan risiko yang cukup aman.
Kombinasi antara peningkatan aset dan penguatan modal inti ini mempertegas posisi finansial DKFT dalam menghadapi tantangan industri pertambangan di tahun-tahun mendatang.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












