Geser Kebawah
AsuransiKeuangan

Laba Bersih TUGU Tembus Rp294 M! Kok Bisa Padahal Premi Turun?

346
×

Laba Bersih TUGU Tembus Rp294 M! Kok Bisa Padahal Premi Turun?

Sebarkan artikel ini
Laba Bersih TUGU Tembus Rp294 M! Kok Bisa Padahal Premi Turun
Strategi manajemen portofolio TUGU sukses dongkrak pendapatan investasi 25,6% di semester I/2025, meski premi tergerus. Bagaimana kekuatan model bisnisnya?

Strategi Investasi Cermat Angkat Laba Saat Premi Anjlok

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah tekanan kinerja industri asuransi nasional, Tugu Insurance justru mencatat lonjakan signifikan dari sisi pendapatan investasi sepanjang semester I/2025.

Lonjakan Investasi di Tengah Koreksi Premi

Tugu Insurance (TUGU), anak usaha PT Pertamina (Persero), membukukan pendapatan investasi sebesar Rp314,15 miliar per 30 Juni 2025.

Sponsor
Iklan

Kenaikan 25,6% dari periode yang sama tahun lalu itu tak lepas dari pergeseran komposisi instrumen dan pemilihan aset berimbal hasil stabil.

Peningkatan ini kontras dengan kinerja premi yang justru mengalami tekanan signifikan, menurun dari Rp2,03 triliun menjadi Rp1,54 triliun.

Penurunan pendapatan underwriting yang turut menyusut ke Rp1,35 triliun mencerminkan pelemahan sisi operasional asuransi inti.

Namun secara konsolidasian, laba sebelum pajak masih solid di Rp364,84 miliar dan laba bersih entitas induk tercatat Rp294,63 miliar.

Model Bisnis Tangguh Hadapi Volatilitas Pasar

Performa positif ini menunjukkan daya tahan strategi bisnis TUGU menghadapi ketidakpastian pasar keuangan dan ketatnya persaingan tarif premi.

Kontribusi pendapatan investasi terhadap premi neto mencapai 20,3%, menjadi jangkar utama saat pendapatan teknis menyusut.

Portofolio investasi per Juni 2025 mencapai Rp11,44 triliun, naik dari Rp11,22 triliun akhir 2024, menandakan akumulasi aset yang konsisten.

Komposisi terbesar masih didominasi oleh efek-efek senilai Rp7,57 triliun atau sekitar 66% dari total portofolio.

Instrumen deposito tetap menjadi sandaran likuiditas sebesar Rp2,47 triliun atau 22%, dengan selebihnya tersebar di properti dan penyertaan jangka panjang.

Konteks PSAK 117 dan Konsolidasi Laporan

Laporan semester I/2025 yang dipublikasikan TUGU masih menggunakan PSAK 104 sebagai acuan pelaporan kontrak asuransi.

Namun pada Agustus 2025, perusahaan akan menyajikan laporan ulang dengan standar baru, yakni PSAK 117, yang mengadopsi pendekatan valuasi lebih kompleks.

Adanya dual pelaporan ini memungkinkan terjadi deviasi angka pada laba, ekuitas, maupun hasil investasi bila dianalisis lintas PSAK.

Namun hal ini justru akan membuka ruang transparansi terhadap metode pencatatan pendapatan dan beban premi secara lebih fair value-based.

Bagi investor, transisi ini penting dicermati untuk menghindari misinterpretasi tren pertumbuhan laba atau rasio klaim perusahaan.

Analis Nilai Strategi Investasi Jadi Pilar Kunci

Edo Ardiansyah, analis dari Phillip Sekuritas, menilai bahwa pertumbuhan hasil investasi TUGU adalah refleksi dari kedisiplinan pengelolaan portofolio.

Menurut Edo, penempatan dominan pada obligasi pemerintah yang cenderung stabil secara yield menjadikan pendapatan investasi TUGU tetap berkelanjutan.

Dalam kondisi beban klaim tinggi dan penurunan premi, kontribusi hasil investasi menjadi elemen kunci dalam menjaga profitabilitas.

Ia juga menyoroti bahwa efisiensi internal dan pendekatan selektif pada properti dan penyertaan memberi TUGU keunggulan jangka panjang.

Edo memperkirakan strategi konservatif namun terukur ini akan jadi pembeda utama TUGU dibandingkan kompetitor lain yang lebih agresif.

Struktur Keuangan Kuat dan Fundamental Kokoh

Total aset konsolidasian TUGU mencapai Rp32,46 triliun per akhir Juni 2025, naik 23% dari posisi Desember 2024.

Sementara total ekuitas melonjak menjadi Rp10,70 triliun, mengindikasikan penguatan basis modal yang sehat dan ruang pertumbuhan lebih besar.

Stabilitas neraca ini menjadi pondasi kuat bagi ekspansi produk maupun manuver penyesuaian portofolio di semester kedua tahun ini.

Dengan posisi kas kuat, TUGU juga berpeluang melakukan optimalisasi aset melalui rebalancing ke sektor riil atau instrumen alternatif jangka panjang.

Kondisi ini memberi sinyal positif bagi pelaku pasar bahwa emiten asuransi ini tetap atraktif secara valuasi dan daya tahan bisnis.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan