Geser Kebawah
BisnisEnergiHeadline

Laba IDX:MEDC Turun, Portofolio Energi Hijau Jadi Andalan Baru

136
×

Laba IDX:MEDC Turun, Portofolio Energi Hijau Jadi Andalan Baru

Sebarkan artikel ini
Laba MEDC Turun di Kuartal I-2025, Fokus Ketahanan Operasional
Medco Energi (IDX:MEDC) kantongi laba US$18 juta di Q1-2025, terdampak rugi AMMN dan gangguan operasional sementara.

Medco Energi Bertahan Lewat Efisiensi dan Ekspansi Aset Strategis

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Medco Energi Internasional Tbk (IDX:MEDC) mencatat laba bersih sebesar US$ 18 juta atau Rp 298,18 miliar pada kuartal I-2025.

Perolehan ini menurun dibanding kuartal sebelumnya akibat rugi dari entitas asosiasi, PT Amman Mineral Internasional Tbk (IDX:AMMN).

Sponsor
Iklan

Rugi tersebut terjadi selama proses commissioning smelter tembaga baru milik AMMN. Namun dari sisi operasional, MEDC masih menjaga kinerja yang solid dan efisien.

Baca Juga: Medco Genjot 4 Proyek EBT di 2025, Siap Ekspor Listrik Hijau

Direktur Utama MEDC, Hilmi Panigoro, menyebut kondisi ini sebagai cerminan disiplin keuangan perusahaan. Ia juga menekankan komitmen perusahaan untuk menangkap peluang baru yang bersifat jangka panjang.

EBITDA Kuat, Produksi Migas Hadapi Gangguan Musiman

Direktur MEDC, Roberto Lorato, melaporkan EBITDA kuartal pertama mencapai US$ 332 juta. Menurutnya, hasil ini menunjukkan kekuatan fundamental operasional yang tetap kokoh.

Namun produksi migas tercatat hanya 143 ribu barel setara minyak per hari (mboepd). Penurunan ini dipicu oleh rendahnya permintaan gas musiman dan pemeliharaan fasilitas di Lapangan Senoro.

Baca Juga: Medco Energi (MEDC) Targetkan 9,75% Pertumbuhan Penjualan Listrik

Biaya kas produksi masih kompetitif di angka US$ 8,4 per barel ekuivalen minyak (boe). Efisiensi ini memberi ruang bagi perusahaan untuk mempertahankan margin di tengah tekanan eksternal.

Mohamad Ali, Pakar Analisis Saham Senior BursaNusantara.com, menyatakan bahwa penurunan laba MEDC tidak mencerminkan pelemahan kinerja inti. “Dengan EBITDA setinggi itu, artinya mesin operasional masih sangat kuat,” ujarnya.

Lapangan Baru Menyala, PLTS dan Geotermal Perkuat Arah Energi

Produksi dari Lapangan Terubuk dan Forel di South Natuna Sea Block B telah dimulai. Target produksinya masing-masing sebesar 20.000 BOPD dan 60 juta MMSCFD.

Penjualan listrik kuartal ini sebesar 871 GWh, menurun dari kuartal sebelumnya yang mencapai 1.146 GWh. Penurunan disebabkan pemeliharaan di PLTGU Riau, gempa di Sarulla, dan banjir di PLTS Sumbawa.

Baca Juga: MYOH Siapkan Dividen Tunai US$8 Juta untuk 2024, Yield 3,3%

Namun proyek Geotermal Ijen Fase 1 telah resmi beroperasi sejak Februari 2025 dengan kapasitas 35 MW. Fasilitas ini membantu menahan penurunan kinerja sektor ketenagalistrikan.

Proyek PLTS Bali Timur juga telah rampung dengan kapasitas 25 MWp. MEDC menargetkan operasional komersialnya dimulai pada Juni 2025.

Menurut Mohamad Ali, ekspansi ke energi terbarukan akan menjadi katalis jangka menengah. “Diversifikasi portofolio membuat MEDC lebih tahan guncangan harga migas global,” jelasnya.

Tambang Tembaga AMMN Masih Dalam Masa Transisi

AMMN membukukan produksi tembaga sebesar 37 juta pon (Mlbs) dan emas 32 ribu ons (Koz). Namun, rugi dari AMMN tetap membebani kinerja konsolidasi MEDC.

Baca Juga: IDX:BISI International Alokasikan Dividen Rp84 Miliar, Jadwal Lengkap 2025

Produksi perdana katoda tembaga telah berhasil direalisasikan pada awal April. Sementara fasilitas pemurnian logam mulia ditargetkan selesai pada kuartal II-2025.

Proyeksi dan Belanja Modal Tunjukkan Optimisme Menengah

Panduan produksi migas MEDC tahun ini dipatok di kisaran 145.000–150.000 mboepd. Target penjualan listrik ditetapkan sebesar 4.500 GWh.

[tradingview_chart symbol=”IDX:MEDC” height=”360″ theme=”light”]

Biaya produksi migas diproyeksi tetap di bawah US$ 10 per boe. Sementara belanja modal (capex) ditetapkan sebesar US$ 400 juta untuk migas dan US$ 30 juta untuk ketenagalistrikan.

“Investor sebaiknya melihat fase ini sebagai masa akumulasi,” ujar Mohamad Ali. Ia menilai strategi Medco fokus pada efisiensi dan ekspansi jangka panjang, bukan pada kuartal semata.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.