JAKARTA, BursaNusantara.com – Emiten tambang PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK) mencatatkan kinerja luar biasa sepanjang 2024 dengan perolehan laba bersih Rp 15,9 miliar, berbalik dari posisi rugi Rp 6,1 miliar pada tahun sebelumnya.
Lompatan ini terjadi seiring lonjakan pendapatan usaha yang mencapai Rp 187 miliar, tumbuh lebih dari 323% dibandingkan 2023.
PKPK mengungkapkan bahwa strategi bisnis baru yang difokuskan pada sektor pertambangan menjadi pendorong utama pencapaian tersebut.
Baca Juga: Ekspor Komoditas RI Tertekan Tarif Impor AS
Kontribusi Anak Usaha Jadi Kunci Sukses
Peningkatan tajam ini tak lepas dari peran anak usaha mereka, PT Tri Oetama Persada (TRIOP), yang bergerak di bidang tambang batubara.
TRIOP telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUPOP) di Kalimantan Tengah dan beroperasi penuh sejak 2024. PKPK menguasai 69,96% saham secara tidak langsung.
Dengan dukungan infrastruktur dan perizinan yang lengkap, TRIOP menjadi mesin baru pertumbuhan PKPK.
Baca Juga: Laba PT Bukit Asam (PTBA) Turun 16,41% di 2024, Pendapatan Naik
Direksi PKPK menyatakan bahwa diversifikasi ke bisnis batubara terbukti tepat sasaran, khususnya dalam memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi operasional.
Manajemen juga menyebut bahwa sinergi antara PKPK dan TRIOP mampu memperkuat daya tahan keuangan perusahaan di tengah dinamika sektor energi global.
Ekspor Perdana Buka Jalur Pasar Internasional
Pada September 2024, TRIOP mencetak sejarah dengan melakukan pengapalan perdana batubara kalori GAR 4.200 dari pelabuhan Tanjung Jawa menuju Pelabuhan Taboneo.
Batubara tersebut kemudian diekspor ke China dengan tujuan akhir China Resources Group sebagai pembeli.
Baca Juga: Trump Pacu Batubara, RI Bidik Peluang Ekspor ke AS
Total kargo yang dikapalkan mencapai 48.000 ton, menghasilkan pendapatan sekitar US$ 2,4 juta atau setara Rp 37,4 miliar.
Langkah ekspor ini menjadi tonggak penting bagi TRIOP untuk menembus pasar internasional secara berkelanjutan.
Target Produksi Melonjak di 2025
TRIOP menargetkan volume produksi batubara sebesar 550.000 ton sepanjang 2024 dengan potensi pendapatan hingga US$ 28,6 juta atau sekitar Rp 446 miliar.
Pada 2025, target ini diproyeksikan melonjak drastis menjadi 3 juta ton, dengan potensi pendapatan mencapai Rp 2,4 triliun.
Baca Juga: DHE SDA 100%: Regulasi Baru Tekan Industri Batubara
Ambisi besar ini mencerminkan komitmen PKPK dalam memaksimalkan sektor pertambangan sebagai tulang punggung baru pertumbuhan.
Dengan strategi yang agresif dan sinergi operasional yang solid, PKPK kini berada dalam jalur yang menjanjikan untuk memperluas dominasi di industri tambang nasional.










