Pendapatan PTBA Naik, Tapi Laba Bersih Amblas 59 Persen
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Bukit Asam Tbk. (IDX: PTBA) mencatat kontradiksi mencolok dalam laporan keuangan semester I/2025, saat pendapatan naik tapi laba bersih justru amblas hingga 59,02%.
Pendapatan PTBA mencapai Rp20,45 triliun atau tumbuh 4,12% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Namun, laba bersih anjlok tajam menjadi hanya Rp833 miliar, dari Rp2,03 triliun pada semester I/2024.
Kondisi ini menyorot tekanan berat dari sisi biaya, bukan dari pendapatan yang justru tumbuh.
Peningkatan beban pokok pendapatan menjadi pemicu utama tergerusnya margin keuntungan PTBA.
Beban Melonjak, Laba Bruto dan Per Saham PTBA Terpukul
Beban pokok pendapatan PTBA meningkat drastis menjadi Rp18,2 triliun per Juni 2025.
Angka ini naik 12,11% dibanding Rp16,23 triliun pada semester I/2024.
Laba bruto pun langsung terpukul, turun hingga 33,9% menjadi Rp2,24 triliun.
Padahal tahun lalu laba bruto PTBA masih berada di level Rp3,4 triliun.
Dampaknya merembet hingga ke level laba bersih dan laba per saham yang kini tinggal Rp72.
Ketergantungan PTBA pada Pasar Domestik Belum Teratasi
Pendapatan terbesar PTBA berasal dari PLN Grup sebesar Rp6,78 triliun sepanjang semester I/2025.
Sementara itu, MIND ID Trading Pte. Ltd. menyumbang Rp1,59 triliun terhadap total penjualan.
Kedua entitas tersebut adalah bagian dari ekosistem BUMN yang memberi kontrak jangka panjang ke PTBA.
Namun, kontrak jangka panjang ini tak selalu fleksibel dalam menyesuaikan biaya produksi.
Ketika beban melonjak, margin langsung tergerus karena struktur harga tetap kaku.
Struktur Aset Meningkat, Tapi Ekuitas PTBA Malah Menyusut
Total aset PTBA naik dari Rp41,7 triliun di akhir 2024 menjadi Rp42,6 triliun per Juni 2025.
Namun total liabilitas justru naik lebih cepat menjadi Rp22,8 triliun dari Rp19,14 triliun sebelumnya.
Hal ini menyebabkan penurunan pada total ekuitas menjadi Rp19,7 triliun di semester I/2025.
Bandingkan dengan akhir tahun lalu, saat ekuitas PTBA masih sebesar Rp22,64 triliun.
Struktur ini mengindikasikan tekanan finansial yang mulai merembet dari sisi neraca.
Apakah PTBA Mulai Kehilangan Daya Tahan?
Penurunan laba yang sangat signifikan dalam kondisi pendapatan meningkat adalah anomali serius.
Biasanya, kenaikan pendapatan akan diikuti peningkatan laba atau setidaknya margin tetap stabil.
Namun yang terjadi adalah margin kotor PTBA makin tergerus akibat lonjakan biaya pokok.
Di saat perusahaan tambang lain mulai mengoptimalkan efisiensi, PTBA justru terlihat stagnan.
Investor patut bertanya, apakah struktur biaya PTBA sudah tidak kompetitif lagi?
Tantangan Strategis: Efisiensi atau Diversifikasi?
PTBA selama ini mengandalkan permintaan domestik lewat kontrak dengan BUMN energi.
Strategi ini aman di sisi volume, tapi berisiko jika margin tak lagi relevan dengan kondisi pasar.
Diversifikasi pasar dan ekspansi segmen hilirisasi jadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Namun langkah tersebut tak akan membuahkan hasil dalam jangka pendek, butuh investasi besar.
Sementara tekanan terhadap laba dan dividen semakin nyata di mata pemegang saham.
Respons Pasar dan Sinyal untuk Pemegang Saham
Kinerja semester I/2025 menjadi sentimen negatif terhadap harga saham PTBA dalam jangka pendek.
Apalagi prospek dividen yang biasanya tinggi kini dipertanyakan karena laba menyusut.
Investor institusi kemungkinan mulai menyesuaikan proyeksi yield dan valuasi terhadap emiten ini.
Jika manajemen tidak menunjukkan langkah efisiensi nyata, tekanan terhadap saham bisa berlanjut.
Ini bisa menjadi titik balik apakah PTBA tetap defensif atau mulai kehilangan pamornya.
Kalau PTBA tak segera melakukan reposisi strategis, kinerja semester I/2025 bisa menjadi awal dari tren penurunan yang sistemik dan berkepanjangan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












