Lee Jae Myung Resmi Jabat Presiden Baru Korea Selatan
JAKARTA, BursaNusantara.com – Korea Selatan kini memasuki babak baru dalam lanskap politiknya setelah pemimpin oposisi Partai Demokrat, Lee Jae Myung, resmi memenangkan pemilihan presiden darurat.
Ia menggantikan mantan Presiden Yoon Suk Yeol yang dimakzulkan usai deklarasi darurat militernya gagal pada akhir 2024 lalu.
Lee meraih kemenangan dengan 49,42% suara, unggul atas rival konservatif Kim Moon Soo yang memperoleh 41,15%. Komisi Pemilihan Umum Nasional telah mengonfirmasi hasil tersebut sebagai hitungan akhir yang sah.
Pelantikan Cepat, Transisi Kekuasaan Dipangkas
Pelantikan Lee digelar pada pukul 11 siang waktu setempat di Majelis Nasional, tanpa menunggu masa transisi 60 hari seperti biasanya. Han Duck Soo sebagai penjabat presiden menyerahkan langsung kepemimpinan kepada Lee.
Langkah ini menandai pemulihan cepat dari krisis politik yang mengguncang Korea Selatan dalam beberapa bulan terakhir. Lee dipastikan akan memimpin selama lima tahun ke depan.
Imbas Politik ke Pasar Keuangan dan Nilai Tukar
Kemenangan Lee turut menggairahkan pasar saham Korea Selatan. Indeks Kospi melonjak lebih dari 2% ke level tertinggi dalam 10 bulan. Data LSEG mencatat lonjakan tersebut menandai awal pasar bullish, naik 20% dari level terendah sebelumnya.
Sementara itu, Won Korea juga menguat tipis menjadi 1.376,3 terhadap dolar AS. Penguatan ini dipicu menurunnya ketidakpastian kebijakan dan pelemahan dolar secara global.
Tantangan Ekonomi dan Hubungan Internasional
Lee menghadapi tantangan ganda untuk menghidupkan ekonomi domestik dan menegosiasikan perjanjian tarif dengan Amerika Serikat.
Eurasia Group mencatat Lee kemungkinan akan memperlambat proses negosiasi untuk mengevaluasi kesepakatan serupa yang dimiliki Jepang.
Batas waktu kesepakatan tarif antara Korsel dan AS dijadwalkan pada 8 Juli 2025. Namun Lee telah menyarankan agar batas tersebut diperpanjang demi hasil yang lebih menguntungkan.
Dukungan dan Kecurigaan dari Mitra Global
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengucapkan selamat kepada Lee dan menegaskan kembali komitmen kuat kedua negara dalam aliansi militer dan ekonomi.
Namun, muncul kekhawatiran atas potensi penurunan jumlah pasukan AS di Korea Selatan, seperti disampaikan James Brady dari Teneo.
Pemerintahan Trump sebelumnya telah menekan Korsel untuk menanggung lebih banyak biaya penempatan pasukan AS.
Ketegangan ini bisa berlanjut di bawah administrasi Lee jika tidak ada pendekatan diplomatik baru.
Agenda Kebijakan Ekonomi dan Fiskal Lee Jae Myung
Goldman Sachs memperkirakan Lee akan segera membentuk kabinet dan memprioritaskan anggaran fiskal ekspansif untuk merespons perlambatan ekonomi.
Ia juga mendorong reformasi tata kelola pasar ekuitas serta dukungan fiskal bagi industri strategis.
Dalam catatannya, Goldman menyebut pelonggaran moneter oleh Bank Sentral Korea (BoK) bisa menjadi penyeimbang bagi keterbatasan fiskal.
BoK sendiri telah memangkas suku bunga menjadi 2,5%, level terendah sejak 2022, dengan target pertumbuhan tetap realistis.
Stabilitas Politik Baru dan Proyeksi Pasar
Meski sempat diragukan kelayakannya akibat dakwaan pelanggaran hukum pemilu, kemenangan Lee menghapus ketidakpastian politik.
Pengadilan Tinggi Korea Selatan menunda putusan atas kasusnya hingga setelah pemilu, memungkinkan stabilitas transisi pemerintahan.
Investor kini menanti arah kebijakan Lee, terutama dalam menyikapi tekanan global dan posisi Korea Selatan di tengah ketegangan dagang Asia-Pasifik.
Won diprediksi akan terus menguat jika stabilitas kebijakan dipertahankan.
Pergeseran Ideologi dan Prospek Masa Depan
Eurasia menilai Lee akan memposisikan diri lebih ke kiri secara ideologis meskipun berkampanye moderat. Fokusnya kemungkinan tertuju pada anggaran tambahan kedua dan respons terhadap tekanan AS dalam tarif perdagangan.
Dalam waktu dekat, masa depan hubungan bilateral Korea-AS, arah negosiasi dengan Tiongkok dan Korea Utara, serta reformasi struktural ekonomi domestik akan menjadi barometer utama keberhasilan awal pemerintahan Lee.










