Pembiayaan Fintech Lending Melonjak di Luar Jawa
JAKARTA, BursaNusantara.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa tiga provinsi di Indonesia Timur mencatatkan lonjakan tertinggi dalam pertumbuhan outstanding pembiayaan fintech peer to peer (P2P) lending per April 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menyebutkan bahwa Maluku Utara menjadi provinsi dengan pertumbuhan outstanding pembiayaan paling signifikan.
Maluku Utara Tumbuh di Atas 140 Persen
Agusman mengungkapkan bahwa outstanding pembiayaan di Maluku Utara meningkat 146,63% secara tahunan (YoY).
“Per April 2025, outstanding pembiayaan Maluku Utara tumbuh 146,63% YoY,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (4/6).
Meskipun mengalami lonjakan pembiayaan, rasio kredit macet agregat (TWP90) di provinsi tersebut tetap rendah, yakni 1,01%.
Provinsi Maluku menempati posisi kedua dengan pertumbuhan outstanding sebesar 97,47% YoY dan tingkat TWP90 yang juga stabil di 1,01%.
Sulawesi Tenggara Menyusul di Posisi Ketiga
Di peringkat ketiga, Sulawesi Tenggara mencatatkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 95,85% YoY.
Namun, provinsi ini mencatat rasio kredit macet lebih tinggi, yaitu 1,59% per April 2025.
Agusman menilai bahwa temuan ini mengindikasikan potensi besar perkembangan fintech lending di luar Pulau Jawa, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
Pertumbuhan Nasional Capai 29,01 Persen
Secara nasional, OJK mencatat total outstanding pembiayaan fintech lending mencapai Rp 80,94 triliun per April 2025.
Angka ini menunjukkan kenaikan 29,01% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, risiko kredit macet agregat (TWP90) secara nasional juga mengalami kenaikan.
Per April 2025, TWP90 tercatat sebesar 2,93%, meningkat dari 2,79% pada April 2024 dan 2,77% pada Maret 2025.
Kondisi ini menjadi sinyal bagi pelaku industri untuk tetap menjaga kualitas kredit meskipun terjadi ekspansi pesat.











