Peringatan McGregor: Israel dan AS Main Api di Ambang Perang
JAKARTA, BursaNusantara.com – Kolonel Purnawirawan Douglas McGregor kembali melontarkan peringatan tajam tentang potensi eskalasi perang antara Iran dan Israel yang dinilainya belum berakhir dan bahkan baru saja dimulai.
Dalam wawancara terbarunya bersama Daniel Davis, mantan penasihat Pentagon tersebut menyatakan dengan tegas bahwa konflik di Timur Tengah saat ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar dan berbahaya.
McGregor secara terbuka menentang narasi mantan Presiden AS Donald Trump yang menyebut perang Iran-Israel telah selesai. Menurutnya, pernyataan itu tidak didukung fakta lapangan dan justru menyesatkan opini publik internasional.
Ia menyebutkan bahwa Iran, dengan arsenal militernya yang masif, memiliki kapasitas untuk menghancurkan Tel Aviv hanya dalam kurun waktu satu hari jika diprovokasi secara penuh.
McGregor memperingatkan bahwa keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut berisiko memicu dampak ekonomi dan geopolitik yang sangat serius, jauh lebih besar dari konflik-konflik sebelumnya.
McGregor: Perang Belum Berakhir, Justru Baru Dimulai
McGregor menyebut bahwa upaya membungkam konflik Iran-Israel hanyalah ilusi politik belaka.
Ia menilai bahwa justru saat ini perang tengah memasuki fase laten yang lebih kompleks dan berpotensi menimbulkan perang terbuka berkepanjangan.
Menurutnya, sikap ofensif yang ditunjukkan Israel serta dukungan tak langsung dari Amerika Serikat akan memperpanjang krisis, bukan menyelesaikannya.
McGregor menegaskan bahwa keinginan perang lebih kuat datang dari dua pihak: Israel dan AS, sementara negara-negara lain di Timur Tengah berulang kali memilih menghindari eskalasi militer.
“Tidak ada negara di Timur Tengah yang ingin perang selain Israel dan Amerika Serikat,” ujarnya lantang dalam wawancara tersebut.
Rudal Iran dan Ancaman Satu Hari
Dalam kesempatan yang sama, McGregor menyoroti kekuatan persenjataan Iran yang menurutnya terlalu sering diremehkan oleh Barat.
Ia menyebut bahwa Iran telah mempersiapkan sistem rudal jarak jauh dan sistem pertahanan canggih yang mampu menembus sistem pertahanan Israel.
Lebih lanjut, ia bahkan menyatakan bahwa jika terjadi serangan langsung terhadap wilayah Iran, negara itu tidak akan segan melakukan serangan balasan penuh yang mampu “meratakan” Tel Aviv dalam waktu satu hari.
Pernyataan ini bukanlah yang pertama dari McGregor, yang sebelumnya juga menuding bahwa komunitas internasional, termasuk media Barat, banyak menyembunyikan fakta kekuatan militer Iran.
McGregor mengklaim bahwa klaimnya ini bukan bentuk propaganda, tetapi kesimpulan dari data intelijen yang ia akses selama menjabat sebagai penasihat militer.
Menyentil Trump dan Netanyahu
Salah satu pernyataan paling tajam McGregor ditujukan kepada dua tokoh besar: Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Ia menyindir keduanya sebagai sosok yang “terlalu antusias” mencari pembenaran untuk intervensi militer, meski dengan konsekuensi geopolitik besar.
Menurutnya, retorika perang yang terus dibangun oleh dua pemimpin itu mempersempit ruang diplomasi dan justru mengorbankan stabilitas kawasan.
McGregor menyebutkan bahwa Iran, sejauh ini, justru lebih banyak mengambil posisi defensif dan memilih tidak menanggapi provokasi secara langsung.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa kesabaran Teheran memiliki batas, dan jika terlampaui, respons militer yang dilancarkan tidak akan bisa dibendung.
Risiko Ekonomi Global
Selain potensi kerusakan militer, McGregor juga menyoroti dampak konflik terhadap sistem ekonomi global yang kini masih rentan akibat perang Ukraina dan perlambatan ekonomi di negara-negara Barat.
Ia memaparkan bahwa keterlibatan AS dalam perang di Timur Tengah akan menciptakan tekanan besar terhadap harga minyak, perdagangan global, hingga kestabilan mata uang dolar.
Menurutnya, pemerintah AS saat ini tidak memiliki kapasitas fiskal dan politik untuk membiayai perang besar lainnya tanpa mengorbankan stabilitas domestik.
McGregor menyebut bahwa satu konflik lagi di Timur Tengah bisa menjadi “titik balik destruktif” yang memukul pasar keuangan global secara permanen.
Dunia Internasional Diminta Tidak Diam
Dalam pesan akhirnya, McGregor menyerukan kepada komunitas internasional untuk tidak tinggal diam dan segera mendorong diplomasi terbuka antara Iran dan Israel.
Ia menekankan pentingnya mediasi dari negara-negara netral dan mengingatkan bahwa konflik ini bukan lagi sekadar urusan dua negara, tetapi berpotensi menyeret dunia ke dalam krisis multidimensi.
“Ini bukan tentang siapa yang memulai, tapi bagaimana semua bisa berakhir,” ujar McGregor menutup pernyataannya dengan nada serius dan penuh tekanan.
Ia menegaskan kembali bahwa mengabaikan potensi perang besar di Timur Tengah akan menjadi kesalahan historis yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan pernyataan politik.












