Geser Kebawah
Gaya HidupPendidikan

Menko PMK: Program Makan Bergizi Gratis Bikin Murid Hemat

493
×

Menko PMK: Program Makan Bergizi Gratis Bikin Murid Hemat

Sebarkan artikel ini
Menko PMK Program Makan Bergizi Gratis Bikin Murid Hemat
Menko PMK tinjau program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bojonegoro, tekankan gizi, olahraga, dan kesehatan mental sebagai pondasi pembangunan generasi muda.

Fokus Pemerintah Lindungi Generasi Muda Lewat Program MBG

JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah pusat kian serius menggarap program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai alat pembangunan manusia sejak usia dini.

Kunjungan langsung Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno ke SMAN 1 Padangan, Bojonegoro, pada Senin (4/8/2025), mempertegas arah kebijakan ini.

Sponsor
Iklan

Program MBG bukan sekadar makan siang di sekolah, tetapi sarana membangun generasi tangguh dengan gizi yang memadai, karakter kuat, dan perilaku digital sehat.

Langkah simbolik ini diambil pemerintah untuk memastikan intervensi gizi tersampaikan langsung ke kelompok usia remaja yang rentan terhadap pola hidup tidak sehat.

Saat mengunjungi sekolah, Menko PMK menyaksikan langsung para murid menikmati makan siang dengan menu lengkap berupa nasi, ayam, tempe, sayur, dan semangka.

Membangun Masa Depan Lewat Gizi, Olahraga, dan Karakter

Menko PMK menyampaikan bahwa gizi seimbang adalah pondasi pembangunan manusia dan kekuatan bangsa di masa depan.

“Program MBG ini bukan hanya soal makan, tapi tentang membentuk generasi sehat dan cerdas. Gizi harus seimbang dan rutin. Jangan lupa olahraga juga penting,” ujar Pratikno di hadapan para siswa.

Pratikno menekankan, remaja masa kini sangat rentan dengan pola konsumsi tinggi gula dan gaya hidup sedentari.

Ia mencontohkan seorang siswa SMP yang ditemukan memiliki kadar gula darah tinggi akibat kebiasaan jajan manis tanpa kontrol.

“Pola makan tidak bisa hanya dijaga saat MBG berlangsung. Di luar sekolah pun harus dijaga. Gula darah tinggi sejak SMP itu alarm keras,” tegasnya.

Digitalisasi Tanpa Kesehatan Mental, Generasi Rawan Tergelincir

Tak hanya gizi, Pratikno juga menyoroti aspek kesehatan mental dan dampak negatif dari penggunaan gawai secara berlebihan.

Ia memperingatkan bahwa screen time tanpa kontrol berdampak buruk terhadap kesehatan mata hingga perilaku sosial anak.

“Hati-hati dengan gadget. Batasi waktunya. Kalau kontennya negatif, bisa merusak karakter dan mengganggu fokus belajar,” ujarnya.

Pesan ini mencerminkan kekhawatiran pemerintah akan generasi digital yang terpapar konten tanpa filter dan tumbuh tanpa nilai-nilai karakter.

Pratikno mendorong sekolah dan keluarga untuk bersinergi mengawasi penggunaan gawai, sekaligus menanamkan literasi digital sejak dini.

Program MBG Diapresiasi Pelajar dan Pemerintah Daerah

Para murid SMAN 1 Padangan merespons positif kehadiran program MBG, yang dinilai sangat membantu secara ekonomi dan nutrisi.

Seorang murid mengaku kini tak perlu membawa bekal karena sudah mendapat makan siang bergizi yang praktis dan lengkap dari sekolah.

“Biasanya ibu harus masak bekal, sekarang tidak perlu lagi. Makanannya enak dan sehat. Uang jajan juga bisa hemat,” ujar salah satu siswa kepada Menko PMK.

Pemerintah daerah juga mendukung penuh implementasi MBG, yang dinilai relevan dan berdampak langsung pada kualitas hidup pelajar.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah turut mendampingi Menko PMK dalam kunjungan tersebut, bersama jajaran Forkopimda dan para guru sekolah.

Kolaborasi Pemerintah Pusat dan Daerah Jadi Kunci Keberhasilan MBG

Menurut Menko PMK, keberhasilan MBG sangat bergantung pada soliditas lintas institusi, dari pusat hingga daerah.

Kehadiran kepala daerah dan stakeholder lokal saat kunjungan membuktikan adanya komitmen kolektif untuk menyukseskan agenda pembangunan manusia.

Deputi Kemenko PMK bidang Kesehatan, Sukadiono, menyebut bahwa MBG menjadi bagian integral dari strategi penanggulangan stunting dan penguatan SDM unggul.

Dengan model pelaksanaan langsung di sekolah, pemerintah dapat memantau asupan gizi anak-anak dan mengintervensi lebih cepat bila ditemukan kasus rawan gizi.

“Ini bukan proyek jangka pendek. Ini investasi masa depan bangsa yang hasilnya baru terlihat 10–15 tahun mendatang,” tutup Pratikno dengan nada optimistis.

Tinggalkan Balasan