Geser Kebawah
BisnisPerdagangan & Industri

Merdeka Battery Materials (MBMA): Kans 2025 dan Tantangan Surplus Nikel

173
×

Merdeka Battery Materials (MBMA): Kans 2025 dan Tantangan Surplus Nikel

Sebarkan artikel ini
merdeka battery materials (mbma) kans 2025 dan tantangan surplus nikel compress
Merdeka Battery Materials (MBMA) mencatat kinerja positif sepanjang 2024. Proyeksi 2025 menunjukkan optimisme meski surplus pasokan nikel global menjadi tantangan besar.

Laporan Kinerja Solid Sepanjang 2024

PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) mencatatkan pertumbuhan yang signifikan hingga kuartal III/2024. Emiten ini berhasil meraih laba bersih sebesar USD 18,46 juta atau sekitar Rp 284,06 miliar (kurs Rp 15.384/USD). Angka ini melonjak hingga 2.627% secara YoY dari laba periode yang sama pada 2023 sebesar USD 677.097.

Pendapatan perusahaan tumbuh 58% YoY menjadi USD 1,38 miliar. EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) juga meningkat sebesar 62% YoY mencapai USD 114 juta. Kinerja ini terutama didorong oleh kenaikan produksi dari tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), smelter Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF), dan pabrik nickel matte.

Sponsor
Iklan

Tambang SCM mencatat lonjakan produksi limonit sebesar 176% YoY menjadi 6,7 juta wet metric tonnes (WMT). Sementara itu, produksi saprolit meningkat 113% YoY menjadi 1,9 juta WMT. Smelter RKEF menghasilkan 63.338 ton Nickel Pig Iron (NPI), sementara pabrik nickel matte memproduksi 38.422 ton High-Grade Nickel Matte (HGNM).

“Volume produksi meningkat signifikan, memberikan fondasi kuat untuk pertumbuhan di 2025,” ujar Corporate Secretary MBMA, Deny Greviartana Wijaya. Lonjakan produksi ini didukung oleh optimalisasi operasi tambang dan mobilisasi kontraktor baru.


2. Strategi Efisiensi Biaya Produksi

MBMA berhasil menekan biaya tambang (cash cost) untuk limonit menjadi USD 6 per WMT dari sebelumnya USD 7 pada kuartal kedua. Cash cost untuk produksi NPI juga turun menjadi USD 10.387 per ton, berada di bawah target rentang USD 10.000–USD 11.000 per ton untuk 2024.

Penurunan biaya ini didukung oleh pembangunan haul road baru dari tambang SCM ke Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Jalur ini diharapkan dapat mengurangi biaya transportasi sekaligus menjadi koridor untuk transmisi listrik dan jaringan pipa bahan baku.


3. Proyeksi Produksi dan Penjualan di 2025

MBMA optimis dapat mencapai target produksi dan penjualan yang ambisius pada 2025. Perusahaan menargetkan produksi smelter RKEF mencapai 80.000–85.000 ton nikel dalam NPI serta 50.000–55.000 ton nikel dalam HGNM. Selain itu, MBMA merencanakan commissioning fasilitas feed preparation plant (FPP) kedua pada pertengahan 2025 untuk mendukung peningkatan produksi.

Dalam strategi pertumbuhannya, MBMA bekerja sama dengan GEM Co., Ltd. untuk mengembangkan dua pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) di IMIP. Kedua pabrik ini memiliki kapasitas masing-masing 30.000 ton dan 25.000 ton per tahun. Proyek ini diharapkan beroperasi dengan kapasitas penuh pada 2025, memberikan tambahan pendapatan hingga USD 443 juta per tahun.

“Kemitraan strategis kami dengan GEM menjadi langkah penting untuk memaksimalkan nilai sumber daya nikel limonit,” tambah Deny. Selain itu, MBMA juga mencatat kemajuan pada proyek Acid Iron Metal (AIM) yang melibatkan produksi asam sulfat dan katoda tembaga.


4. Tantangan Surplus Pasokan Nikel Global

Meski optimis, MBMA harus menghadapi tantangan surplus pasokan nikel global. Data dari International Nickel Study Group (INSG) menunjukkan surplus nikel akan berlanjut hingga 2025. Pasokan global diperkirakan tumbuh 3,8% YoY, sementara permintaan hanya meningkat 5% YoY, didorong oleh sektor stainless steel dan baterai kendaraan listrik.

Ketidakseimbangan ini menyebabkan tekanan pada harga nikel. Harga rata-rata Nickel Pig Iron (NPI) dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) diproyeksikan masing-masing berada di kisaran USD 10.440 dan USD 14.080 per ton pada 2025.


5. Proyeksi Saham dan Target Harga MBMA

Mayoritas analis tetap optimis terhadap saham MBMA. Sebanyak 14 dari 16 sekuritas memberikan rekomendasi ‘buy’ dengan target harga rata-rata Rp 687,73 per saham, yang mencerminkan potential return sebesar 51,48% dari harga Rp 545 pada 24 Desember 2024. Buana Capital memberikan target harga lebih tinggi sebesar Rp 740, dengan potensi imbal hasil hingga 63%.

Namun, analis juga mengingatkan risiko keterlambatan proyek dan penurunan harga nikel sebagai ancaman utama. Sepanjang tahun berjalan, harga saham MBMA telah turun 20,35%, mencerminkan sentimen pasar yang hati-hati terhadap sektor ini.


6. Diversifikasi dan Kemitraan Strategis

MBMA terus mengembangkan portofolio bisnisnya untuk mengurangi ketergantungan pada nikel. Proyek Acid Iron Metal (AIM) mencatat hasil positif dengan commissioning pabrik asam sulfat menghasilkan 77.555 ton pada Train 1 dan 5.119 ton pada Train 2. Pembangunan pabrik katoda tembaga juga memasuki tahap akhir.

“Diversifikasi bisnis menjadi langkah strategis untuk menghadapi volatilitas pasar nikel,” kata Analis Buana Capital, Dennis Tay.


Kesimpulan

Merdeka Battery Materials (MBMA) menghadapi peluang dan tantangan besar pada 2025. Dengan strategi pertumbuhan yang terencana, kemitraan strategis, dan efisiensi operasional, MBMA optimis dapat memanfaatkan peluang di tengah tantangan surplus pasokan nikel global.