Finalis Dicoret, Ajang Miss Indonesia Diterpa Dugaan Infiltrasi Asing
JAKARTA, BursaNusantara.com – Kontroversi diskualifikasi Merince Kogoya dari ajang Miss Indonesia 2025 kini berkembang di luar dugaan. Setelah video dukungan terhadap Israel kembali viral, spekulasi liar mencuat: benarkah ia hanya menyuarakan iman, atau ada misi intelijen terselubung di balik layar?
Isu ini semakin mengguncang kredibilitas ajang Miss Indonesia, karena bukan hanya menyentuh ranah keagamaan dan politik luar negeri, tetapi mulai dikaitkan dengan kemungkinan infiltrasi ideologis dari kekuatan asing.
Dalam video yang memicu kontroversi, Merince terlihat mengibarkan bendera Israel sambil melantunkan doa dan menuliskan caption “I Stand With Israel” di Instagram.
Namun, yang menjadi sorotan bukan hanya isi video tersebut melainkan latar belakang Merince yang kini diselidiki lebih dalam oleh berbagai kalangan.
Dugaan Awal: Pola Simpatik, Konten Konsisten, dan Relasi Global
Rekaman digital Merince tidak hanya menunjukkan simpati terhadap Israel, tetapi juga konsistensi narasi pro-Israel yang terekam di berbagai unggahan lamanya.
Beberapa unggahan menampilkan simbol-simbol Yudaisme, kutipan dari tokoh Zionis, serta referensi ke gerakan evangelis global.
Pola ini menimbulkan kecurigaan di kalangan pengamat geopolitik bahwa terdapat kemungkinan keterlibatan dalam jejaring infiltrasi ideologis.
“Gerakan intelijen modern tidak selalu datang dengan jas hitam dan paspor palsu. Mereka hadir lewat simpati, edukasi, bahkan pageant,” ujar sumber kami dari kalangan intelijen sipil yang enggan disebutkan namanya.
Peran Ajang Nasional: Medium Empuk Penetrasi Agenda Asing?
Ajang Miss Indonesia dinilai sebagai panggung ideal untuk mempromosikan nilai-nilai yang berpotensi bertentangan dengan sikap resmi negara.
Sebagai event berskala nasional dengan sorotan media besar dan basis publik muda, Miss Indonesia menjadi target potensial bagi agenda soft power.
Dalam konteks ini, kehadiran peserta dengan simbol pro-Israel dianggap bukan kebetulan, melainkan potensi pengujian batas penerimaan publik terhadap narasi tertentu.
Apalagi, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan merupakan pendukung aktif perjuangan Palestina di forum internasional.
Misteri Jejak Digital: Akun Lama Dihapus, Data Hilang, Warganet Curiga
Setelah diskualifikasi diumumkan, sejumlah akun yang sebelumnya memuat ulang unggahan Merince mulai menghilang.
Beberapa konten yang dahulu tersedia kini tidak bisa diakses, baik melalui pencarian langsung maupun cache.
Fenomena ini membuat warganet berspekulasi bahwa ada “operasi pembersihan jejak” yang dilakukan secara sistematis.
“Kalau ini hanya soal iman pribadi, kenapa akun-akun pendukungnya buru-buru menghilang? Ada yang aneh,” tulis akun @nusalensa di platform X.
Di saat yang sama, muncul beberapa tangkapan layar yang menunjukkan keterlibatan Merince dalam forum-forum diskusi daring bertema politik Timur Tengah.
Intelijen dan Simpatisan Diaspora: Keterhubungan Melalui Jaringan Agama
Beberapa pengamat mencurigai bahwa Merince bukan agen langsung, melainkan simpatisan yang direkrut melalui jalur diaspora religius.
Di berbagai negara, banyak organisasi misionaris yang memiliki afiliasi informal dengan agenda negara donor tertentu.
Jalur ini dinilai lebih efektif daripada metode spionase klasik karena dibungkus dalam kemasan spiritual dan dukungan sosial.
“Banyak simpatisan yang bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang dipakai untuk menyebarkan narasi strategis,” ujar Dr. Mahdi Haris, analis keamanan regional.
Reaksi Netizen: Dari Teori Konspirasi hingga Tuntutan Audit Peserta
Isu dugaan keterlibatan intelijen memperluas spektrum reaksi netizen.
Tagar #AuditPesertaMissIndonesia mulai ramai diperbincangkan, menuntut transparansi panitia dalam menelusuri rekam jejak peserta sejak awal seleksi.
Beberapa tokoh publik juga menyuarakan kekhawatiran bahwa kasus ini bisa berulang bila penyaringan peserta tidak diperketat.
“Ada yang harus bertanggung jawab, jangan sampai kompetisi nasional justru dimanfaatkan oleh narasi asing,” kata aktivis digital Dina Afwan.
Namun tak sedikit pula yang menganggap tudingan agen asing sebagai bentuk islamofobia balik dan paranoia berlebihan.
Ancaman Reputasi: Ajang Nasional dalam Sorotan Internasional
Kasus Merince bukan hanya menjadi urusan internal panitia, tapi telah menjadi perbincangan di forum-forum internasional pecinta pageant.
Beberapa media luar negeri menyebut Indonesia terlalu reaktif terhadap isu keagamaan, tapi sebagian lain menyoroti pentingnya menjaga independensi budaya lokal dari pengaruh asing.
Dengan Miss World 2025 di depan mata, insiden ini bisa mengubah pandangan dunia terhadap seleksi kontestan Indonesia.
Jika tidak ditangani dengan transparansi, Miss Indonesia berpotensi dicurigai sebagai ajang yang mudah dimanipulasi oleh agenda ideologis.












