BisnisEnergi

MIND ID Hitung Ulang Proyek DME, Fokus ke Grafit Baterai

75
MIND ID Hitung Ulang Proyek DME, Fokus ke Grafit Baterai
MIND ID menilai proyek hilirisasi DME belum ekonomis dan condong memilih konversi batubara ke grafit sintetis untuk mendukung ekosistem baterai kendaraan listrik.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Holding BUMN sektor pertambangan, Mining Industry Indonesia (MIND ID), tengah meninjau ulang kelayakan proyek hilirisasi batubara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Penilaian ini mencuat setelah hasil simulasi menunjukkan bahwa keekonomian proyek DME masih belum tercapai jika dibandingkan dengan harga LPG impor dari Saudi Aramco.

Harga LPG Jadi Faktor Penentu Keekonomian Proyek DME

Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID, Dilo Seno Widagdo, mengungkapkan bahwa harga LPG dari Aramco masih berada di bawah titik impas keekonomian untuk proyek DME.

Baca Juga: Pemerintah Bangun Kilang BBM 1 Juta Barel, Danantara Siap Dukung Investasi

Menurut Dilo, agar proyek DME layak secara ekonomi, harga LPG impor harus berada di atas US$ 1.000 per metrik ton (MT). Namun, saat ini harga LPG Saudi Aramco masih berkisar di angka US$ 615–625 per MT.

“Kalau harga masih di bawah US$ 800 per MT, maka batubara hanya akan dihargai US$ 16 per ton. Ini tentu sangat tidak ideal bagi keberlanjutan proyek,” jelas Dilo, Kamis (17/4/2025).

Kondisi ini membuat MIND ID mempertimbangkan kembali prioritas strategis dalam hilirisasi batubara, termasuk kemungkinan mengalihkan fokus dari DME ke komoditas lain yang memiliki prospek jangka panjang lebih menjanjikan.

Baca Juga: Strategi Baru Hilirisasi Batu Bara: Pembiayaan Nasional Berperan Vital

Hilirisasi Grafit Dinilai Lebih Prospektif

Dibandingkan DME, MIND ID justru melihat potensi besar pada hilirisasi batubara menjadi grafit sintetis, yang merupakan komponen utama dalam anoda baterai lithium-ion (Li-ion) kendaraan listrik (EV).

Dilo menyebut bahwa dari sisi pasokan, teknologi, dan pasar, hilirisasi ke grafit lebih mudah dikendalikan dan menjanjikan dalam jangka panjang.

“Dari sisi supply tersedia, teknologi terbukti, capex bisa dimanage, dan market-nya jelas. Ini jauh lebih realistis dibandingkan DME,” paparnya.

Keputusan ini sejalan dengan visi strategis MIND ID untuk berperan aktif dalam mendukung pertumbuhan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional, alih-alih substitusi LPG.

Baca Juga: Kinerja Emiten MIND ID 2024 Merosot, Dividen Masih Menarik

“Fokus kami bukan sekadar gas substitusi LPG, tapi mendukung industri strategis masa depan seperti EV battery,” tambah Dilo.

Nasib Proyek DME Masih Menunggu Kepastian Offtaker

Sementara itu, agar proyek DME tetap berjalan, MIND ID menekankan pentingnya adanya offtaker atau pembeli gas DME secara pasti. Hal ini menjadi krusial untuk menjamin keberlanjutan proyek dari sisi permintaan pasar.

Baca Juga: MIND ID Siapkan PLTU Bukit Asam (PTBA) Jadi Andalan Sumatera

Sebelumnya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota holding MIND ID yang ditunjuk menggarap proyek DME, telah menyatakan kesiapannya melanjutkan proyek tersebut apabila manfaat ekonominya melebihi risiko yang ditanggung perusahaan.

“Tinggal nilai keekonomiannya yang kami bicarakan detail dengan pemerintah, termasuk offtaker-nya,” kata Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail.

Baca Juga: Kinerja Emiten MIND ID 2024 Merosot, Dividen Masih Menarik

Sebagai informasi, proyek hilirisasi batubara menjadi DME merupakan satu dari 21 proyek hilirisasi tahap pertama yang diprioritaskan pemerintah di bawah koordinasi Satuan Tugas Hilirisasi.

Namun hingga kini, skema keekonomian proyek masih menjadi tantangan utama, terutama jika dibandingkan dengan efisiensi pembelian LPG dari pasar internasional.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version