Geser Kebawah
KomoditasPasar

Minyak Brent Capai USD 82, Rekor Tertinggi sejak 2024

116
×

Minyak Brent Capai USD 82, Rekor Tertinggi sejak 2024

Sebarkan artikel ini
minyak brent capai usd 82 rekor tertinggi sejak 2024 kompres
Harga minyak Brent naik +2,64% ke USD 82,03/barel, tertinggi sejak Agustus 2024. Simak analisis lengkap dampaknya bagi pasar global dan emiten migas Indonesia.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak dunia kembali menguat, dengan minyak Brent untuk kontrak Maret 2024 mencatat kenaikan +2,64% ke level USD 82,03 per barel pada perdagangan Rabu malam (15/1).

Angka ini merupakan level tertinggi sejak Agustus 2024, menunjukkan dinamika pasar yang terus dipengaruhi oleh berbagai faktor global.

Sponsor
Iklan

Penurunan Stok Minyak Mentah AS Jadi Pemicu Utama

Kenaikan harga minyak didorong oleh laporan penurunan signifikan pada stok minyak mentah AS. Berdasarkan data terbaru, stok minyak mentah AS turun sebesar 2 juta barel ke level 412,7 juta barel per 10 Januari 2024. Angka ini jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan penurunan sebesar 992.000 barel.

Penurunan stok ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk:

  • Net Impor Minyak AS Turun: Net impor minyak mentah AS mengalami penurunan signifikan sebesar 1,3 juta barel per hari (bpd) menjadi 2,05 juta bpd.
  • Ekspor Minyak AS Naik: Sebaliknya, ekspor minyak mentah AS meningkat sebesar 1 juta bpd, mencapai level 4,08 juta bpd.

Data ini mencerminkan adanya peningkatan permintaan global terhadap minyak mentah AS, sekaligus membatasi pasokan domestik yang tersedia.

Dampak Sanksi AS terhadap Minyak Rusia

Faktor lain yang turut menopang kenaikan harga minyak adalah potensi gangguan pasokan global akibat sanksi baru yang diberlakukan pemerintah AS terhadap sektor minyak Rusia. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menekan ekonomi Rusia di tengah ketegangan geopolitik yang berlangsung.

Sanksi tersebut memengaruhi perdagangan minyak Rusia, mengurangi pasokan minyak mentah ke pasar global, dan mendorong harga minyak lebih tinggi. Namun, detail lebih lanjut mengenai dampak jangka panjang dari sanksi ini masih terus dipantau oleh para pelaku pasar.

Gencatan Senjata Israel-Hamas Membatasi Kenaikan Harga

Di sisi lain, pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada Rabu (15/1) sedikit membatasi kenaikan harga minyak. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengungkapkan bahwa rincian gencatan senjata sedang dalam tahap finalisasi dan akan mulai berlaku efektif pada Minggu (19/1).

Meski konflik Timur Tengah sering kali memberikan tekanan terhadap harga minyak akibat potensi gangguan pasokan, gencatan senjata ini memberikan sinyal positif bagi stabilitas kawasan, sehingga membatasi potensi kenaikan harga lebih lanjut.

Implikasi bagi Emiten Migas Indonesia

Kenaikan harga minyak global ini diproyeksikan memberikan sentimen positif jangka pendek bagi emiten produsen migas dan penunjang migas di Indonesia. Beberapa emiten yang berpotensi diuntungkan meliputi:

  • Medco Energi Internasional (MEDC): Sebagai salah satu produsen minyak dan gas terbesar di Indonesia, MEDC diharapkan meraih manfaat langsung dari kenaikan harga minyak.
  • Energi Mega Persada (ENRG): Emiten ini juga diperkirakan akan mendapatkan keuntungan dari meningkatnya harga jual minyak mentah.
  • Wintermar Offshore Marine (WINS): Penyedia jasa pendukung operasi migas ini dapat melihat peningkatan permintaan seiring dengan aktivitas eksplorasi yang meningkat.
  • Elnusa (ELSA) dan Logindo Samudramakmur (LEAD): Kedua perusahaan ini juga diperkirakan mendapat sentimen positif akibat kenaikan harga minyak.

Prospek Pasar Minyak ke Depan

Meskipun kenaikan harga minyak ini memberikan dampak positif bagi emiten terkait, pasar tetap harus mencermati perkembangan lebih lanjut, terutama terkait:

  1. Stok Minyak Mentah AS: Perubahan pada stok mingguan akan terus menjadi indikator penting.
  2. Dinamika Geopolitik: Ketegangan geopolitik, termasuk perkembangan di Rusia dan Timur Tengah, akan memengaruhi pasokan minyak global.
  3. Kebijakan OPEC+: Keputusan OPEC+ terkait produksi minyak dapat menjadi faktor penentu arah harga minyak ke depan.

Dengan faktor-faktor tersebut, investor di sektor energi perlu tetap waspada dan mengambil keputusan berdasarkan analisis yang komprehensif.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.