HeadlineKomoditasPasar

Minyak Melonjak Usai Israel-Iran Saling Serang

66
Minyak Melonjak Usai Israel-Iran Saling Serang
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 7% usai konflik militer Israel-Iran picu kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah.

Ketegangan Israel-Iran Bakar Harga Minyak Dunia

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada Jumat (13/6/2025), dipicu ketegangan militer antara Israel dan Iran yang meningkat tajam. Pasar global langsung bereaksi terhadap risiko terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Brent ditutup melesat 7,02% atau US$ 4,87 ke US$ 74,23 per barel, setelah sempat menyentuh US$ 78,50. Itu adalah level tertinggi sejak Januari 2025.

WTI juga menguat signifikan sebesar 7,62% atau US$ 4,94 menjadi US$ 72,98 per barel. Harga intraday WTI sempat mencapai US$ 77,62, tertinggi sejak 21 Januari.

Serangan Israel ke Iran Jadi Titik Pemicu

Israel melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk pangkalan militer dan pabrik rudal. Pemerintah Israel menyebut ini sebagai langkah awal untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Iran langsung membalas dengan janji akan meluncurkan serangan besar sebagai respons. Beberapa jam setelah pasar tutup, rudal Iran dilaporkan menghantam Tel Aviv.

Ledakan juga terdengar di selatan Israel, memicu kepanikan baru atas potensi konflik yang lebih luas.

Presiden AS Donald Trump turut menyampaikan peringatan kepada Iran. Ia mendesak kesepakatan nuklir segera dicapai agar serangan lanjutan yang lebih destruktif dapat dihindari.

Infrastruktur Minyak Jadi Taruhan Utama

Meski belum ada serangan ke fasilitas energi utama, para analis menyoroti kerentanan kawasan. Pulau Kharg, yang menampung 90% ekspor minyak Iran, masih aman, namun posisinya sangat strategis.

Ben Hoff dari Societe Generale memperingatkan kemungkinan serangan ke infrastruktur energi bisa menjadi balasan lanjutan. “Jika satu pihak menyerang energi, pihak lain bisa membalas dengan logika yang sama,” tegasnya.

Pakar dari JPMorgan menambahkan, potensi pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran bisa menjadi bencana ekonomi bagi negeri itu sendiri. Jalur ini penting bagi 20% ekspor minyak dunia.

Iran sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk menyalurkan minyak ke pelanggan utama seperti China. Risiko kehilangan akses jalur ini bisa menjadi bumerang politik dan finansial.

Gejolak Pasar Global Tak Terelakkan

Tak hanya harga minyak, ketegangan ini juga menghantam pasar keuangan dunia. Bursa saham global tertekan hebat di tengah lonjakan volatilitas dan kekhawatiran geopolitik.

Investor global bergegas mencari lindung nilai di aset aman. Harga emas melonjak, sementara permintaan dolar AS dan franc Swiss ikut meningkat.

Reli harga minyak ini tercatat sebagai yang terbesar sejak lonjakan pada awal 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina. Saat itu pula, krisis pasokan global mengguncang hampir semua sektor ekonomi dunia.

Kondisi geopolitik yang memburuk kembali memperlihatkan betapa pasar energi sangat rentan terhadap konflik bersenjata.

Ketidakpastian terus membayangi, dan pelaku pasar masih mencermati kemungkinan serangan lanjutan ke fasilitas minyak strategis. Jika itu terjadi, lonjakan harga berikutnya bisa lebih tajam dan berdampak ke seluruh lini ekonomi dunia.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version