Geopolitik & Diplomasi Dagang Guncang Harga Minyak Global
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak dunia melonjak hingga 3% pada Rabu (2/7/2025), di tengah mencuatnya ketegangan geopolitik Iran dan dinamika dagang baru antara Amerika Serikat dan Vietnam.
Pasar komoditas kembali dipanaskan oleh keputusan Iran yang menghentikan kerja sama penuh dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Langkah ini menjadi titik balik serius dalam tensi nuklir yang selama ini dianggap mereda pasca gencatan senjata dengan Israel.
Iran kini menetapkan aturan bahwa inspeksi fasilitas nuklir harus disetujui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Tuduhan Iran bahwa IAEA berpihak pada Barat menjadi sinyal keras bahwa diplomasi Timur Tengah kembali memasuki fase panas.
Di sisi lain, pasar turut digerakkan oleh berita tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan Vietnam.
Perjanjian itu memberi kepastian atas tarif ekspor Vietnam sebesar 20%, usai serangkaian negosiasi alot yang berlangsung hingga menit akhir.
Analis melihat perjanjian ini sebagai katalis bagi meningkatnya selera risiko pasar secara global.
Harga Brent & WTI Melesat, Tapi Dibayangi Stok Minyak AS
Harga minyak Brent naik US$ 2 ke level US$ 69,11 per barel.
Sementara itu, minyak mentah WTI melonjak US$ 2 menjadi US$ 67,45 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah Brent selama seminggu terakhir tertahan di kisaran US$ 66,34–69,21 per barel.
Faktor utama penggeraknya adalah potensi risiko pasokan dari Timur Tengah yang kembali menjadi perhatian.
Namun, lonjakan harga tidak berlangsung tanpa hambatan.
Pasar dikejutkan oleh laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) tentang naiknya stok minyak domestik.
Data menunjukkan penambahan 3,8 juta barel, jauh berbanding terbalik dari prediksi penurunan 1,8 juta barel.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa permintaan dalam negeri AS tidak setinggi ekspektasi saat musim liburan musim panas.
Konsumsi bensin bahkan tercatat hanya 8,6 juta barel per hari, turun drastis dari batas sehat 9 juta barel menurut pelaku pasar.
Risiko Geopolitik: Iran, Israel, dan Narasi Ketidakpastian Energi
Ketegangan nuklir Iran kembali menempatkan Timur Tengah di poros utama penggerak harga minyak global.
Langkah Iran yang membatasi akses IAEA dinilai sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan internasional yang terus meningkat.
“Pasar sedang menghitung ulang premi risiko geopolitik,” kata Giovanni Staunovo dari UBS.
Meski belum terjadi gangguan pasokan nyata, pasar global merespons secara proaktif terhadap sinyal ancaman tersebut.
Situasi ini semakin kompleks karena muncul persepsi bahwa konfrontasi diplomatik bisa berujung pada intervensi militer.
Pasar minyak sering kali bereaksi bukan terhadap realisasi risiko, tapi terhadap persepsi dan potensi ketidakpastian.
Perjanjian AS–Vietnam: Tarik-Menarik Tarif dan Reposisi Pasar
Kesepakatan dagang AS dan Vietnam menjadi narasi positif yang memperkuat ekspektasi pemulihan perdagangan.
Dengan tarif 20% yang kini disepakati, pelaku pasar menganggap bahwa potensi perang dagang lanjutan dapat diminimalisasi.
Menurut analis Ritterbusch and Associates, kesepakatan ini memperbaiki kepercayaan pelaku pasar atas kestabilan rantai pasok global.
Efek langsung dari perjanjian ini memang belum menyentuh pasokan energi.
Namun, secara psikologis, selera risiko yang meningkat turut mendorong permintaan aset energi seperti minyak mentah.
Konteks ini penting karena sektor energi sangat sensitif terhadap dinamika kebijakan tarif dan proteksionisme.
OPEC+ dan Respons Pasar: Ekspor Saudi Naik, Tapi Harga Tetap Responsif
Sementara tensi geopolitik dan diplomasi dagang membentuk lapisan pertama sentimen, faktor fundamental tetap memberi tekanan.
Rencana OPEC+ menambah pasokan 411 ribu barel per hari pada Agustus sudah diantisipasi pasar sejak awal.
Empat sumber internal menyebut penambahan tersebut bersifat berulang dan konsisten sejak awal tahun.
Arab Saudi tercatat meningkatkan ekspor minyak sebesar 450 ribu barel per hari pada Juni dibandingkan Mei.
Namun, ekspor keseluruhan OPEC+ sejak Maret justru cenderung datar, menandakan kontrol pasokan masih dijaga ketat.
Menurut Priyanka Sachdeva dari Phillip Nova, musim panas akan mendorong permintaan energi naik secara musiman.
Kombinasi antara suplai terkendali dan permintaan musiman ini akan membuat harga tetap responsif terhadap ketegangan geopolitik.
Suku Bunga The Fed dan Harapan Baru Pemulihan Permintaan
Faktor lain yang ikut mempengaruhi dinamika harga adalah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed.
Data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Kamis (4/7) menjadi indikator utama bagi kemungkinan penurunan suku bunga.
Tony Sycamore dari IG menyebut suku bunga lebih rendah dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi AS.
Dampaknya akan terasa pada peningkatan permintaan energi secara agregat dalam beberapa bulan ke depan.
Apabila sinyal pemangkasan suku bunga semakin kuat, harga minyak berpotensi kembali menembus batas psikologis US$ 70 per barel.
Namun, ketidakpastian terhadap inflasi dan permintaan domestik tetap menjadi penghalang utama.
Harga minyak kini memasuki fase volatilitas tinggi, dengan tiap narasi global punya kekuatan untuk menggerakkan pasar secara cepat dan tajam.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







