Geopolitik dan Data Ekonomi Bawa Minyak ke Level Tertinggi Sepekan
NEW YORK, BursaNusantara.com – Harga minyak dunia kembali menguat tipis pada Jumat (15/8/2025), menembus level tertinggi sepekan, di tengah sorotan pasar terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memberi peringatan keras kepada Rusia terkait proses perdamaian Ukraina.
Minyak mentah Brent ditutup naik 16 sen atau 0,2% ke US$67,00 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 14 sen ke US$64,10 per barel.
Sinyal Politik dari Alaska
Kenaikan harga terjadi menjelang pertemuan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, yang membahas gencatan senjata sebagai agenda utama. Ancaman “konsekuensi” jika Rusia menghalangi kesepakatan mempertegas risiko pasokan, mengingat konflik Rusia–Ukraina selama ini membatasi ekspor minyak Rusia ke pasar global.
Meski Trump menyatakan optimisme bahwa Rusia siap mengakhiri perang, pasar tetap menilai risiko geopolitik masih tinggi, menjaga harga minyak tetap bertahan di zona positif.
Jepang Dorong Optimisme Permintaan
Dari sisi fundamental, data ekonomi Jepang menjadi katalis tambahan. Ekonomi Negeri Sakura tumbuh 1,0% secara tahunan pada kuartal II-2025, melampaui ekspektasi 0,4%. Secara kuartalan, pertumbuhan tercatat 0,3% tiga kali lipat dari perkiraan pasar.
Sebagai salah satu importir minyak mentah terbesar, ekspansi ekonomi Jepang biasanya berbanding lurus dengan kenaikan konsumsi energi, memperkuat proyeksi permintaan global.
Suku Bunga AS Jadi Penahan
Namun, euforia pasar dibatasi oleh prospek kebijakan moneter AS. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dan lemahnya data ketenagakerjaan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kebijakan moneter ketat cenderung memperlambat aktivitas ekonomi dan menekan permintaan energi, sehingga menjadi faktor pengimbang di tengah sentimen positif geopolitik dan fundamental.
Tarik-Ulur yang Masih Akan Berlanjut
Kondisi pasar minyak saat ini mencerminkan tarik-menarik antara faktor pendukung harga seperti ancaman pasokan dari konflik Rusia–Ukraina dan peningkatan konsumsi di Jepang dengan faktor penekan berupa risiko perlambatan ekonomi akibat kebijakan suku bunga tinggi di AS.
Bagi pelaku pasar, dinamika ini menandakan bahwa pergerakan harga minyak dalam waktu dekat akan sangat sensitif terhadap perkembangan diplomasi di Alaska, data ekonomi global, dan sinyal kebijakan moneter dari The Fed.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










